Manis siapa takut

Bismillah…

Hari gini gitu loh gak suka manis! Rugi banget, emang rugi seberahak atuh? Pokoknye rugi daahhhh, Heeemmm tiba-tiba bahasa sunda ane keluar huakkssss. Kalau pake bahasa sunda jadi ingat masa-masa naik damri jatinangor-bandung. Pasti ente Tanya damri itu opo? Ya kendaraanlah masak bakwan hooooo. Damri termasuk kendaraan sangat penting bagi mahasiswa yang berada dijatinangor (Unpad, STPDN, lupa satu lagi universitas bertengga ma unpad) maklum sudah sekian tahun berpisah dengan tanah pasundan.

Tahu gak kalian, ya gak tahu lah belum ane kasih tahu, Hufff^__^ oke ane kasih tahu tentang damri nanti endingnya sampe jua tentang Manis.

Damri merupakan kendaraan milik pemerintah jika ente pernah kecengkareng (soehatta) pasti disana banyak banget damri mangkal dengan berbagai tujuan keseluruh ibu kota Jakarta. Nah kalau naik damri ongkos lumayan murah tapi bukan murah. Kenapa harus naik damri dan tidak naik bus, taksi atau motor? Cuma damri yang melalui tol Cileunyi dengan melalui tol sebut insyallah sampe kota bandung lebih cepat dibanding naik bis melalui cibiru.

Dulu ketika jadi mahasiswa di daerah tanah pasundan (jatinangor) sering banget bahkan tak terhitungkan naik kendaraan jelek tersebut, huuffttt. Benar-benar jelek trus muatan luar biasa persis seperti naik kereta ekonomi kalau gak percaya coba aja sekali-kali naik damri jalur (Jatinangor-bandung). Pasti bakal gak mau lagi naik secara kondisinya tidak nyaman, muatan luar biasa sampe glatungan, tukang jualan dari jualan Koran, buah-buahan, mainan, minuman pokoknya serba ada dech di damri ibarat mini market serba ada (hoooooooo)

Jadi ingat dengan kata dosen ane yang termasuk katagori dosen ditakuti (shadis) bayar murah tapi mau pelayanan mahal, itu lah manusia. Kalau mau pelayanan bagus ya naik taksi. Benar juga tuh comment dosen ane, nama juga manusia kalau orong-orong pasti gak banyak keluh…”parah banget dosen ane”

Heeemmm ternyata ada kisah mengharu biru juga, eeppp hal itu tak elok ane bahas disini alias di boikot. Bukan kah kata Aa Gym jagalah hati jangan kau kotori jadi lebih baik menjaga hati dari pada mempaparkannya. “setujukan dengan ane udah setuju waelah”

Waduhhh jadinya ane bahas tentang damri sich ^__^padahal tittle above about manis siapa takut? Oke kembali ketopik, Nah pertama kali kenal namanya manis di kota pasundan nich sebelumnya belum pernah.

Btw manis apa ye? Maksud disini bukan mojang-mojang manis emang kebanyakkan manis tapi manis buatan alias cantiknya bukan innerbeuty kalau ibarat makanan pake manis buatan jadi dilidah itu kerasa tidak enak seperti itu manis m*j*ng bandung. Sory coy kalau ada ente merasa seperti itu bukan untuk menyingung apalagi membuka aib Cuma analogi aja.

Manis disini berkaitan dengan makanan dan sambal berbau manis. Tanah pasundan termasuk daerah menyukai manis walaupun manis disana tidak melebih makanan orang jowo (jawa tengah, jawa timur, yogja). Tapi tetap kerasa manis walaupun kadarnya masih low sweet secara yang merasakan ber-lidah Sumatra yang terbiasa makanan pedes, super pedas, hot.

Nah saat itu lah ane ditantang oleh simanis? Apakah ane sanggup dan bisa beradaptasi simanis tersebut? Pertama sich tantangan tersebut ditolak terpaksa beralih rumah makan padang hingga satu bulan masih belum bisa mengalah si manis…”oke saat itu menggakui kalah tapi sekarang jangan ditantang” secara lidah ane sudah lidah jawa walaupun sudah ber-lidah jawa jangan harap saya bisa bahasa jawa apalagi jadi orang jawa “heeemmm’.

Apalagi setelah kembali dari jawa benar-benar makanan berbau pedas dan hot seperti serem banget hal ini berbalik arah seperti awal pertama ane makan makanan serba manis seram dan menakutkan. Kenapa seram? sebab makan aja dikit sambel badan sudah kepanasan. Oooo my Allah ternyata luar biasa pengaruh makanan manis dalam hidup ane. Atau mungkin ini bertanda kalau ane cocok sama orang jawa..”sweet-sweet-sweet”.

 Udah dulu ye antuna semua capek euy bahas simanis, karena dijelaskan lagi pasti simanis tuh tidak berakhir-berakhir sebab banyak cinta indah tentang manis mulai ngelur ngidul sampe nan serius.

Regard

Simfonis “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: