Simpanan Kerap berakhir tragis

Bismillah…

simpanan berakhir tragis

simpanan berakhir tragis

Hampir sebulan tidur larut malam, entah apa yang membuat mata susah dipejamkan. Ketika mata belum bisa diajak kompromi dan melayang-layang membiasakan membaca buku atau menulis. Sudah hampir setengah halaman buku dibaca dan ternyata fokusan melihat deratan kalimat hanya sesaat bisa dinikmati. Mata lebih tertarik menatap acara televise sedang menanyangkan film “Charlie Angel” yang menceritakan tiga wanita seksi, cerdas dan berkarier sebagai agen mencari orang hilang dalam kasus sangat krusial di suatu Negara. Heran saja kok jadi hobi menonton padahal selama ini tidak pernah tergila-gila menonton segala genre.

Ketika menonton dikeheningan malam, ditemani setumpuk lembaran kerta yang siap diedit untuk dikirim salah satu penerbit, tumpukan buah-buahan yang dipetik beberapa hari yang lalu dirumah keluarga dan minuman yang menghangat tubuh saat-saat menulis.  Meskipun sudah dikeheningan malam tetap setia menulis hingga azan shubuh berkumandang.

Baru sejenak menyimak tayangan film tersebut, tertarik untuk menyelsaikan beberapa tulisan dari pengamatan, bacaan dan cerita. Mulai tema sedang panas-panas kukuh diobrolin dimana-mana. Awalnya tidak berminat mengikuti permasalahan tersebut tapi media terus membahas tentang kematian tragis dan akhirnya terdorong juga untuk membahas dari sisi lain yaitu tentang meraka-meraka menjadi simpinan. Berbicara simpanan tentu pikiran langsung tertuju pada laki-laki maupun perempuan yang sudah menjadi bagian hidup kota metropolitan terbutik meningkat perempuan atau laki-laki menjadi simpan para pria nakal dan wanita genit.

Mereka-meraka yang memiliki simpanan rata-rata teridentifikasi orang-orang yang berlimpah harta yang tidak tahu mau menghabis uang kemana karena semakin berlimpahnya harta. Meraka yang berkedudukan tinggi dan seakan-akan pejabat tinggi wajar memiliki simpanan seperti ditayangi oleh beberapa stasiun televise. Dan mereka-mereka yang bekerja sangat sibuk tiap hari bahkan untuk istirahat waktupun tidak ada sehinga merasa lumrah mempunyai simpinan karena tujuan mencari untuk dihabis maupun menyenangkan diri. Mungkin alasan meraka bertingkah atau memiliki simpanan untuk memenuhi hasrat, ketenangan jiwa dan menghilangkan penat-penat atau sebatas iseng-iseng mengikuti trend kehidupan metropolitan.

Apapun alasan mereka tersebut, dalam agama apapun tidak dibenarkan. Jelas-jelas itu berdampak social terutama keluarga. Dan ada fenomena menarik mereka sebagai simpanan. Selain mendapat financial menjulang, kebutuhan terpenuhi dan akhir dari segala itu tragis yaitu dibunuh oleh pasangan sendiri. Seperti kisah tante Hani dibunuh oleh kekasihnya yang masih muda, kemudian istri simpanan editor lembaga tertinggi Negara yang juga berakhir tragis dan jarak usia mereka berdua juga sangat jauh. Kenapa meraka yang menjadi simpinan selalu wanita cantik, laki-laki muda maupun wanita dibawah usia!!!

Tentu ketika dibunuh dengan tragis ada satu alasan maupun penyebabnya misalnya simpanan menuntut lebih, menuntut untuk mengakui kebaradaan secara Negara dan menghendaki lebih apa yang telah diberikan. Bagi wanita maupun laki-laki sekarang menjadi simpanan, hati-hati bisa jadi akan mengalami hal sama karena fakta terjadi seperti itu.

Sedang disisi lain yang menjadi simpanan dan memiliki simpanan sama-sama was-was. Ada tekanan bathin mengorogotin pikiran. Mimiliki simpanan tidak pernah membawa ketenangan. Gara-gara simpanan semua luruh lantah, keluarga berantakan, air tersebar dan karier hancur padahal menata karir tertatih-tatih namun setelah berada diposisi cemerlang begitu mudah menghancurkan, belum lagi mata sinis dari masyarakat dan vonis masyarakat pada mereka.

Walaupun terpaksa menjadi simpanan jangan banyak menuntut, berharap pada Allah untuk membuka pintu taubat, ambil wudhu mengadu pada Allah menyesali segala perbuatan tersebut. Menjadi simpanan bukan meraih kebahagian melainkan kesenangan sesaat, membuat pikiran penuh sesak dan melahirkan penyakit bathin maupun penyakit social lainnya.

 

BestRegard Inspirasi BeraniSukes

Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: