Tetaplah berhati besar “Ukhti”

Bismillah…

Betapa pedasnya perkataan manusia dan hatipun tergores mendengar ungkap yang tak berestetika. Entah apa membuat mereka melontar sepedas itu…!!!

Tapi biarlah apapun comment, tanggapan, testimonial dan steatment dari pihak yang tidak menyukai kita sebagai evaluasi diri mungkin sangat pantas kita digoresin seperti itu, atau mungkin mereka belum mengerti hakikat kehidupan sesungguhnya bahwasanya kehidupan adalah kasih mengasih bukan jelek menjeleki, atau mungkin belum paham dengan firman Allah yang menyukai hambaNya santun, atau mungkin ini pupuk bagi kita agar tetap menjadi hamba Allah selalu berhati besar “suka memaaf dan ikhlas menerima apapun”.

atau mungkin Allah sedang mendidik ukhti agar menjadi HambaNya nan santun, berestitika seperti nama-nama terkandung dalam Asma Husna, sehingga akhir dari goresan hati ini hendak menjadi ibroh teruntuk ukhti, Terkadang kita sebagai manusia butuh kalimat-kalimat pedas seperti itu agar sebagai learning bagi kita untuk selalu mengeluarkan kata-kata manis seperti lebah mengeluarkan madu.

klo masih ada istilah kata-kata pedih yang kita dengar lalu membuat hati kita tersinggung dan sakit hati atau bahkan menyerang balik atas kata-kata itu maka yang salah adalah hati kita karena hati kita belumlah besar untuk besarkah hati mu..lalu maafkan mereka dan yakinlah kata-kata yang kasar tidak sedikit pun membuat orang itu menjadi besar

manusia itu tempatnya salah, maapin aja kalau lagi ada yang salah manusia yang kuat adalah manusia yang bisa maapin orang salah tanpa di minta.

Dan terima kasih atas nasehatnya teman dan nasehat itu benar-benar membawa diri dalam nuansa kontemplasi bahkan pencerahan diri dalam gelombang kehidupan. Bukankah hidup ini membutuhkan berbagai rasa agar setiap rasa bisa dimaknai.

Yang pastinya apapun hiruk pikuk telah mengores hati tetap semangat “keep hamasah” melangkah kaki dengan tegap meraih hari esok. Bukankah Allah mencintai hamba-hambaNya yang sabar dan bertawakal. Biarlah Allah membalas atas perkataan mereka karena Allah maha teleti dan maha cepat perhitunganNya.

Bukankah hanya manusia beriman yang mampu menerima dengan ikhlas goresan hati dan bukankah manusia yang kuat adalah manusia mampu memberi maaf walaupun tanpa diminta.

Let’s smile and survival, Ukhti

Regard

Simfonis “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

 

 

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: