Pesona nyoblos dikampung

Bismillah…

pesona nyoblos dikampung

pesona nyoblos dikampung

Sudah tiga kali mengikuti pemilihan umum secara langsung, awal memilih dulu ketika baru memasuki bangku perkuliahan. Saat itu untuk menyoblos siapa masih dipengaruh oleh orang tua, maklum saat itu belum memahami atau sadar betapa penting politik sehingga apapun kata orang tua selalu diikuti dan fenomena seperti itu masih terjadi pada pemilih pemuda yang masih beranggapan bahwa politik tidak perlu diikuti, biarlah politik hanya dibincang oleh orang tua sedangkan anak muda cukup sebagai penonton. Kemudia pemilihan kedua termasuk katagori golput (Golongan putih) bukan bermaksud ingin golput melain terkendala dengan adminstrasi karena berada diperantauan untuk menyelesaikan studi. Dan pemilu ketiga 9 april 2014 kejadian diawal nyoblos tidak terulang lagi melainkan sudah mulai memahami berpolitikan di Indonesia, sebab tiap hari dibaca, didengar dan ditulis selalu berkaitan dengan politik maupun kepimpinan. Pemilu 2014 malah menjadi kendali untuk keluarga agar memilih siapa, menjelas kenapa perlu memilih partai ditawarkan pada keluarga dan akhirnya menyoblos partai sesuai dengan ideoligis yang membawa kerbakahaan.

Demi menyoblos, bela-bela back to village agar jangan sampai golput dan sebagai masyarkat yang taat asas seharusanya menggunakan hak suara, dan ketika sampai dirumah pagi hari, tiba-tiba dapat serangan fajar. Selama ini hanya mendengar tentang serangan fajar. Tapi selasa, 8 april 2014 melihat secara nyata seperti apa serangan fajar tersebut. Bahkan tetanggapun menyambut kedatangan tim sukses yang membawa “sanggu” yang nominal untuk ukuran kabupaten sudah wajar atau lumparah. Saat melihat masyarakat dengan antusias, tertawa, sebagai bahan guyonan dan sudah terang-terangan memberi serangan fajar tersebut. Sungguh terlihat jelas bahwa calon pemimpin bangsa Indonesia kedangkalan moral dan masyarakatpun tidak jauh dari pemimpinanya yang hanya menilai sesuatu segala dengan uang…#dasar_masyarakat_duitan

Banyak alasan kenapa pemimpin memberi uang dan masyarakat mengambil uang disodor tersebut. Meskipun banyak alasan sebagai masyarakat paham agama, tidak akan mengambil amplop tersebut karena menurut ukuran agama bahwa money politik hampir setara dengan suap. Padahal sudah jelas siapa yang memberi dan menerima suap hukumnya adalah dosa. Saat mengamati fenomena nyoblos dikampung dapat disimpulkan bahwa pemilu kedepan hanya caleg beruang yang dipilih sedangkan caleg kaya ide, kaya solusi dan cerdas mungkin tidak akan dipilih oleh masyarakat. Bayangkan jika wakil rakyat diisi oleh yang tidak memiliki kecerdasan intelektual dan akhlak!!! Maka undang-undang yang dilahirkan mungkin tidak akan pro rakyat meskipun dalam janji politik komoditas pro rakyat selalu digaungkan.

Teramat banyak pelanggaran ditemui ketika menyoblos dikampung. Lebih fenomenal lagi terjadi perpecahan keluarga atau tidak saling tegur sapa gara-gara tidak dapat dukungan dari sanak keluarga. Sepertinya idealisme berpolitik didaerah susah untuk dibangun karena selain menyoblos caleg dengan uang mereka memilih caleg atas dasar kedekatan atau keluarga.

Belum lagi orang tua yang nyoblos sudah menerima uang politik tidak pahan urutan berapa caleg yang memberi uang karena semakin banyaknya menerima lembaran suara dan mungkin caleg sudah mengeluarkan uang tapi tidak memperoleh suara disebabkan masyarakat (orangtua) yang salah nyoblos.

Alhamdulillah pemilu 2014 memiliki peran sangat sentral dalam keluarga untuk mengarahi dan menjelaskan kenapa harus menyoblos mereka berdasarkan ideologis bukan atas factor uang maupun sistim kekerabatan sebab diperlemen dibutuhkan orang-orang memiliki suara lantang, memiliki visi maupun misi untuk mengembankan dakwah tidak hanya sebatas duduk bahkan tidak pernah kedengar gaungnya baik ketika turun kelapangan atau ditelevisi.

Bisa dibayangkan jika orang dipilih adalah orang tidak bisa mampu mengeluarkan pendapat, tidak memiliki ide, dan tidak memahami bagaimana berpolitikan. Bisa jadi terbawa arus, tenggelam oleh pekerjaan yang menonton dan punya andil terhadap daerah yang telah memilihnya.

BestRegard Inspirasi BeraniSukes

“Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: