Antara Sakit dan Neolib

Bismillah…

Antara Sakit dan Neolib

Antara Sakit dan Neolib

Akhir bisa kembali menekan satu persatu huruf ditombol keyworb leptop yang hampir dua minggu tak disentuhkan. Gara-gara kebagian  jatah tahunan apalagi kalau bukan dapat jatah sakit. Hampir setiap pulang kerumah (tanah kelahiran) selalu dapat sakit, baik skala kecil-kecilan maupun yang spektakuler hoooo….aya-aya wae atuh neng memang sakit seperti kebagian BLSM yang diributkan masyarakat tak mampu.

Jika boleh meminjam ungkap teman saya ketika menelphon beberapa hari yang lalu yang menanyakan apakah sudah kembali kekota atau masih di village!!! Sebelum menjawab pertanyaan tersebut teman saya sudah tahu jika yang bertelphon dengan ia sedang dilandasa sakit (entah benar-benar sakit atau sakit rindu hooooo) dan secara langsung mengatakan bahwa itu pertanda alam kerinci (red: tanah kelahiran) sudah tak cocok dengan saya lagi…”heeemmmm” atau emang seperti itu suasa kerinci sudah tak bersahabat lagi dengan ia sehingga setiap pulang kerumah selalu kebagian sakit.

Walaupun suasana kerinci tak bersahabat dengan ia, tetap akan merindu tanah kelahiran ini, walaupun tanah kerinci sudah memiliki teman seperjuangan lagi tetap akan dikenang kehidupan indah selama menjadi anak-anak hingga remaja, walaupun tanah kerinci sudah banyak mengadopsi paham kapatilis atau Neolib tetap masih terlihat bahwa masyarakat masih menjunjungi tingggi kegotongroyongan seperti tadi siang melihat para-para pengmangku adat berjalan kerumah-rumah untuk mengambil uang perbaiki Mesjid.

Dua minggu sudah dirumah dan dua minggu pula sakit, tapi tetap bersyukur dengan jatah ini semakin banyak membaca ebook yang mungkin selama ini agak susah untuk menyelesaikan bacaaan. Bayangkan sehari bisa memfinish bacaan setebal tigaratus halmaan lebih. Bahkan bacaan sangat berat bagi saya karena sebelumnya belum pernah menyelesaikan bacaan berat seperti ini dalam sehari-hari. Melalui bacaan tersebut membuka hati, pikiran dan bergeleng-geleng kepala. Sekali-sekali kita harus membaca buku berat, sesekali harus membaca buku bukan background pendidikan kita, sesekali harus membaca buku bukan hobby kita”

Mungkin biar tidak penasaran, sebenar buku apa sich dibaca sehingga selesai sehari!!! buku dibaca berkaitan dengan Indonesia for Sales: Mengpuas “Neolib” dengan sederhana. Entah sejak kapan tertarik membaca Neolib yang pasti sejak pemerintahan SBY tergila-gila searching artikel Neolib. Alhamdulillah lewat buku tersebut semakin menambah pemahaman tentang dunia konfirasi, politik, kuasaan, penindasan, kebijakan, dan ekonomi. Pendek kata semua sector di Indonesia sudah dikuasai Neolib (Pasar) dan lebih parahnya lagi pemerintah kita tertindas oleh kehendak asing serta kehidupan pejabat yang rata-rata berpihak pada asing.

Maka tak heran separoh rakyat Indonesia dibawah kemiskinan sedangkan BLSM (Balsem) diberikan pada masyarakat itu hanya sebatas pencintraan.  Kesemua itu berkaitan banget dengan Neolib, apalagi sejak SBY-Budiono memegang kekuasaan di Indonesia masyarakat semakin bersorak tentang Neolib.

Kita tinggal aja bagaimana bahayanya Neolib kembali tujuan awal pulang kerumah (village) harus menyelesai bacaan fiqih dakwah karena tugas dari Murabbi dan mengedit kembali hasil pikiran tertuangan dalam tulisan diperoleh sebanyak 250 Halaman tapi apa hendak dikata. tujuan utama seperti belum dijalankan sepenuh karena tergiur untuk membaca artikel lain.

Intinya selama dua minggu sakit selama dua minggu pula membaca artikel, tanpa sengaja buka Email ternyata dosen saya di Universitas Gadjah Mada yang sedangkan kuliah Doctoral di USA juga mengirim 10 Artikel Neolib….”Aaaahhh senangnya minta ampun, walaupun artikelnya language English tapi tak bermasalah biar ketagihan baca artikel berbahasa Inggris”. Mungkin pak dosen mengrim tulisan tersebut gara-gara pernah publish status di Facebook tentang Neolib hoooooo….

Terakhir pesan Anak muda pada pemuda produkti yang membaca Artikel singkat ini, Yuuukkk kita perbanyak membaca, yuukkk menjadi pembelajar sepanjang hidup. Sesungguh menjadi professional tidak harus bertitel panjang, untuk menjadi pengamat amatir atau profesioan tak perlu kuliah berapa SKS cukup baca buku teori secara terus menerus Insyallah sudah lebih ahli dari yang kuliah, seperti dikatakan TDW bahwa untuk menjadi Ahli belajar dari para Ahli apakah dari tulisan, dari bacaan maupun belajar langsung dari sang Ahli.

Best Regard Inspirasi BeraniSukses “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: