Menanti SInar Mentari

Bismillah…

Menanti  SInar Mentari

Menanti SInar Mentari

Merasa orang terasing di tanah kelahiran, mungkin keterasingan ini dipengaruhi beberapa hal misalnya sudah hampir setahun meninggal kota ini sejak lebaran 2012 sebab hanya back to village setahun sekali seperti waktu kuliah ketika dijawa, mungkin juga karena tidak ada lagi teman seirama diajak bercerita tentang kehidupan, mungkin juga merasa lain dengan suasana biasanya berangkat pagi pulang sore untuk mengais rezki, mengembang diri, merubah kehidupan, mewujudkan mimpi besar dan cara mengaplikasi ilmu diperoleh selama perkuliahan.

Atau mungkin sudah tak betah lagi tinggal dikota ini, mungkin juga jiwa ini memang takdir hidup diperantauan sehingga membuat keterasingan begitu luar biasa. Padahal dekat dengan keluarga, padahal dikota ini penuh cerita kelucuan, padahal kota ini pula mempengaruhi menjadi orang berbeda baik dari dandanan, sikap, pola pikiran, tujuan, mimpi dan tutur kata.

Dalam keterasingan ini coba menanti sinar mentari seperti menikmati kilauan mentari dikota dipenuhi hedonism, penuh konsumtif, penuh liberalism dan penuh individual. Hampir seharian menanti kilauan tetap belum menampakkan cahayanya. Yang ada awam kelam begitu ganas namun keganasaan tersebut membuat hati terbukau betapa Allah begitu maha besar dan sesekali terlihat angin mengeluarkan kekuataannya sehingga berbunyi desir berbeda.

Menanti cahaya mentari seakan-akan menanti sesuatu memiliki makna dan history tersendiri bagi seorang akhwat yang masih istiqomah menggunakan pakaian taqwa (insyallah). Jika hidup diperkotaan berdomisili sekarang biasa matahari telah mengeluar sinarnya begitu spektatuler yang menimbulkan keringat sangat dahsyat. Tapi kota kelahiran ukhti begitu susah untuk menjumpai kehangatan dari mentari.  Atau sedang musim hujan sehingga matahari tak menampakkan sinarnya atau terjadi anomaly.

Ketika menunggu sinar mentari pagi hingga magrib menghampiri teringat dengan kota-kota panas pernah disinggahi. Bahkan terpikir pula untuk melakukan peneletian untuk melihat bagaimana perilaku, pola pikir, kecerdasan, dan keagamaan orang yang tinggal daerah dingin dan daerah panas!!! (ide konyol). Walaupun konyol bagi ukhti itu sebuah pertanyaan harus dijawabkan.

Apakah selama ini yang pernah diteliti para berkaitan tentang culture tapi menurut ukhti seperti ide diatas belum pernah diteliti atau belum menjumpai pembahasan tersebut.

Heemmmm kok jadi tentang penelitian bukan ingin bercerita tentang penantian hoooo. Pastinya menanti mentari adalah suatu cara mengisi liburan begitu singkat ini. Walaupun mentari tak menampakkan cahayanya paling tidak memberi hikmah luar biasa bahwa setiap suasana akan melahirkan rasa berbeda. Seperti saat ini ketika cuaca agak dingin terbawa pada rasa yang menyentuh hati sedangkan ketika pada cuaca begitu panas juga terbawa pada rasa menyetuh pikiran.

Kalau bukan karena rindu dengan keluarga mungkin sudah enggan untuk pulang kekota ini lagi. Bersyukur Allah masih menumbuhkan rasa rindu dihati ini untuk menjumpai tanah kelahiran. Entah tahun-tahun berikutnya apakah bisa melihat kampung ini atau semakin betah tinggal dikota yang membuat semakin gesit memperbaiki diri, semakin gesit menjadi berbeda dihadapan Allah, semakin bergesit mewujudkan perubahan (impian) dan semakin gesit menjadi orang bermanfaat bagi lingkungan serta keluarga.

Archived

Best Regard Inspirasi BeraniSukses “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: