Wahai akhwat, Kuliahlah hingga jenjang paling tinggi

Bismillah…

akhwat kuliahlah hingga jenjang tertinggiTerinspirasi dari ungkapan ibu yang telah meraih gelar doctor di Jerman dan kisah ibu doctor tersebut insyallah hampir menyerupai kisah kehidupan seorang akhwat. Mungkin ingin tahu bagaimana kesamaan atau perbedaan kisah antara ukhti dan bu doctor, bisa langsung ke blog http://sitisukainah.wordpress.com/2013/01/18/akhwat-berpendidikan-tinggi-siapa-takut/ apa yang disampaikan melalui rangkai kalimat sesungguhnya pernah mengalami serta mendapat pertanyaan seperti itu juga.

Insyallah beberapa tahun lagi ukhti juga harus meraih gelar doctor (allahuma amin), tepok-tepok jidad alias narsis gile banget, kuliah aja belum sudah berani bilang beberapa tahun lagi dapat gelar doctor hooooooooo….”gapapa dech moga lewat guyon bermakna mampu memotivasi agar segara untuk next study”

Tak perlu ada standup comedy lagi yuukk serius bacanya. Cerita begini dulu kala seorang akhwat resah atau bahasa gaulnya galau. Tapi Alhamdulillah galaunya bukan seperti anak remaja sekarang lebih menggalau pada perasaan, namun galau dirasakan antara memilih antara lanjut kuliah, kerja atau nikah dulu!!! kegalauan telah memenuhi space otak dan qolbu heeeemmmm, Alhamdulillah galau tidak menghabiskan 500 G.

Ketika sedang asyik-asyiknya membantu orangtua masak didapur tiba-tiba tetangga menyapa dengan kritikan yang sangat pedas mungkin lebih pedas dari cabe ijo atau cabe rawit. Cileeee dramatis banget. Tapi kritikan tidak membuat hati sedih karena tahu kualitas siapa yang mengkiritik, so tetap happy fun and enjoy. Bisa jadi mereka mengkritik pengen kuliah setinggi-tingginya tapi apa boleh buat…

Lewat kritikan tersebut mudah-mudahan mencerdas dan mencerahkan para pembaca. Katanya begini buat apa wanita kuliah tinggi toh akhirnya juga masak didapur. Ya iyalah  kedapur karena itu sudah kondrat wanita Saat itu hanya tersenyum saja mendengar lontaran tak bermakna.

Akhwat sekolahlah setingi-tinggi bukan berarti sekolah tinggi buat kita anti dengan dapur, tidak boleh kembali kedapur, malah dengan sekolah tinggi kita semakin cerdas, pintar tentu smart bagaimana menata dapur yang cantik, seperti apa masakan bergizi harus dimasakin untuk suami dan anak.

Akhwat jangan pernah ragu untuk melanjutkan sekolah tinggi, jangan pula menghirau kalau sekolah tinggi susah dapat pasangan itu hanya guyonan klasik saja karena jodoh sudah Allah aturkan. Tidak ada relasi atau peneletian yang menjelaskan bahwa akhwat yang sekolah tinggi susah mencari pasangan. Malah akhwat kuliah sampai jenjang tinggi di idam-idamkan dan menantu impian “Heeemmm”.

 Akhwat, Tugas kalian adalah tuntutlah Ilmu setinggi mungkin, bukan Allah mencintai hambaNya berilmu dan tidaklah sama orang mengetahui dengan tidak mengetahui. “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al Mujadilah [58] : 11).

Saat ini  dibutuhkan akhwat berpendidikan tinggi, kenapa harus tinggi? Karena mendidik anak dizaman dibanjiri teknologi, hedonism, liberal, pergaulan bebas adalah tantangan terbesar bagi seorang ibu maka dibutuhkan sosok ibu yang cerdas plus sholeha. Jika tidak hati-hati dan mengetahui bagaimana menata atau mendidik anak dizaman jauh etika maka siap-siap bisa anak membawa petaka.

Menurut As-Syahiid Hasan Al-Banna, perbaikan suatu umat tidak akan terwujud kecuali dengan perbaikan pemudanya. Perbaikan pemuda tidak akan sukses kecuali dengan perbaikan jiwa. Perbaikan jiwa tidak akan berhasil kecuali dengan pendidikan dan pembinaan. Ya dengan pendidikan dan pembinaan berkualitaslah generasi muda atau anak-anak yang unggul bisa diwujudkan. Di sini peran seorang ibu sangat dibutuhkan agar generasi penerus memiliki kualitas teruji dimasyarakat dan dihadapan Allah.

Coba bayangkan anak yang dilahirkan dari rahim berpendidikan tinggi (Master atau doctoral) tentu memiliki nuansa yang berbeda, anak yang dilahir dari rahim ibu berpendidikan meraka selalu didik dengan teori, konsep, bukan tahyul.  Mari akhwat kita sekolah setingginya agar kita ketika menjadi ibu dibanggain oleh Anak kita, supaya kita menjadi inspirasi meraka, dan kita motivator terhebat buat mereka. seperti diperintahkan Allah dalam Alquran “Wahai Tuhan kami! Karuniakanlah kepada kami istri dan keturunan yang menjadi cahaya mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang memelihara dirinya (dari kejahatan)”. (QS. Al-Furqan [25]:74).

Senada dengan ulasan bu doktor, bahwa saat engkau memiliki anak, maka orang pertama yang akan menyapih rambut anakmu adalah seorang lulusan S2/s3. Orang yang pertama mengajaknya berjalan adalah seorang ilmuwan tinggi, dan sejak dia mulai membaca, dia akan dibimbing dan dijaga oleh seorang master/doctor, bahkan mengajar mengaji dan sholat juga ibu yang memiliki dedikasi keilmuan sangat memukai. Itulah peranmu sebagai ibu nanti, apakah engkau bisa membayangkan betapa beruntungnya anak manusia yang akan kau lahirkan nanti.?”

So, akhwat di manapun berada jangan pernah takut untuk melanjutkan kuliah hingga jenjang paling tinggi, jangan berpikir pula akhwat kuliah tinggi susah mendapat jodoh dan pernah puas menuntut ilmu upgrade terus keahlian hingga batas kehidupan. Bukankah jodoh sudah Allah atur dalam Lahu mahfuzh. Tugas kita dibumi Allah adalah mengumpul seluas mungkin ilmu agar kita tahu hakikat Tuhan, hidup dan menjadi pencerahan bagi lingkungan terutama bagi keluarga kita nanti.

Best Regard Inspirasi BeraniSukses “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Advertisements

2 Responses

  1. tapi jangan sampai pengetahuan dunianya tinggi dan ilmu agamanya dikit..bagusnya di seimbangkan (emang ada ya yg seimbang…wkwkw) krn kebanyakan kalo dah sibuk pd pengetahuan dunia, rata2 ilmu agamanya cm sekedar2 aja….hehehehe…

    tulisan yang bagus…izin bookmark ya…

  2. monggo waee semoga bermanfaat dan mencerahkan^__^

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: