Orang-orang udah nulis kemana-mana, lha aku

Bismillah…

Iri….iri…iri…iri…iriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii…iriiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii iri iri iriiiiiiiiiiiiiiiiiiii

Iri melihat meraka yang berkarya

Iri melihat mereka yang berkarir

Iri melihat mereka yang menginspirasikan

Iri melihat mereka yang dekat dengan Ilah

Iri melihat mereka yang selalu bersikap sederhana

Iri melihat mereka yang bisa mendidik sibuah hati menjadi pemimpin

Orang-orang udah nulis kemana-mana, lha aku

Orang-orang udah nulis kemana-mana, lha aku

itu kata-kata yang memenuhi kepala dan setiap langkah kaki menuju entah kemana. Walaupun terkadang kata tersebut sempat terganti dengan kalimat lain namun tetap ketika menatap leptop perjuangan kata iri masih mengisak pikiran dan hati. Padahal leptop yag selau setia menemani ketika iri sudah selayaknya dipensiunkan karena sangat memperhatinkan mulai dari segi fisik internal maupun eksternal.

Jika lirik dari sisi sejarah, kenangan dan kontribusi buat alhanin rasanya tak tega untuk mempesiunkan leptop tersebut. Bila ditinjau dari sisi lain rasanya sudah tak layak lagi, jauh di hati pengen ini menganti tapi danda belum mencukupi, karena ada hal yang penting harus didahulukan, dan semoga brother(red:abang) memenuhi janjinya untuk membeli notebook buat alhanin agar ketagihan menulis semakin menjadi, agar terwujud mimpi besar tersebut, dan supaya bisa menginspirasi orang-orang diluar yang membutuh motivasi…”penantian janji”

Apalagi ketika mengunjungi toko buku, melihat teman sudah menulis dikoran-koran, melihat saudara sudah menulis antologi dan sedangkan alhanin baru menulis diblog pribadi serta sekali-kali menulis dimedia islam. Sepertinya belum puas, sepertinya masih minder, sepertinya tetap iri dan sepertinya rasa manusia tak memiliki manfaat buat lingkungan.

Entah kenapa fluktuatif masih semayam indah dalam aluran kehidupan, terkadang semangat menulisnya gila banget seperti semerbaknya sambal jengkol “huhuuuu”, terkadang tenggelam ibarat kapal penuh muatan. Padahal begitu floong waktu untuk menulis karena belum ada yang menggangu, belum ada amanah yang begitu mengikat, belum ada yang harus dipikirkan secara serius atau bisa jadi uninteresting menulis menunjukkan kalau alhanin belum bisa mengekplotasi menulis, atau bisa jadi kosakata masih menim gara-gara belum mencintai membaca dengan hati.

Apapun pengaruhnya, apapun penghambatnya, suatu saat harus meneribtkan sebuah karya apakah itu bentuk antalogi atau bentuk yang lain…”kini harapan itu dalam upaya semari berdoa agar dipantaskan untuk mewujudkan”.

Ayoooooo, semangat untuk mewujudkan jangan takut dengan deras hujan, jangan takut petir yang begitu seram, jangan takut dengan angin yang siap menghantam dan itu adalah motivasi dari alam untuk mendukung dirimu mewujudkan. Anggap saja itu adalah aroma kehidupan yang harus dilalui dan anggap saja itu sebagai bukti Alam mencintai mimpi besar mu…

Atau mungkin setahun kemudian akan terwujud

Atau mungkin lima tahun kemudian sudah teraplikasi

Atau mungkin tergantung semangat dan kegigihan

#harapan, #sholiatalhanin

Best Regard Inspirasi BeraniSukses “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: