keganasan kota dimalam hari

Bismillah…

Malam ini ukhti harus keluar untuk mencari alat penunjang mengajar yang telah ditarget jauh-jauh hari dan sebenarnya sangat tidak nyaman keluyuran malam hari karena mendesak banget maka mau tidak mau suka atau tidak suka harus memutus untuk keluar malam.

Ya selama tinggal dikota besar bertahun-tahun “padang, bandung dan yogya” jika dipresentasikan mungkin tidak sampai satu persen ukhti keluar malam tapi ini untuk pertama kali keluar rumah dikota emas.

Benarkan apa terbayang dipikiran ukhti terbukti sudah, ya itulah fenomena dimalam hari terlihat pemuda melakukan kegiatan tidak jelas mulai menemui pandangan pemuda-pemudi pacaran disempanjang jembatan “geleng-geleng kepala”, ada yang asik dengan dendang music begitu keras dipinggir jalan, menikmati makan malam diarea pertamanan tidak jauh beda dengan kota besar lainnya.

Hanya saja dikota besar bandung atau yogya mereka berkumpul bukan hanya sebatas berkopi, berteh tapi mereka berkumpul membahas suatu projek, tugas atau diskusi…”jadi ingin kembali kekota yogya, Insyallah I must back to yogya”

apakah benar kota itu identik dengan kehidupan hedonis dan sekulurisme? entah begitu susah untuk dianalisa apalagi dijawab begitu saja tanpa harus diteliti secara continue dan korelasi.

jika kehidupan kota dihiasi pemandangan seperti ini terus, maka sangat berdampak dengan style and fashion masyarakat sehingga hal seperti ini menjadi biasa saja bukan hal tabu. lama kelamaan terbentuk budaya yang sangat diantipati oleh islam yaitu pergaulan bebas, hedonism, sekulerisme.

ukhti teringat dengan ucapan bapak ketika diajak jalan-jalan dikota besar “bandung dan yogya”ketika masih berdomisili disana,  bapak langsung kaget secara orang tua ukhti hidup dari kecil hingga masa senja benar-benar dikampung yang jauh hinggar binggar kehedonisme. sejak bapak melihat pandangan aneh selalu pertanya apakah ukhti seperti itu juga selama berdomisli diperkotaan?

pertanyaan sangat wajar dari orang tua pada anaknya karena mereka takut saja jika anak mereka juga pernah mengalami seperti itu. Dan syukurlah berkat berteman dengan orang-orang sholeh, lingkungan islami dan motivasi dari diri sendiri tidak pernah mencium atau mencicip hal tersebut seperti ukhti temui malam ini.

diyakini pemuda ukhti temui disepanjang perjalan dipengaruhi oleh lingkungan, teman dan ingin mengeskiskan diri tapi pada tempat yang salah. padahal kita hidup dalam dunia penuh competitor “bersaingan” dalam segala sector dibutuhkan manusia memiliki softskill maupun hardskill, kepribadian sholeh dan the best exprince on job or carier.

Entah apa yang terpikir dalam benak mereka sehingga rela menghabiskan waktu, mensiaskan kesempatan hanya menikmati kenikmatan sesaat.

sepanjang perjalanan kerumah ukhti berpikir terus, bagaimana nanti generasi berikutnya! seperti apa lagi ya kehodonisme terjadi! apa masih ada etika dalam bermasyarakat! atau agama hanya sebagai identitas belaka Karena melihat kehdipuna mereka jauh dari keindahan agama. “bukan ukhti fesimis tapi miris dan sedih saja melihat penerus peradaban kehidupan seperti itu”

Maka ketika masuk ruang perkuliahan ukhti meras menjadi kewajiban untuk selalu mengingat, memberi motivasi atau dorongan dan coba menyadari mereka “mahasiswa” bahwa kita hidup didunia edan jadi dibutuhkan manusia competitor, manusia berakhlak mulia, manusia tangguh dan konsisten upgrade keilmuan.

BestRegard “Inspirasi BEraniSukses”

Simfonis “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: