Cerita cinta Murabbi

Bismillah…

Cerita cinta Murabbi

Cerita cinta Murabbi

Alhamdulillah akhirnya bisa kembali berada dalam lingkaran ilmu, lingkaran ukhuwah, lingkaran canda, lingkaran mengingat tentang waktu, lingkaran akan membawa kesurgaNya, Insyallah.

Sebenarnya ini pertemuan kedua setalah satu bulan setenggah kegiataan liqo di-off-kan. Ada alasan kuat kenapa kegiataan pekaan ini diberhenti sesaat karena menyambut bulan puasa tentu anggota liqo pada pulang kampung masing-masing,  kecuali alhanin dan sesuai kesepakatan bersama acara dilanjuti setelah lebaran. Walaupun kami tak bersua dalam lingkaran cinta tetap harus mengupgrade kedekatan pada Allah maka di beri tugas masing-masing. “itu tidak menjadi masalah dan itu semua cara Murabbi mengajari kami agar tetap selalu di jalan cintaNya”.

Apa hendak dikata hanya bisa hadir dipertemuan kedua. Padahal sudah siap untuk berangkat kemenuju tempat yang Insyallah akan dijaga malaikat dan digolongkan sebagai tempat sangat indah bahkan menenangkan hati jika telah berada diruangan tersebut…”it’s oke”. Tiba-tiba dapat SMS harus hadir disuatu tempat..!!! (Maklum orang sibuk gitu lohhhh, cakyo nian).

Akhirnya ketemu lagi dengan wajah-wajah perindu surga, melihat senyum meraka penuh kemesreaan walaupun hari-hari dilalui penuh rutinitas dan amanah karena kita semua adalah berstatus karyawan. Bisa lagi mendengar tilawah meraka melalui hafalan ayat, bisa mendengar rencana hidup meraka yang penuh harapan dan keyakinan pada Allah serta peduli bagaimana hebat hembasan yang menghampiri meraka untuk mewujudkan harapan mereka, harapan keluarga dan harapan umat.

Di antara kita ada yang akan melenggangkan kaki menuju anggota dewan, ada yang akan melanjuti studi Pascasarjana, ada sedang menggarap tulisan, ada yang sedang baru merubah status menjadi bidadari bagi pangerannya, ada yang sedang berusaha membangun rumah sendiri walaupun masih berstatus single, dan ada yang masih bingung untuk kemana…”inilah kisah indah yang akan dibangun” dan beruntung bisa berada dalam lingkaran nan manis itu.

Setiap selesai kegiatan pekanan selalu energy baru yang menusuk jiwa untuk tak gampang menyerah dengan hidup, tak begitu mudah rapuh dengan ujian Allah sisipkan selama nafas berhempus, tetap berada dalam suasana rahmatan lil’amin sehingga menjadi wanita sholeha dan intelektualitas. Tujuan itu semua tampak jelas menjadi akhwat pantas untuk dipilih dan disayangi…!!!

semua harapan itu sangat wajar karena setiap manusia harus memiliki harapan. Terpenting tetap saling mendukung, tetap saling mendoakan, tetap saling mengingat jika mulai loyoo dan lupa dengan mimpi. “Indah bukan seindah senyum menetap mentari pagi dipantai”.

Tumben kali ini duluan datang, biasanya selalu telat dan sesampai ditempat liqo sudah disepekati. Ternyata belum satu ukhti-ukhti yang datang, disana sudah dipenuhi para jamaah mesjid, ada beberapa yang lalu lalang sebatas untuk istirahat, ada pula komunitas berkerudung panjang di mesjid tempat kami akan melaksanakan kegiatan pekanaan. Dari sekian banyak orang disana ada beberapa wajah dikenal, ada tersenyum, ada menanya kabar dan ada pula wajah cuek walaupun saling kenal…”ekspresi wajah diamati ketika sedang menanti”.

 Rasanya ada yang aneh dengan perasaan sebab hampir seperempat jam berada disana, satupun teman yang datang, jangan-jangan kegiatan pekanaan dibatalkan secara sepihak oleh murabbi, atau jangan-jangan tempat dipindahkan. Hampir saja untuk menghubungi teman tapi meraka sudah berada dipekarangan mesjid diserta dengan senyum begitu anggun…”Emang beda senyum dibangun diatas pondasi doa kasih sayang, setiap pertemua selalu diawali dengan nama Allah serta senyum penuh gejora”

Alhamdulillah semua akhwat tangguh sudah berada dilingkaran ukhuwah, tinggal menunggu murabbi, tentu saja pertanya dalam hati dan memutar kepala keluartapi masih belum tampak wajah tenang sang murabbi. Ada apa dengan murabbi!!!

Masih tetap bertanya dengan hati kecil ku walaupun kegiataan pekanaan sudah dimulai dengan taujih begitu meninspirasi.

Subhanallah setelah setoran hafalan wajah cantik murabbi datang juga dengan gamis cantiknya dipandu dengan kerudung Ungu semakin terlihat aura cantik murabbi. Meskipun usianya sudah tak mudah lagi, secara sudah memiliki empat anak, ditambah lagi amanah yang diemban begitu berat dan sedang menyelesai pascasarjana juga. Membayangkan mungkin suatu saat nanti bisa menjalankan kegiatan seperti dilakoni murabbi setiap hari.

Wajah lelah terlihat jelas ketika murabbi menyalami kami-kami. Cukup lama melirik wajah  pucat terlukis diwajah murabbi, cukup lama untuk memahami gesture ditampilkan dan cukup lama mendengar cerita murabbi kenapa telat dalam kegiatan pekanaan.

Geleng-geleng kepala mendengar cerita murabbi yang penuh cinta, penuh amanah, penuh keikhlas dan penuh kesabaran. Sesekali-laki melembarkan saran untuk membantu terutama bagian menggarap thesis, begitupun dengan teman lain juga ingin ikut membantu.

Dari sekian banyak cerita dibahaskan, dari sekian banyak ragam masalah sedang dihadapi, dari sekian banyak harus diselesaikan segera dan dari sekian banyak perhatian harus diperhatikan.

Ternyata tak gampang menjadi istri sholeha, tak gampang menjadi ibu, tak gampang menjadi bagian masyarakat yang didikasi untuk ilmu dan tak gampang menjadi orang yang amanah. Ketika murabbi bercerita suka duka dalam menjalankan peran sebagai istri…”Berharap bisa menjalankan amanah penuh cinta dan disandari pada Ilah”. “Antara ingin dan ngeri”. Meskipun terasa berat untuk memikirkan, mau tak mau harus dijalani, insyallah waktulah akan mengsanggupkan menjalankan amanah penuh pahala tersebut.

Lansung teringat dengan bunda dikampung sana yang mendidik dengan cinta, mendidik dengan kesabaran, mendidik penuh doa, mendidik penuh motivasi, dan mendidik penuh pengorbanaan. Jujur menjadi seorang ibu, seorang istri, dan seorang pendidik tak semudah dilihat…”kita tahu itu semua”. Rabbi jadi semua apa yang meraka lakukan mendidik untuk kami menjadi pahala dan dipertemukan dengan diriMu dengan mendapat tiket langsung kesurga…”ini bukanlah berlebihan tapi suatu kepantasan”

Kuhentikan napas sesaat, saat memikir cerita cinta dari murabbi.

Best Regard Inspirasi BeraniSukses “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: