Keeping-keping nostalagia di kerata ekonomi the last episode

Bismillah…🙂

Tak perlu ane cerita kisah lucu ketika back to bandung karena cerita agak aneh dimana kita ketemu orang mengakui sebagai orang sukses, alumnus kampus terkenal, berkerja ditempat bergengsi, dan telah banyak membantu orang membutuhkan pekerjaan.

Sebenarnya dari awal ane sudah curiga dengan si bapak tua nich, tapi entah kenapa teman-teman pada asyik aja ngombrol dan ngelur ngidul bareng si bapak tua.

Kecurigaan ane pada bapak tua yakni mengakui orang sukses dan berkerja tempat prestesius kok naik train ekonomi, pengen ngombrol sama cewek-cewek cantik, tutur katanya begitu tertara dengan indah&sopan, dan minta nomor telephon kita masing-masing. Awalnya kasih nomor salah tapi entah kenapa apa yang mendorong ikut-ikutan kasih no hp benaran.

Ternyata benar pak tua itu bukan sembarang orang, ketahuan pak tua itu seorang penipu suka menjual cewek-cewek cantik karena salah satu teman ane berasal dari padang hampir kena bujuk rayu. Bapak tua itu datang kekosan teman ane membawa makanan dan hampir saja teman ane kena ilmu pellet (guna-guna), Alhamdulillah Allah masih menyelamat dan memberi kekuataan untuk membarangi si bapak tua.

Maka buat teman-teman sering naik train atau transportasi umum lainnya jangan cepat bercaya, yakin dan tertipu dengan seseorang yang mau berkenal atau bersifat baik dengan kita. Bukan tidak mau bersahabat, menegur, menyapa tetapi ini adalah bentuk kita menjaga atau mengawas diri dari orang-orang jahat…(ingat ya teman-teman ku) seperti pesan bang Napi maling karena ada kesempatan, waspada lah-waspada lah^__^

Hiikssss kok jadi cerita si bapak tua jadinya, siipp kembali topic awal bagaimana keeping-keping nostalagi terakhir di kereta ekonomi. Sembari ditemani music Izzatul islam memfinalkan tulisan ini terasa bersemangat luar biasa.

Terakhir naik train ekonomi ketika daftar kuliah keyogya masih rute yang sama Cuma beda teman, berbeda kisah dan berbeda train. Jauh dalam lubuk hati ingin nya naik travel, bus atau train bisnis tapi apa boleh buat nama juga ikut rute teman secara belum tahu wilayah yogya jadi harus mengikuti planning teman.

Huffff terpaksa naik kereta dengan kelas yang sama pasti situasi tidak jauh berbeda dengan kenangan sebelumnya. Apa ane bilang masih ketemu kewer-kewer, para pedagang, para pengamen, para tukang bersih-bersih. Tapi gak papalah terpenting sampe yogya bisa daftar kuliah pascasarjana. Itu lah keeping-keping nostalagia ane menaiki kereta ekonomi.

Setelah mengikuti ujian di Universitas Gadjah Mada maka back to bandung sembari menunggu pengumuman hasil ujian. Kembali kebandung tanpa menggunakan kereta ekonomi karena telah berniat (kapok) jangan sampe ane naik kereta ekonomi ketiga kalinya.

Betapa mengharu birunya keeping-keping nostalagia berawal bertemu kewer-kewer dengan berbagai varian ekspresi, terkageti melihat kondisi dalam kereta mulai penjual sayur, buah-buahan, makanan, pakaian, sepatu, ikat pinggang, VCD dan tak kalah serunya mengejer train seakan-akan seperti mengejar mentari pagi.

Hikmahnya dari keeping nostalagi ini betapa mereka mensyukuri hidup dalam rangka mencari nafkah dari tempat tak pantas, tak mengenal lelah hingga dimana ada kesempatan berjualan mereka manfaatkan peluang untuk mencari recehan demi menghidupkan keluarga.

Regard

Simfonis “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: