Ngeri-ngeri sedap menerbit buku

Bismilllah…

Di Indonesia semangat untuk menulis sudah menjamur ditengah masyarakat terlihat banyaknya anak muda memiliki blog pribadi, blog keroyokan, web, banjirnya berlombaan berbagai genre dengan hadiah sangat spektakuler memotivasi untuk menulis dan kementerian Pariwisata dan ekonomi kreatif juga mendukung anak muda untuk semakin kreatif melalui penulisan. Walaupun bangkitnya gairah menulis tapi tidak setimpal engan buku yang diterbitkan. Indonesia termasuk Negara yang paling rendah menerbit buku pertahun.

Padahal menjadi penulis merupakan  profesi sangat menjanjikan. Selain terkenal, kesejahteraan financial, dan juga ikut serta sebagai agen literasi seperti program yang sedang digombar-gambirkan oleh pemerintah. Seperti telah dilakukan oleh penulis terkenal di Indonesia antara Ippoh santosa, Andrea Hirata, Aditya dan Kang abik yang sudah merasa berkah dari menulis. Ada yang menulis dari iseng-iseng, blog akhirnya menerbit buku dan menjadi penulis hasil pengamatan atau imajinasi.

Menulis itu segampang ngomong!!! Benarkah? Ada yang menjawab iya, tidak atau ragu-ragu. Sesungguhnya menulis itu sangat gampang namun yang menerbit buku itu yang sangat susah atau ngeri-ngeri sedap. Makanya banyak penulis awal berhenti untuk menulis buku karena proses menuju kesana terkadang terasa sulit seperti dipaparkan penulis dalam kegiatan kampanye Indonesia menulis. Bahwa ketika draf buku sudah selesai maka selanjutnya adalah menerbit. Ada tiga pilihan untuk menerbit buku (1) selfpublishing, (2) major publishing dan (3) online seperti di web Http//www.nulisbuku.com

Ada hal yang harus diperhatikan bagi penulis pemula untuk menerbit buku antara lain:

1.      Lay out buku “Sangat penting” jangan diabaikan hal tersebut merupakan factor utama untuk membuat pembeli menyentuh atau membeli  buku kita

2.      Mencari penerbit “Jangan sembarangan mengirim draff buku, penulis pahami dulu krakter dari penerbit. Setiap penerbit memiliki katagori dan tujuan berbeda. Kirimlah draff buku sesuai dengan keinginan penerbit.

3.      Content person “ sebelum mengirim draf periksa dengan teliiti terutama content person dari alamat rumah, account social media (twitter, facebook, blog, instigram) dan nomor handphone jangan dianggap sepele

4.      Setelah buku dikirim sering-sering menanya atau say hello dengan penerbit buku untuk mengetahui batas terakhir konfirmasi buku kita.

5.      Jika buku telah disetujui harus hati-hati dengan kontrak kerja, setiap penerbit punya cara tersendiri dalam kerjasama. Ada penerbit kerjasama pertahun, beredisi atau bentuk lainnya. Terkadang penulis. Sebaiknya kontrak kerja win-win solution jangan sampai dirugikan

6.      Masalah marketing juga menjadi hal krusial. Jangan dianggap remeh masalah marketing. Terkadang penerbit melibatkan pada penulis untuk menjadi bagaian dari marketing dan terkadang hanya penerbit saja mendistributor buku tersebut.

Naaaahhhhh….!!! Hal itu harus diperhatikan untuk menerbit buku. Jika informasi belum lengkap atau memuaskan bagi penulis pemula Tanya rekan-rekan yang lain pernah menerbit buku untuk menambah pemahaman sekitar menerbit buku.

Akhirnya selama berkarya….!!!

BestRegard Inspirasi BeraniSukes

“Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: