Apapun Profesi Kita “Mulia”

BImsillah…

Teringat satu orang dari sekian banyak teman ana di facebook menanyakan persoal yang tidak pernah ditanyakan. Ana anggap ini pertanyaan cerdas dan cemerlang walaupun bertanyaan orang tersebut sederhana. Kenapa ana kata out the box secara keluarga ana sendiri tidak perna menanya kenapa bercita dan mau berprofesi sebagai pendidik “lecturer”.

Bagi sebagian orang berprofesi sebagai pendidik bukan hal menarik hati mereka atau tidak pernah terpikirkan dan mungkin kita pernah baca buku mengulas tentang PNS “bodoh, pintar sama saja”. Bahkan Rasullah Saw berpesan 10 pintu rezki adalah berniaga “berdagang” nah kenapa ana tidak mengikuti pesan indah tersebut.

 Hampir sama dengan logika ana awal kuliah tak pernah terpikir bahkan terbayangkan untuk berprofesi sebagai pendidik dan sempat untuk alih jalur “Eneterpreneur”, namun ketika memutus kuliah di program master disana tercetus, keinginan, kemauan dan berharap semoga Allah jodohkan ana sebagai pendidik.

Menurut ana sendiri setiap profesi memiliki kemulian tersendiri, memiliki keunikan tersendiri, memiliki hambatan tersendiri, mememiliki tantangan tersendiri, memiliki amal ibadah tersendiri dan hanya tergantung kita menyikapi serta ikhlas mejalan profesi tersebut, insyallah akan berkah.

Alasan ana ingin menjadi pendidik persis seperti ungkap rector termuda di Indoneia dan penggagas Indonesia mengajar “Anis Baswedan” bahwa pendidik merupakan kehormatan dan bukan kehinaan. Apalagi setelah nonton video Indonesia mengajar jiwa terpanggil untuk menjadi pendidik.

Bahwa asset dan kekayaan utama bangas Indonesia “NKRI” bukan pada gas, minyak dan batubara (Sumber Daya Alam) tapi kekayaan sesungguhnya terletak pada anak muda cerdas berakhlak mulia. Tentu kita masih ingat bagaimana ungkapan Bung Karno “berikan pada saya 10 pemuda maka akan menguncang dunia”.

Untuk mencetak anak muda cerdas dan berakhlak mulia Indonesia membutuhkan pendidik berdidikasi tinggi, membutuhkan pendidik memiliki misi selanggit, membutuhkan pendidik berpikir out the box, membutuhkan pendidik muda mampu memotivasi dan manjadi tauladan.

Apalagi hampir di setiap sekolah minus pendidik mampu memotivasi, menyemangat dan membara hati pendidik. Maka sangat bersyukur saat ini bergema dan bergaung di berbagai universitas di seluruh Indonesia membentuk komunitas mengajar.

Seperti paparan dalam Video Indonesia mengajar sangat mengugah perasaan ana “jika disekolah-sekolah maupun dikampus di ajari seorang pendidik penuh motivasi perubahan dan menjadi tauladan maka ibu kita masih melahirkan pejuang-pejuang tangguh” “subhanallah dahsyat bangettt”.

Jadi itulah alasan konkrit kenapa begitu bergepu-gepu ingin menjadi pendidik sejati, bagi ana pendidik adalah panggilan hati, penghormatan dan kemulian.

Regard

Simfonis “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: