Kebahagian Berada Di Hati Kita

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Luqman: 12)

Kebahagian Berada Di Hati Kita

Kebahagian Berada Di Hati Kita

Setiap orang memandang kebahagian berbeda-beda, ada yang mengatakan kebahagian jika memiliki harta berlimpah ruah, adapula mengatakan kebahagian bila meraih status atau jabatan tertentu bahkan ada pula mengungkapkan bahwa kebahagian mampu meraih istri cantik, dikenal banyak orang (Famous) dan masih banyak lagi indicator kebahagian dalam hidup manusia tergantung level keimanan seseorang melihat dunia seperti apa.

Jika melihat peristiwa mengharu biru dari kalangan artis internasional maupun nasional yang mengakhir hidup dengan tragis seperti Robbin Williams, Adolf Merckle, Michael Jakson, G Vargas dan orang terkenal lainnya, jika dikaji secara logika sesungguhnya tidak mungkin mengakhir kehidupan seperti itu karena secara materi diberi keberkahaan financial yang sangat pantastis bahkan bisa membeli rumah termahal bak istana dimanapun, ingin jalan kemanapun tidak ada masalah dengan keuangan ibarat kata harta yang dimiliki mampu menghidupkan tujuh keterunan. Kemudian masalah keterkenalan, siapa yang tidak mengenal mereka yang telah menoreh prestasi yang sangat diagung-agungi oleh setiap orang.

Tentu kita bertanya kenapa mereka mengakhir hidup begitu tragis! Apa yang tidak mereka peroleh? Apa yang tidak mereka nikmati? Kebahagian apalagi tidak bisa mereka raih? Benarkah meraka tidak mensyukuri nikmat Allah berikan? Atau bisa jadi iman yang begitu hampa? Atau mereka tidak merasa bahagia atas harta, tahta dan wanita diperoleh? Sehingga tidak bisa tersenyum, tidak bisa berekspresi dengan bebas karena takut citra mereka ternodai atau mungkin hidup dihabis dengan mengejar aksesoris dunia sehingga waktu untuk mendekati diri padaNya sangat minim bahkan untuk menikmati harta tidak sempat sebab hari-hari dipenuhi kerja-kerja-kerja untuk menumpuk harta!!!.  Sungguh begitu sedikit kita mensyukuri hidup pada akhir dari kehidupan membuat orang terkaget-kaget, kok bisa mengakhir hidup seperti itu “Katakanlah: “Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati.” (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur” (QS. Al Mulk: 23).

Lihat pula disekitar kita, mereka yang hidup pas-pasan, makan apa adanya, hidup jauh dari kesejahteraan tetapi begitu jarang kita menemui mereka mengakhir hidup tragis. Padahal kehidupan mereka sungguh begitu sempit, sungguh sangat memperhatikan, dan siapapun menatap akan menetes air mata. Apakah mereka mensyukuri hidup? Bisa jadi itu indikasi bahwa mereka menikmati hidup dengan syukur serta terus berusaha. Walaupun ikhtiar diupayakan tetap stagnan atau tanpa perubahan namun meraka bisa tersenyum dengan lega,  bisa merasa kebebesan tanpa ada rasa pengkekangan, bisa bersujud dengan tenang dihadapan Allah secara ikhlas. Kenapa bisa tersenyum??? tentu karena mereka mensyukuri apa diraihkan. “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7).

Kisah tersebut kita berpikir dan mengambil hikmah bahwa kebahagian tidak segalanya diukur dari uang, harta, jabatan dan wanita. Kebahagian sesungguhnya adalah ketika bisa mensyukuri setiap kejadian dalam kehidupan kita Seperti artikel pernah dibaca bahwa kebahagian itu milik mereka-mereka yang bersyukur.  Jadi mereka yang tidak mensyukuri nikmat Allah tentu akan mengalami gejolak jiwa, terserang penyakit yang bisa melahirkan penyakit kronis bahkan mengakhir hidup dengan tak terduga. “Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.” (QS. Az Zumar: 66). Insha Allah syukur mengantarkan kita pada kebahagian yang hakiki, dan syukur pula membuat kita semakin rindu untuk sujud padaNya, syukur jualah menjadi kita orang-orang selalu melihat hidup tidak selalu keatas tetapi berbagi dengan sesama.

Advertisements

One Response

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: