Diskriminasi Informasi antara Negara maju dengan Negara berkembang

Bismillah…

Diskriminasi Informasi antara Negara maju dengan Negara berkembang

Diskriminasi Informasi antara Negara maju dengan Negara berkembang

Setiap hari informasi lahir, membludak dan overloap maka diperlukan keahlian untuk mensortikan informasi, agar informasi diperoleh akurat, relevansi dan tepat waktu. Setiap manusia membutuhkan informasi, biasanya informasi dibutuhkan berdasarkan “what you fill and what is trend today” dan setiap informasi diciptakan tidak satupun yang mampu mengikuti peredaran informasi. Untuk bisa memenuhi informasi maka manusia tidak hanya harus memiliki keahlian melain juga harus melek dengan perangkat informasi seperti melek digital, melek visual, melek computer dan melek jaringan.

Masih banyak masyarakat Indonesia belum familier dengan konsep literasi baik masyarakat berpendidikan, masyarakat awam, masyarakat kota maupun masyarakat desa. Padahal pemerintah sudah mensosialisasi dengan berbagai cara agar masyarakat Indonesia untuk menjadi manusia literasi segala bidang. Banyak alasan kenapa di Negara-negara berkembang belum memahami pentingnya literasi.

Saat masyarakat di negera berkembang ingin meningkatkan pemahaman literacy terkendala dengan tools, terkendala dengan akses memperoleh informasi dan untuk mendapat informasi harus mengeluarkan biaya cukup besar. Seperti terjadi dengan ia disuatu hari, tiba-tiba dapat kiriman artikel dengan format Pdf dengan lampiran bahwa jurnal tersebut bisa diakses secara gratis. Ketika melihat Link dikirim melalui social media begitu senang, bahagia dan semangat karena sudah mempersiapkan diri untuk mensedot (download) artikel tersebut sepuas hati dan sesuai dengan materi yang dipaparkan diruangan perkuliahan serta menambah referensi bagi dosen muda.

Dengan Bismillah membuka artikel dengan judul “Information literacy self effiency: the effect of juggling work and study”. Artikel muncul dengan abstrak, coba mencari tool yang menyediakan untuk download. Tool tersebut tersedia dengan cacatan harus membeli atau masuk keranjang belanja. Itu berarti artikel tersebut tidak bisa dibaca oleh sembarang orang atau dibaca secara Cuma-Cuma dan tidak bisa disave maupun didownload oleh seeking information.

Setelah mengalami tragedy tersebut langsung send message to my friens by facebook. Link yang dikirimkan tidak bisa disedot, padahal steatment awal mengatakan Link tersebut bisa diperoleh secara gratis tapi kenyataan berbeda.

Temanpun menjelaskan bahwa didaratan Amerika tempat kuliah S3 sekarang bisa didownload sepuasnya tanpa harus login atau membayar. Usut punya usut, faktanya artikel atau jurnal ilmiah tersebut hanya berlaku gratis bagi Negara maju sedangkan Negara baru berkembang seperti Indonesia untuk mengakses jurnal tersebut harus menjadi Member, berlangganan dengan harga sudah ditentukan.

Hemm…Segala hal didiskriminasikan. Mengira selama ini diskriminasi hanya berlaku pada sisi tertentu namun kenyatanya dalam memperoleh informasi juga terjadi diskriminasi, maka pantaslah negara berkembang untuk menyemai dalam mengakses informasi tidak bisa diseterakan dengan Negara maju. Atau bisa jadi kenapa Negara maju begitu enteng mengakses informasi karena adanya kerjasama pihak pemerintah dalam mencerdaskan bangsa, atau bisa jadi pemerintahan Negara maju memahami benar bahwa siapa yang menguasi informasi maka akan menguasi dunia.

Pantas di Negara maju perkembangan ilmu pengetahuan begitu cepat berkembang sebab difasilitasi akses informasi sangat memadai dan keterbukaan informasi public benar dirasakan segala lini sedangan di Negara berkembang seperti Indonesia ingin memajukan pendidikan begitu banyak kendala apalagi untuk membiasakan masyarakat untuk mendapat informasi secara gratis dan akuntabel. Seakan-akan di Indonesia informasi hanya diketahui segelintir orang-orang saja. Kemudian diperbara lagi dengan kondisi masyarakat yang tidak terbiasa membaca referensi bahasa inggris, tingkat membaca pun sangat rendah dengan Negara lain, dan referensi tersedia pun tidak update lagi.

Harus ada campur tangan pemerintah untuk menyediakan referensi, akses informasi secara gratis agar bisa menarik, mendorong dan memotivasi untuk terbiasa dengan literasi informasi dalam memperoleh informasi sehingga tidak ada lagi diskriminasi informasi.

BestRegard Inspirasi BeraniSukes

“Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: