Hijab hati atau hijab aurat

Bismillah…

wanita dihiasi keimanan dan ketaqwaan,berseri-serilah wajah mereka,mesti ramai lelaki mahu milikinya. Ubah lah diri menjadi wanita yang soleha.

Ketika kita mengajak seorang muslimah untuk menggunakan jilbab sesuai dengan syarait islam betapa banyak alasan diutarakan dan berbagai alasan cerdas, kreatif dan inovatif dilontarkan dalam rangka membenarkan diri. Bahkan atas nama Ham, kebebasan, kesataraan Gender dan wanita modern mereka lontarkan sebagai dalih.

Entah apa membuat mereka tak mau bahkan menolak secara tegas tak ingin berdandan anggun dengan kerudung keimanan dan ketaqwaan, Insyallah. Bukan pakian takwa ini kita begitu mudah dikenal, terjaga dari keusilan, meraih predikat wanita sholeha. Malah tertarik, interesting, suka, dan deman menggunakan dandan impor (barat).

Bahkan sampai melontarkan steatment Lebih baik menghijabkan hati dari pada menghijabkan aurat! Toh betapa banyak yang menghijabkan aurat perilaku dan sikap lebih parah dari tidak menggunakan hijab aurat. Nau’zubillah.

Apa membuat meraka berpikir seperti itu bahkan sampaikan-sampai mengambil analogi yang tidak cerdas. Tidak kah mereka melihat betapa berjuta wanita muslimah yang mengenakan hijab aurat memiliki akhlak lebih terpandang, lebih disegani, menjadi inspirasi wanita-wanita lain, dan menjadi idola hingga akhir hayat.

Seperti istri para Nabi, istri Presiden mesir terpilih saat ini, Yuyo Yusroh, Nini Muthainah jika di list satu persatu betapa banyak wanita menghijab aurat menjadi panutan, motivasi dan idola. Jangan sampai kita mengambilkan contoh dan analogi yang salah Cuma untuk membenarkan diri untuk menolak menggunakan hijab.

Bukan menghijabkan aurat merangkap menghijab hati? Akan berbeda makna atau stimulus ketika menghijab hati belum tentukan menghijabkan aurat. Ayo apalagi buat kita tidak mau? Dan kapan lagi waktu kita untuk menghijab aurat kita? Karena tidak ada waktu lain lebih elok selain waktu saat ini juga!

Jangan sampai pula kita kalah sama kuntilak, biarpun sama-sama perempuan tapi pakaian kuntilanak lebih sopan dari pada pakaian wanita sekarang…(shadis banget analoginya)

Seperti ilustarasi salah satu gambar marak dishare di social media jangan sampai kita menggunakan hijab pertama dan terakhir ketika dikapani. Gambar tersebut benar-benar sangat indah sebagai renungan untuk kita semua (muslimah). Berharap setelah melihat picture tersebut kita meraih hidayah, tersadari, dan bergegas minta ampunan pada Allah, meminta agar segera menaburkan kita hidayah dan kita pun istiqomah dalam naungan hidayah. Allahuma Amin

Jangan pula ketika kita menutup aurat mengikuti gaya kaum kristiani, kaum hindu, kaum sabian, kaum ortodok jew dan hendak menutup aurat seperti tuntunan islam seperti dijelaskan dalam Al-quran.

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. [QS An Nuur 24: 30-31]

Dan jangan sampai meniru style of fashion menutup aurat para kaum diatas sebab pada kenyataannya betapa banyak muslimah menutup aurat mengikuti kaum tersebut seperti contoh gambar disamping.

Banggalah dengan identitas muslimah mu, meski ada yang tak menyukai, mesti banyak yang mengolok-olokkan mu, meski banyak mengatakan mu sok alim,  terkadang mereka membenci karena mereka tak mampu menjadi seperti dirimu (muslimah sejati).

Regard

Simfonis “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: