Ia Ingin Kau Puji Setelah Kau Halal Baginya

Kamu tidak bisa memperoleh simpati semua orang dengan hartamu tetapi dengan wajah yang menarik (simpati) dan dengan akhlak yang baik. (HR.Abu Ya’la dan Al-Baihaqi).

Ia Ingin Kau Puji Setelah Kau Halal Baginya

Ia Ingin Kau Puji Setelah Kau Halal Baginya

Efek baca novel islami selalu mendapat ide segar, maka ketika kehilangan ide untuk menulis selalu mengembalikan otak untuk membaca novel penuh kisah romantisan khayalan. Akhirnya dari membaca novel islam semari senyum-senyum mengantarkan ia menulis tentang pujian. Siapa sich tidak pernah dapat pujian. Apakah pujian diperoleh dari teman, relasi, keluarga. Apakah pujian terlontarkan  sesuai realtias diri atau tidak. Meskipun pujian diperoleh terkadang membuat ragu-ragu untuk mempercayai.

Terkadang manusia menyikapi pujian beraneka ragam. Ada merasa bangga tiada tara, terkadang membuat manusia kebinggungan dan disikapi biasa-biasa saja. Biasanya orang yang berilmu dan memiliki agama. Ketika mendapat pujian lebih sering merendahkan diri dan malu ketika dipuji karena merasa masih banyak aib-aib yang menempel dalam jiwanya, hanya saja Allah selalu menutup aib tersebut sehingga terlihat orang baik dihadapan manusia. Berharap kita termasuk katagori orang yang biasa-biasa saja ketika dapat pujian bukan sebalik sombong maupun bertepuk dada sebab diatas langit ada langit. Dan jangan pula pelit memberi pujian kepada meraka yang berhasil dalam segala sector karena itu adalah bentuk rasa persaudaraan maupun kekeluargaan. Sebab menurut analisa dangkal, jikalau ada manusia pelit memberi pujian pada orang lain bisa jadi hati penuh rasa kebencian, dengki, iri dan dendam. Hendaklah kamu saling memberi hadiah (pujian). Sesungguhnya pemberian hadiah itu dapat melenyapkan kedengkian (HR. Tirmidzi dan Ahmad).

Bahkan ada pula yang memuji memiliki tujuan berbeda. Ada yang memuji benar-benar ikhlas maupun cinta. Tetapi tidak sedikit yang memuji atas faktor sungkam, atas faktor  keinginan (ada maunya) dan faktor ingin mengambil hati seseorang. Ayooo, sering memuji atas dasar apa!!! Tidak ada yang salah tentang memuji orang, toh dengan pujian bisa membuat orang tersenyum, membahagiakan dan memotivasi. Dan pujian adalah bentuk pengakuan dan penghargaan yang tulus akan kebaikan kepada orang yang memiliki nilai tambah baik dari sisi fisik, sisi ilmu, sisi financial, sisi prestasi dan sisi kebaikan.

Biasanya kita sering dapat pujian dari siapa!!! Mikir panjang….janggggg!!!!. Ada baiknya pujian diperoleh  dari orang terdekat mislanya dari orang tua, saudara, suami, istri, anak dan bukan berarti dari orang lain tidak boleh mendapat penghargaan. Apalah artinya pujian dari orang lain ternyata dalam lingkaran terdekat tidak mendapat pujian. Padahal yang lebih tahu siapa kita sesungguhnya adalah keluarga karena keluarga mengetahui perilaku kita di backstate, sebab  perilaku dibelakang panggung lebih ilmiah dibanding berada di ruang public lebih banyak pencitraan ditujuki.

Seandainya bagi yang lanjang (gadis atau bujangan) ada seseorang memuji dari segi fisik, ilmu, prestasi dan financial. Tentu ada maksud atau tujuan tertentu “bukan berpikir negative thinking” tapi begitulah adanya. Bagaimana dengan kalian, lebih suka dipujia oleh orang lain atau orang halal bagimu. It’s your choice frends…”tentu ingin dipuji oleh pasangan hidup”.

Jangan engkau puji  sebelum kau halal bagi seseorang karena pujian yang dilontarkan mungkin tidak pernah dipercayai, beranggapan itu hanya cara setan meluluh hati ini, cara setan menyebak hati jatuh pada hal tidak diperkenaankan, bagaimana pun cara pujian disampaikan tidak akan merubah  sikap dan atas pujian pula mengalau hati sesorang untuk menyandarkan hati.

Untuk itu jangan kau berani memuji. Biarlah pujian dari luar lebih berkaitan prestasi sedangkan pujian dari fisik, kebaikan, keshalihan dan kecantikan cukup dari orang yang sudah halal bagi kita. Baginya pujian yang murni penuh cinta adalah pujian dari orang halal baginya. Menurut bisik-bisik tetangga bahwa pujian dari orang yang sudah halal bagi kita memberi pengaruh signifikan terhadap kehidupan, prestasi dan itu adalah benar-benar penghargaan. Selain itu, pujian Anda terhadap pasangan adalah wujud penghargaan dan respect bagi pasangan, tentu menjadi semangat dan bergairah membahagiakan keluarga.

Bagi kita sering memberi pujian, tahanlah pujian tersebut dan berikanlah pujian pada meraka yang berhak memperoleh yaitu pada istri, suami, anak, maupun keluarga. Jangan-jangan pujian itu tidak pernah dilontarkan pada keluarga. Sedangkan bagi sudah memiliki belahan hidup berbahagialah selalu mendapat pujian dari yang sudah halal karena masih banyak diluar sana ingin mendapat pujian dari pasangan tapi tidak diraih. Dan mungkin yang mimiliki pasangan juga tidak pernah dihargai dengan pujian, melainkan mendapat cacian atau merendah pasangan. Bisa jadi kegersangan berumah tangga, indikasi ketidak harmonisasi  dan tidak adanya musim semi dalam keluarga karena tidak ada rasa saling memuji. Melalui pujian akan menkokoh bahtera rumah, seiring dengan hadist bahwa “senyummu kewajah saudaramu adalah sodaqoh” (Mashabih Assunnah). Pada akhirnya pujilah pasang hidup dengan cinta dan senyuman.

Menabur Cinta Dengan Kata: “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: