Maaf: Aku Pernah Meragu CintaNya

Bismillah…

Aku Pernah Meragu CintaNya

Aku Pernah Meragu CintaNya

Sepulang dari sholat subuh berjamaah disekitar rumah melihat bintang-bintang dilangit nan tinggi begitu bersinar dan kebiasaan selama berada dikampung lebih sering memandang langit disuasana subuh. Tak henti takjum melihat kebesara Allah, tak bisa manusia tanding satupun ciptaaNya tapi sempat pula berpikir kenapa Firaun atau firaun-firaun yang lain begitu berani menyatakan dirinya Tuhan bahkan begitu menyombong diri atas kelebihan yang secentil mereka miliki.

Ya sudahlah itu adalah pilihan Allah berikan pada kita. Apakah ingin menjadi hamba yang sombong, apakah kita ingin menjadi hamba yang rakus, apakah kita ingin menjadi hamba yang penuh kebencian atau kita ingin menjadi hamba yang bersahaja dalam bersikap tapi begitu tinggi keimanan dan keilmuannya…(Kesemua itu adalah pilihan).

Sholat berjamah dimesjid merupakan program ramadhan harus dijalani semari jalin silaturahmi dengan para ibu-ibu, maklum hanya bisa bersapa dan bersua ketika bulan puasa aja karena sebelas bulan lainnya lebih banyak berada diperantau untuk melanjut misi kehidupan.

Pagi ini emang indah, emang sejuk, emang menawan, eman memiliki makna cinta Heeemmmm…karena ingin bercerita tentang keraguan cintaNya, saat menyulam kata diiring lagu yang mewakili rasa ini, apa lagi kalau bukan lagu Judika “Bukan dia tapi Aku”, sesuatu banget yaaaaaaaaaaaaa

Waduh, dari tadi banyak banget prolognya. Jangan-jangan tak jadi menulis tema sesungguhnya..”^__^”. Oke kali ini langsung saja bercuap-cuap tentang keraguan CintaNya.

 Selama satu tahun menangis diatas sajdah nan panjang, Selama satu tahun mendekat diri padaNya dengan penuh kekhusukkan, hampir satu tahun bangun tengah malam untuk menjalan sholat malam, selama satu tahun lebih mendengar ceramah agama yang tersimpan difolder laptop, selama satu tahun pula menyatakan pada Allah bahwa ini tidak adil, dan selama satu pula terbawa rasa nan aneh.

Bagaimana tidak meragu cintaNya pada diri ini, selama ini merasa diri begitu dekat denganNya baik melalui amalan wajib maupun Sunnah, merasa telah bersikap penuh estetika islam, merasa telah menjaga hati penuh hijab, merasa telah bosan melafazkan asma Husna, merasa telah menjauhi larangannya. Malah diberi cobaan dan bergulitan batin, tapi Hasil bergulatan batin menghasil buah tak pernah disangka-sangka dan Terimakasih Allah Engkau berikan cobaan yang tak pernah dipinta, tak pernah dibayangkan dan tak pernah diduga.

Mungkin meragu keraguan cintaNya karena hati belum paham banget tentang islam sehingga merontak, mungkin juga karena hati belum penuh mencintai islam sehingga ketika diberi cobaan sedikit saja langsung mengatakan Allah tidak adil, dan mungkin juga belum memahami bagaimana konsep cintaNya pada manusia.

Rabbi, maaf diri ini jika setahun ini selalu mempertanyakan cintaMu, maaf hati ini masih menangis hal bersifat duniawi, maaf jika pikiran ini salah menafsir ujian Engkau berikan pada ku, maaf jika mulut ini terlalu sadis mengatakan jika diriMu tak adil.

Alhamdulillah hasil renungan selama setahun ini, membawa jiwa pada hati yang baru, membawa ku pada harapan yang baru, membawa sikap penuh kehatian-hatian dalam segala hal, membawa ku selalu cinta dengan aturanMu, membawa ku semakin rindu menutup aurat dengan hijab Engkau tentukan dalam Al-quran, dan semakin membawa mimpi ingin menjadi da’iah. Semoga kedepannya bisa Mondok untuk memperdalam ilmu agama yang masih dangkal, dengan kedangkalan tersebut membuat ku meragu cintaMu.

Tapi itu dulu aku meragu cintaMu, saat ini tak pernah ragu cintaMu, saat ini tak pernah ragu kasihMu, saat ini tak pernah ragu untuk mensyukuri atas cobaan Engkau berikan pada ia, saat ini tak pernah ragu untuk selalu mendekati padaMu, saat ini tak pernah ragu tentang keberkahaan Engkau, saat ini tak pernah ragu untuk memohon padaMu, dan saat ini tak pernah ragu meluapkan segala rasa padaMu.

Terlalu kerdi, terlalu bodoh, terlalu sombong, terlalu angkuh ia meragu cintaMu. Padahal jika boleh menghitug-hitung, menulis, dan mencerita ternyata cintaMu begitu indah, ternyata cintaMu selalu sempurna, ternyata cintaMu penuh keberkahaan, ternyata cintaMu memiliki peran penting keberlangsung hidup ini.

Rabbi, maaf kan jiwa ini sempat meragu dan mempertanya keadilan Mu. Kini ia sadar bahwa cobaan Engkau berikan padanya merupakan cara Engkau mendewasakan ia, cara Engkau membuat ia menjadi bijak, cara Engkau membentuk pribadi qona’ah, cara Engkau mempercantik sikapnya, cara Engkau menguji keimanan ia dan cara Engkau menjadi ia sebagai wanita sholeha…

Note: semoga hambaMu yang lain tak pernah meragu cintaMu, cukuplah ia saja yang pernah meragu cintaMu dan Selamat menjalan Ibadah Ramadhan K-12 tahun 1434 semoga Ramadhan kali semakin memahami arti cintaNya pada kita…Allahuma Amin.

Best Regard Inspirasi BeraniSukses “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: