Benarkah Pejabat Lebih Takut Media Dari Pada Tuhan

“Kami tidak mengangkat orang yang berambisi berkedudukan” (HR.Muslim)

Benarkah Pejabat Lebih Takut Media Dari Pada Tuhan

Benarkah Pejabat Lebih Takut Media Dari Pada Tuhan

Menjadi seseorang dihargai, disengani, jaminan hidup yang layak, mendapat fasilitas secara gratis dan relasi dimana-mana adalah impian setiap orang. Manusia berlomba-lomba meraih posisi tersebut dengan berbagai cara. Mulai dengan cara berkompetitif secara ideal, dengan cara jilat atau sikat sana-sini, dengan cara menipu berbagai pencitraan, memanfaatkan relasi dan terkadang jalan harampun ditempuhkan. Betapa posisi pejabat itu begitu wooww dihati manusia. Padahal menjadi pejabat dibutuhkan kesabaran yang tinggi karena setiap kebijakan atau kegiatan dilakukan terkadang direspon negative dan lebih mengeri lagi akan memperoleh cemoohan oleh pihak tertentu. 

Realitasnya untuk menjadi pejabat tidak begitu mudah, harus menempuh jalan yang terjal, harus menempuh panas dingin, harus menjalani jalan yang berliku-liku, harus menikmati ujian-ujian dengan berbagai level, harus ikhlas mengalami hinaan ataupun fitnah, harus memiliki kesabaran tiada batas, harus rela bergadang dan ternyata untuk menjadi pejabat yang proposional harus diawali dengan niat serta didukungan dengan skill, relasi ataupun dana yang memupuni. Sayangnya ketika menjadi pejabat membuat manusia lupa diri bagaimana sulit meraih posisi tersebut, sibuk pencitraan dan aturan Tuhan pun terkadang disingkirkan.

Namun menjadi pejabat dengan cara tidak benar, tidak jujur, dan tidak halal tentu lambat cepat akan terlihat, akan terbongkar dan tidak bertahan begitu lama.  Tetapi kini semakin hari masyarakat dihebohkan dengan permasalahan pejabat yang bermasalah, yang sering ditontoni melalui tayang elektoronik maupun non elektronik. Akhirnya posisi yang baru diduduki mengantar pada hal tidak ingin (Red: penjara). Begitulah jika cara ditempuh tidak benar lambat laun akan terlihat mana yang potensial, mana yang abal-abal dan  mana imitasi. Dapat dikonslusikan bahwa menjadi pejabat mampu menumpukan dosa-dosa maupun pahala. Bahayanya jika menjadi pejabat lebih banyak menumpukan dosa dibanding kebaikan akan menjebakan pejabat pada kehancuran. “Jabatan (kedudukan) pada permulaannya penyeselan, pada pertengahan kesengsaraan (kekesalan hati) dan pada akhirnya azab pada hari kiamat” (HR.Ath-Thabrani).

Permasalah yang disandung berbagai probelamatikan misalnya permasalahan korupsi yang sudah menjadi langganan bagi pejabat dan persilingkuhan yang silih berganti. Ketika terjadi probelematika, tiba-tiba pejabat pura-pura lupa, pura tidak tahu maupun kenal, terjadi pribadi pendiam dan hilang tenggelam bumi entah kemana. Ketika terjadi permasalahan yang ditakuti adalah media massa. Jika kejelekaan sudah diketehui media, kerasa hidup sudah berakhir dan berbagai cara ditempuh agar permasalahan tersebut tidak dipublish atau diangkat sebagai headline news di media stream, media cetak maupun web berita. Akhirnya pejabat mulai menyodorkan amplop pada media-media demi akuntabilitas dan pencitraan. Maklum era demokrasi liberal lebih mementingkan pencitraan dihadapan manusia dibanding didepan Tuhan.

Tidak heran, antara pejabat dan media saling membutuhkan. Media membutuhkan berita sedangkan pejabat membutuhkan media untuk mempublishkan kegiataan yang dijalankan. Bahkan saat ini media juga sudah dikuasi oleh pejabat tertentu. Tidak bisa disalahkan juga media dikuasi oleh pejabat tertentu, terpenting media tersebut bisa memberi informasi yang seimbang, berfungsi mengawasi roda pemerintahan dan independent. Seakan-akan media saat ini jauh dari fungsi sesungguhnya. Ibaratnya sebagai humas partai, humas kelompok, humas bagi personalitas dan humas bagi pejabat tertentu.

Perlu kita pertanyakan, apakah benar pejabat lebih takut dengan media dibandingkan takut dengan Tuhan? Jikalah benar pejabat lebih takut media dari pada Tuhan, tentu sangat ironi. Padahal takut dengan Allah akan mengantarkan manusia sebagai pribadi yang takut mengambil hak orang lain, mengantarkan manusia pribadi tanggung jawab, menjadi pribadi yang jujur, menjadi pribadi pribadi shalih. Atau bisa jadi kenapa pejabat lebih takut media dari Tuhan karena beranggapan Tuhan tidak melihat apa yang dilakukan atau bisa jadi terkikisnya iman dalam hati. Apakah perilaku seperti itu karena hidup dizaman liberalisme, apakah tersebut dianggap lumrah maupun pembenaran karena semakin banyak pejabat melakukan hal yang sama.

Tentu tidak semua pejabat perilaku seperti itu masih ada sebagian juga pejabat yang berhati baik, masih ada sebagian pejabat yang jujur, masih ada sebagian  pejabat yang benar-benar mikir perubahan bagi masyarakat, masih ada pejabat yang memperoleh posisi prestisus atas keahlian dan masih ada pejabat takut dengan Tuhan.

Bagi bercita-cita menjadi pejabat public, sedangkan berprofesi sebagai pejabat, ada baiknya tanamkan rasa takut pada Tuhan. Senada dengan HR.Ath-Thobari bahwa “Iman paling afdol ialah apabila kamu mengetahui bahwa Allah selalu menyertaimu dimanapun kamu berada”. Jika sudah menanamkan rasa takut pada Tuhan, ada alaram ketika akan melakukan kesalahan dan berpikir beribu kali untuk mencurangi. Bahayanya ketika iman tidak ada dalam hati, apalagi ketika menjadi penjabat tapi low iman, maka akan mempermudah mengambil hak orang lain atau merugi orang lain. Sedangkan tiada lurus iman seorang hamba sehingga lurus hatinya, dan tiada lurus hatinya sehingga lurus lidahnya. (HR. Ahmad).

 Menabur Cinta Dengan Kata: “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: