TRen Tim Merumus kata-kata

Bismillah…

Trem Tim penulis kata-kata

Trem Tim penulis kata-kata

Sedang asyik mengajar dikampus semari melihat mahasiswa pratikium teknologi audio visual semari membuka e-paper Koran nasional lagi heboh tentang penulis opini ganda dikoran nasional yang bergengsi karena tidak sembarang orang yang biasa tembus dikoran, bahkan tulisan yang dipublish rata-rata memiliki sudut pandang sangat berpengaruh bagi masyarakat, yang menulis juga rata-rata orang yang sudah memiliki posisi pretiesius, pengalaman dan kenapa begitu susah untuk tembus dikoran nasional bergengsi tersebut sebab pesaingnya sangat banyak serta begitu susah tembus kesana disebabkan oleh fee yang woowww.

Dari tulisan tersebut akhinrya  disosial media (Facebook dan twitter) heboh kemudian tulisan tersebut juga dipublish diweb berskala nasional, local maupun web personal dan  komunitas. Kehebohan tidak hanya berhenti disana karena diblog keroyokan juga tidak kalah heboh memperdebatkan keberadaan tulisan tersebut, ada yang pro dan kontra, salah satu pengamat politik ikut mention tulisan tersebut melalui twiiter dengan twit “ini sikap yang bodoh, naïf atau terlalu jujur” melihat steatment salah satu toko yang mengatakan tidak tahu dengan tulisan tersebut padahal atas namanya, media streaming sepertinya tidak begitu mengangkat isu tersebut, biasa sudah rahasia umum karena media streaming sudah dikuasi politik tertentu sehingga untuk mengungkap khasus yang merugikan Negara atau masyarakat umum seperti social media memiliki peran sangat strategi dan mampu mengimbangi seperti tulisan yang beberapa hari yang lalu pernah menulis tentang tantang pemimpinan gelombang ketiga salah satunya yaitu social media.

Sesungguhnya TRen Tim Merumus kata-kata sebenarnya sejak dahulu sudah ada sekaliber presiden Brack Obama saja ada tim yang menulis pidato bagi presiden Amarika akan berorasi atau berpidato. Rata-rata yang memanfaatkan tim merumus kata-kata adalah para pejabat, politisi, manager, atau pejabat public lainnya. Ia sendiri pernah tergabung dalam satu komunitas yang mem-push salah satu pejabat disuatu daerah dengan tujuan adalah untuk mempopuler dan menaikan elaktabilitas pejabat tersebut melalui tulisan diterbitkan dikoran lokal. Pejabat Cuma memberi mapping ide setelah diserah pada tim untuk dirangkai seperti apa, nanti setelah selesai ada pula coordinator yang akan menyeleksi apakah tulisan tersebut sudah layak untuk dipublish atau perlu editan agar terlihat elegan bagi pembaca.

Lain hal bagi pejabat yang sudah terbiasa menulis sejak muda, mungkin menulis adalah bagian dari hidup mereka, menulis adalah hoby yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja karena dengan menulis menemukan dunia tiada batas sebab terbangun imajiner yang tidak terlihat oleh orang lain. Tetapi rata-rata pejabat menulis di Indonesia belum terlihat mungkin ada sebagian pejabat seperti bisa kita temui di web pribadi mereka.

Jika mengamati fenomena beberapa hari yang lalu, dapat dicurigai atau ditarik kesimpulan bahwa pejabat publik yang sering tulisan dipublish melalui Koran jangan-jangan bukan meraka yang menulis melainkan tim khusus atau orang dibelakang pejabat tersebut. Sangat pantas diasumsi seperti itu karena sebagai pejabat public tidak banyak waktu untuk berhadapan dengan tablet, notebook dan leptop mereka karena hari-hari habis blusukan, hari habis meeting, hari-hari habis peresmian kesana-kesini. Sebab menulis apa lagi dalam bentuk opini butuh waktu agak lama paling tidak 2Jam belum lagi mencari teori untuk menguatkan opini yang sedang ditulis dan menulis buka perkara yang mudah seperti berbicara. Dalam menulis diperlu tatanan bahasa yang indah, mudah dipahami dan menginspirasi karena tulisan ibarat senjata yang mampu menembus sejuta kepala orang yang membacanya.

Pada akhirnya, bahwa menjadi pemimpin itu benar-benar banyak tantangan, segala hal yang berkaitan dengan kehidupan mampu dijadikan sebagai serangan politik atau sebagai bahan fitna. Sebab sudah sering melihat bagaimana pejabat negeri ini diserang dengan hal yang sepele misalnya diserangan melalui gaya hidup, diserangan dengan koleksi jam tangan, diserangi dengan plagiat dan diserangi dengan wanita. Akhirnya kecoak tidak bisa berkutip dan berdalih lagi. Sungguh kejam, kompetitif di zaman kapitalisme saat ini. Jika ada yang menyerang seperti itu siapa disalahkan apakah orang menyerang atau pejabat yang tidak jujur? I don’t know because just looking attitude leader my country from picture.

BestRegard Inspirasi BeraniSukes

“Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: