Menikah gadis dan bujang kerinci; Antara tantangan dah hambatan

Bismillah…

Ketika Penulis dilanda kemalasan dan kegalauan

Ketika Penulis dilanda kemalasan dan kegalauan

Bismillah…

Dipagi yang mendung semakin betah dibalik selimut bahkan mengubah posisi tidur pun terasa berat apalagi membuka pola mata yang cemerlang, hujan begitu deras membasuhi bumi sehinga matahari sembunyi dibalik awan-awan tebal mendukung bermalas-malasan, tendengar pula bunyi gemuruh diatas genteng seakan-akan dilembar batu kerikil karena bulan januari sudah memasuki musim hujan dan tiba-tiba dapat pernyataan yang sangat menyentuh di inbox facebook. Jujur pertanyaan tersebut buat bingung sendiri, terasa kerasukan, otak beku, dan ia pun bertanya-tanya dengan pertanyaan tersebut. Apakah pertanyaan itu benar adanya atau pertanyaan itu hanya sebatas rumor yang tidak ada dasarnya maupun realitas yang terjadi.

Mengirakan pertanyaan tersebut hanya dikonsumsi oleh meraka yang berada di pulau Sumatra ternyata teman dijawa juga mengetahui gossip tersebut sehinga harus mengkonfirmasi pada alhanin tentang kebenaran apa yang didengarkan dari teman-temannya…#kaget hooohoooo

Sebagai perempuan yang terlahir di bumi kerinci tentu tidak bisa begitu saja menerima pernyataan atau rumor tersebut karena selama ini dipahami kenapa anak gadis dan bujang kerinci tidak dizinkan menikah dengan suku, daerah atau pulau lain bukan atas factor materialistic malainkan ada factor yang turun menurun diyakini maupun dipercayai hingga anak cucu. Takut anak gadis maupun anak bujang tidak kembali lagi kekampung halaman seperti contoh-contoh yang terjadi dengan meraka yang menikah dengan wilayah lain sangat jarang back to village, orang tua memikir jika usia senja meraka tidak ada yang mengurusi dan pulang kampung bisa barengan. Seakan-akan Kebiasaan menikah suka lain itu dilarang, padahal islam melarang atau diharam yang dinikahi antara lain “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan[281]; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. An Nisaa’: 23).

Bayangkan saja menikah beda desa saja begitu susah apalagi menikah dengan suku atau daerah lain, ini sudah terjadi bertahun-tahun hingga saat ini…#jadi jelas bukan kenapa orang tua sangat sulit memberi izin anak meraka menikah dengan orang lain karena masih menginginkan anak menikah dengan keluarga dekat (red: Anak sanak) maka wajarlah kalau ketemu orang kerinci face hampir mirip-mirip karena ditelusuri hinggal keakar-akarnya ternyata ada hubungan kekerabatan.

Namun tidak semua orang tua menganut paham tersebut karena pada kenyataannya dikeluarga alhanin ada bebarapa menikah dengan orang jawa maupun dengan suku lain di Indonesia. Yakin ini tidak hanya terjadi dikeluarga alhanin tentu masih banyak lagi keluarga lain dikerinci yang mengizinkan anak mereka menikah dengan wilayah atau suku lain seperti dianjurkan oleh Rasullah hendaklah menikah orang jauh yang tidak memiliki kerabat dekat atau hubungan darah…

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. Al Hujuraat: 13)

Padahal dengan menikah orang jauh bisa menambah keluarga, memperbaiki keterunan, menjauhi dari penyakit keterunan (genetic atau DNA) seperti alhanin temui meraka-meraka yang menikah dengan kerabat dekat yaitu terjadi penyakit genetic, ini harus diperhatikan secara serius bukan masalah sepele, dan setiap langkah kaki yang dilangkahkan untuk silaturahmi dengan keluarga atau mertua sudah dianggapkan sebagai pahala.

Pada kenyataannya untuk menikah gadis atau bujangan kerinci menghadapi tantang maupun hambatan!!! harus mampu meyakini calon mertua, meyakini keluarga besar, harus bertanggungjawab, berpendidikan dan beragama. Disini dibutuhkan laki-laki memiliki nyali gede bukan cemen, tidak hanya sebatas macho tetapi berani bertanggungjawab dan menyakini orangtua. EEppp tidak hanya itu agar mudah mendapat restu mertua tentu harus memiliki pondasi pendidikan dan agama karena kerinci tidak hanya dikenal sebagai wilayah memegang tradisi juga menjunjungi tinggi pendidikan maupun agama.  Jika sudah mampu meyakini calon mertua insyallah restu begitu gampang diperoleh. Sedangkan hambat yaitu harus berani mendombrak dogma atau kebiasan yang dianut oleh masyarakat kerinci yang selama ini sudah tertanam begitu kokoh dan kuat, jika menikah anak mereka maka pertimbangan utama apakah ada kaitan kerabat atau keluarga bila ada maka diutama keluarga setelah itu baru orang lain.

Jika boleh jujur sebagai anak mudah hidup dizaman perkembangan teknologi, hidup dengan native demokrasi (gelombang ketiga) dan menempuh pendidikan tertinggi tentu berharap mendapat restu agar bisa menikah dengan suku  lain tapi melihat kebiasaan selama ini seperti harus berjuang keras untuk meyakini orang tua, berani menghadapi tantang dan hambatan. Namun jika restu itu belum juga diperoleh maka harus menahan pandangan dan menyibukkan diri dalam kebaikan “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An Nuur: 30)

BestRegard Inspirasi BeraniSukes

“Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: