Ukhti mendadak jadi seleb kampung

Bismillah…

Beginilah hidup diperkampungan apapun hal yang terjadi begitu cepat menyamur dan menyebar bahkan hidup diperkampungan terkadang membuat ukhti risih aja bagaimana tidak resih dari hal terkecil hingga terbesar semua diperhatikan. Untung ukhti terbiasa hidup dengan dikota metropolitan “cileeee belagu lo ukhti” jadi tidak begitu mau pusing apa kata-kata orang kampung.

Sepertinya ukhti lebih pantas dan cocok hidup dikota metropolitan tidak mau tahu apa yang terjadi ditengah masyarakat khusus masalah negative. Sebab tidak ada manfaatnya menceritakan kejelekan orang lain hanya mensia-siakan waktu. Bukan dalam Al-quran telah dijelaskan “Wal’asri, demi masa” sesungguhnya manusia dalam kerugian dan manusia mengingat Allah akan beruntung”. Nah apa kata ukhti rugi bangetkan mengosip sesuatu yang tidak ada unsur ke-Tuhan-an.

Heemmm sepertinya sebulan kedepan bakal jadi artis kampungan lihat aja setiap keluar rumah atau kemana ukhti pergi mata lalatan orang kampung tertuju pada ukhti dari ujung kepala sampai ujung kaki. Bagi ukhti hal itu bukan menjadi masalah karena ukhti benar-benar berada jalan kebenaran. Apapun kata mereka tentang ukhti, yo monggo waeeee!!!

Berharap cacian orang sekampung menjadi batu loncatan bagi ukhti semakin gigih, semangat, bergairah menuntut ilmu setinggi-tinggi mungkin, berkarya lebih gesit, berkumpul dengan orang sholeh agar tetap tegar menjalani hidup kedepan. Ukhti camkan kata-kata orang kampung tersebut!!!

Ukhti, you must smile and keep spirit to future because into truth…”yaaaaa”. Ukhti bijak apapun kata mereka tentang dirimu tetaplah berpositif thiking mungkin sangat wajar mereka menatap dirimu seperti itu karena belum tahu masalah sebenarnya, mungkin sangat mungkin pula orang kampung bercerita seperti sinertron karena mereka belum memahami bukankah dalam islam mencaci atau menyakiti saudara semuslim ibarat memakan daging sendiri.

So, back to Allah about your problem!!!  Tetap tersenyum pada dunia dan tunjukkan pada bumi serta seisinya jika ukhti adalah hamba Allah takut dengan AzabNya. Semakin istiqomahlah ukhti mengaplikasi aturan-aturanNya.

Ukhti tetaplah Allah menjadi tempat curhat, jadikan Al-quran sebagai melodi mengiring jejak kehidupan, dan jadi zikir sebagai penenang hati ketika meraih ujian dari Allah  karena tidak ada pendengar dan penenang lebih bagus di dunia melainkan Allah.

Regard

Simfonis “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: