Seakan-akan Masyarakat Indonesias bersahabat menolak kebijakan pemerintah melalui demontrasi

Bismillah…

Hampir setiap hari kita disuguhi demontrasi baik melalui tayangan televisi maupun menonton secara langsung dijalan-jalan protocol. Tentu banyak alasan, tujuan dan motif kenapa masyarakat demontrasi. Apalagi dizaman era demokrasi diberi kebebasan pada masyarakat untuk mengeluarkan pendapat, mengluarkan aspirasi, menentang kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah dan dijamin dalam Konstitusi Indonesia. Seperti dijelaskan dalam

UU No. 9/1998 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum dan hak untuk melakukan demonstrasi ini dilindungi oleh Konstitusi yaitu UUD 1945 [Pasal 28E ayat (3)]

Hak ini dapat dilaksanakan dalam berbagai bentuk antara lain (1) unjuk rasa atau demonstrasi, (2) pawai, (3 rapat umum, atau (4) mimbar bebas Pelaksanaan bentuk-bentuk penyampaian pendapat di muka umum tersebut dapat dilakukan di tempat-tempat terbuka untuk umum.

Pada umumnya kebiasaan demontrasi dilakukan ketika menentang aturan yang tidak prorakyat. Mungkin masyarakat hanya memiliki kekuataan menentang kebijakan melalui demontrasi dan tak berdaya dalam berdiplomasi.

Dan sayangnya rata-rata demontrasi selalu berakhir tragis, bentrok, merusak fasilitas umum maupun asset negara dan yang dirugikan tetap masyrakat dan Negara indonesias. Ironisnya masyarakat belum memahami aturan demonstrasi, tidak boleh melanggar norma agama, adat, kesopanan, kesusilaan dan sangat demontrasi berakhir dengan damai.

Misalnya ketika berdemontrasi menggunakan kekerasan, terbawa kebengisan, dan terjadi perusakan fasilitas public. Ketika asset Negara rusak tentu menambah APBN, tentunya APBN tersebut menggurangi anggaran lain (anggaran pendidikan, anggaran kesehata, dan pembangunan lainnya).

Padahal masih banyak fasilitas harus dibangun oleh Negara demi kesejahteraan, kemakmuran rakyat dan terbentuknya layanan prima. Mungkin para demontrasi belum terpikir kesana, atau mungkin terbawa puncak kemarahan dengan kebijakan pemerintah tak pernah mendengar aspirasi mereka dan masih pro dengan golongan tertentu.

Atau mungkin cara seperti itu masyarakat bisa menyelesaikan masalah, atau mungkin dengan berdemo para pemerintah mau mendengar keluhkesah rakyat kecil, atau mungkin dengan diplomasi aspirasi rakyat diabaikan. Sehingga terlahir, tergerak, terdorong apapun kebijakan yang tidak memihak masyarakat kecil maka jalan harus ditempuh adalah berdemontrasi.

Dari demontrasi pula kita bisa melihat bahwa karateristik rakyat Indonesia lebih suka menyelesaikan masalah dengan tak cantik “demontrasi atau rusuh”. Terlihat pula masih ada sebagian masyarakat belum mehami hakikat demontrasi atau masyarakat sudah bersahabat dengan demontrasi.

alhninkuning 

“Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: