Ini Tentang hati

Bismillah…

Ini Tentang hati

Ini Tentang hati

Keheningan dipertengahan bulan ramadhan masih terdengar suara-suara mengaji dimesjid, masih terdengar petesan diseberang jalan, terlihat pula wajah-wajah baru dimesjid tempat ana sholat ini menunjukkan para perantaun sudah mulai mudik, masih terlihat cahaya bintang begitu terang sepertinya dipertangahan ramadhan bulan juga semakin indah untuk dipandang. Seindah wajah seseorang heemmmm…^__^

Coba kembali memutar kajian tersimpan diipad yang tersambung lansung dengan hearphone agar tak menggangu orang tua lagi sibuk mengkhatam Alquran, supaya tak mengusik brother sedang mengetik tugas kuliah kebetulan sedangkan menjalankan kuliah doctoral, dan agar tak disuruhi tidur secara sudah waktu mengistirahatkan raga diatas kasur empuk.

Semakin lama mendengar taujih dan senandung nasyid semakin membuat keheningan malam mengusik hati yang sedang menanti…”Heemmm ana menanti apa ya” tentunya banyak hal ingin dinanti karena semua kita pada kenyataannya dalam penantian.

Wahai hati berdamailah dengan waktu, wahai hati berdamai dengan doa terungkapkan, wahai hati damailah dengan asa, wahai hati berdamailah dengan kesungguhan, dan wahai hati berdamailah dengan janji Allah…”Jangan merontak wahai hati”

Dan snack menemi ia dikehingan malam sudah tetes terakhir bahkan  kopi hangat disediakan sebelum menikmati keheningan malam sudah hampir habis tapi entah kenapa hati belum bisa berdamai dan kompromi atau mungkin hati tak bisa berdamai dipengaruhi kenikmatan menyeduh kopi di hawa yang sejuk…”Please myheart, you still peace with me”.

Atau ada makhluk lain yang sedang membicara ia sehingga hati dikeheningan malam sangat berbeda dengan malam sebelumnya, atau hati sedang mimikir sosok lain, atau hati sedang tak bisa melupakan sosok ditemui beberapa hari yang lalu dengan penuh tanda Tanya!!! (semua menjadi Tanya besar)

Berbicara hati begitu rumit untuk dimaknai, berbicara hati bukan bicara tentang logika tapi berbicara tentang rasa maupun selera, dan berbicara hati susah dijelaskan pada siapapun hanya hati bisa memahami tentang hati tentu sihati juga. Haruskan ia menjaga hati dengan cinta, atau haruskah ia kejam dengan hati ia, atau harus ia merespon hati ini dengan melanggarkan pemahaman yang pahami selama ini.

Pada siapa seharusnya ana bercerita tentang hati? Harus berbicara hati dengan tempok-tempok berwarna ungu yang menemani ia dikehingan malam ini, harus berbicara hati pada tumpukkan buku yang penuh dengan teori klasik maupun moderitas, harus berbicara hati pada alat kosmetik dekat lemari riasa agar bisa mewarnai hati, harus berbicara hati pada cahaya lampu yang menerangi hati agar tak resah lagi, harus berbicara hati dengan boneka yang selalu menemani ketika tidur dan harus berbicara hati pada kesunyian.

Walaupun tak tahu berbicara pada siapa dan bagaimana!!! Pada akhirnya coba menyerahkan hati ini diatas sejadah panjang dengan bumbui zikirullah agar hati bisa tenang. Subhanallah tak terasa ketika hati diserahkan pada pemilik hati tiba-tiba rasa terselip dalam hati lambat laut bisa terlupakan, bisa terpudarkan, bisa menenangkan dan hati merasa memiliki harapan yang baru.

Pada akhirnya ia harus menjaga hati dengan cinta di atas kebenaran yang ia pahami dan belajari selama ini…”it’s my heart not your heart”

 Best Regard Inspirasi BeraniSukses “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: