Ayah ku hebat dan ku bangga menjadi anak Ayah

Bismillah….

Ayah ku hebat dan ku bangga menjadi anak Ayah

Ayah ku hebat dan ku bangga menjadi anak Ayah

Saat menulis tulisan ini tanah kelahiran sedang guyur hujan sangat lebat, coba melirik keluar melalui jendala terlihat kota kerinci penuh kesejukan, esotik, gunung tak terlihat karena diselimutin awan hitam yang pekat. Biasa sekitar 07.00 wib sudah terlihat puncak gunung dari rumah. Subhanallah mungkin berkah dari Allah untuk hambanya dan mungkin hadiah Allah berikan pada bumi dalam menyambut bulan puasa.

Hujan seperti ini bawa jiwa untuk menulis tentang kehebatan seorang ayah, yakin kita semua bangga dengan ayah kita, setiap kita dilahirkan kebumi Allah tentu punya ayah lain hal jika kita menumui seorang anak tak punya ayah itu adalah sebuah eksiden.

Selama ini lebih banyak menulis tentang kemulian seorang ibu sangat jarang menulis tentang ayah, tapi perjalanan dari kota jambi menuju tanah kelahiran. Jiwa ini membawa pikiran untuk kontemplasi tentang ayah ku yang hebat. Selama lebih kurang 10 jam perjalanan dari kota jambi menuju kota kerinci teringat dengan ayah yang telah mendidik penuh kedisplinan dan selalu ingin kesempurnaan. Dengan itu semua membuat takut melakukan kesalahan, jadi takut melanggar aturan telah ditetapkan, semakin patuh dengan perkataan mereka dan bangga punya ayah seperti itu.

Ku mengakui ayah benar-benar hebat, ku mengakui ayah ku benar bertanggung jawab, ku mengakui ayah sangat menghargai waktu, ku mengakui ayah ku begitu menjalankan tugasnya sebagai ayah yang hebat.

Ayah ku bukan seperti ayah lainnya yang bekerja diruangan sangat empuk, diruangan difasilitas oleh Negara, ayah ku PNS biasa dengan gaji sangat minin untuk menghidup empat orang anak, ayah ku bekerja tak menggunakan pakaian perleten walaupun pernah memakai pakaian perleten itu Cuma momentum tertentu, ayah ku bekerja dari pagi hingga malam, ayah bekerja tak menggunakan kendaraan tapi selalu menggunakan kakinya sebagai kendaraan terhebatnya, ayah ku sangat jarang berkumpul dengan para bapak-bapak disekitar rumah seperti bapak tetangga ku yang setiap sore selalu berkumpul untuk bermain domino, ayah jarang banget berbicara politik yang selalu dibicarakan adalah tentang pertanian karena kerja samping ayah setelah pulang dari sekolah  berkebun, ayah ku tak pilih makanan apapun yang disediakan ibu selalu dimakan kecuali diusia senja baru ada keluhan dengan makanan bagi saya itu sangat lumrah, ayah ku tak harus dihidang jika ingin makan dan ayah ku adalah orang sangat keras mendidik anaknya.

Mengakui ayah sangat hebat walaupun hanya PNS biasa tapi luar biasa perjuangan ayah membesarkan kami, dimana kami bertiga bisa Kuliah hingga pascasarjana di Universitas ternama di pulau Jawa adalah lewat keringat ayah, lewat kegigihan ayah, lewat doa ayah dan kami bertiga kuliah dari strata satu hingga pascasarjana, ayah tak pernah mengemis pada siapapun untuk membantu menyekolah anaknya bahkan ayah tak pernah berutang pada siapapun.

Ayah hanya mengandal kesungguhan dalam berkerja, hanya mengandal doanya pada Allah agar diberi kemudahan untuk mendidik anaknya dan bukan hasil uang tak jelas. Selama kami bertiga kuliah dari strata satu hingga strata dua sungguh Allah mencurah rezkinya tak henti-hentinya…”Terimakasih Allah kasih sayang Engkau begitu Indah”

Jika boleh jujur pada kalian di tanah kelahiran khususnya di desa saya semua anak bisa kuliah pascasarjana mungkin di keluarga. Ayah begitu semangat menyolahkan kami dan kami juga begitu semangat untuk merubah image masyarakat pada kami yang hanya dilihat sebelah mata. Subhanallah kesungguhan ayah maupun kami benar-benar Allah wujudkan dan berlahan tapi pasti membuahkan hasil sangat spektakuller. Semoga beberapa tahun semua anak ayah bisa melanjutkan kuliah Doctoral…”Allahuma Amin”.

Ya Allah semoga keringat ayah selama bekerja bertahun-tahun dari kecil hingga kami dewasa dan tak kenal panas serta dingin memberat timbangan beliau di yaumil Akhir. Lindungi Ayah dari segala hal tak inginkan dan panjangkan umur Ayah hingga bisa membahagia meraka dunia dan AKhirat… Allahuma Amin.

Kini yang kami butuh dari ayah dan ibu bukan menafkahi kami lagi. Melainkan berharap dari mereka adalah mendoakan agar diberi kemudahan mencapai mimpi besar sehingga bisa mengharum nama ayah.

Ku bercerita pada kalian pada yang membaca tulisan http://www.simfonikehidupan.wordpress.com bukan bermaksud sombong. Maksud benar-benar ingin memotivasi kalian semua agar bisa mengambil hikmah juga hendaknya. Terutama bagi kalian yang hendak menjadi ayah hebat bagi anak-anak kalian semua.

Sebab kita lihat di Negeri yang kaya ini betapa banyak Ayah salah menggunakan jabatan meraka demi menafkahi si anak dan betapa banyak juga ayah yang berpendidikan tinggi tapi tak sanggup membawa anak pada gerbang pendidikan tingkat tinggi. Insyallah jika kita gigih, mau hidup dalam kesederhaan, selalu mendekatkan diri pada Allah dan mensandarkan segala resah maupun gundah pada Allah pasti selalu ada jalan menuju kemenangan.

Dan coba pula simak cerita singkat tere leye tentang ayah hampir sama makna hanya saja cara pengungkapan yang berbeda…”Smileeee”.

Ada sebuah keluarga PNS sederhana. Bapaknya kerja di pemda urusan perijinan, istrinya ibu rumah tangga biasa. Seumur2, 40 tahun bekerja sebagai PNS, tidak sekalipun minta uang, menyulitkan orang lain. Justeru sebaliknya bekerja tepat waktu, selalu berusaha memenuhi janji, memudahkan orang lain, takut sekali telah mengambil hak orang lain.

Saat tua, masa-masa muda yg penuh kesempatan berlalu begitu saja, 40 tahun bekerja, apa yg dia dapat? Hasilnya ya begitu2 saja. Rumah type 36, motor tua sering ngadat, tabungan tak ada, hanya uang pensiun. Dia PNS yang amat jujur, teguh pendirian.

Tetapi hidup ini tidak pernah tertukar, Kawan. Satu mili pun tidak. Anak mereka, 6 orang, semua berhasil. Lulusan luar negeri, memiliki profesi baik, punya keluarga baik, cucu2 yg pintar, cantik, tampan, ilmu agama mumpuni, saleh, hidup berkecukupan, 6 orang anaknya sukses. Semua kejujuran, kemudahan dan pertolongan yg diberikan bapak PNS ini mantul, membal, kembali kepada anak2nya. Si sulung ingin daftar S1, banyak sekali yg bantu, anak nomor 2 ingin memulai bisnis, tidak terhitung kemudahan terbuka. Bahkan urusan sepele, saat anak2 mereka masih kecil, dan jatuh sakit, meski hidup sederhana, semua pintu pertolongan seperti terbuka begitu saja. Menakjubkan. Dan itu baru di dunia, kita tidak tahu, akan seberapa besar membal, mantul, kembalinya semua kebaikan bapak PNS ini kelak di akherat kepadanya.

Nah, begitu pula sebaliknya dgn semua keburukan. Hidup ini tidak pernah tertukar.

Best Regard Inspirasi BeraniSukses “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: