Tak se-sholeha kalian kira


 

Keheningan malam tanpa deru angin, tanpa temarang rembulan di langit biru dan tanpa kemunculan bintang semakin memberi suasana hening bahkan waktu yang elok untuk kontaplasi. Di tengah keheningan malam, air mata menetes setelah menunaikan kewajiban “Isya” pada Ilah dan sengaja isya ditundakan hingga larut malam tujuan menunda agar merasa nikmatnya zikir dikala makhluk Allah telah terlelap semari merenung betapa berlimpah dosa melekat padanya.

Mungkin air mata pertanda betapa hampanya hati, betapa bergelimang dosa jiwa, begitu sering kebohongan dilakukan, berkali-kali kekhilaufan terulangkan, bahkan kemunafikkan mungkin sengaja diwujudkan dan mungkin pula hati tak perawan yang pernah mensisipkan sosok nama tidak pantas disisipkan hanya untuk mengejar cinta yang semu.

Padahal diluar sana sebagian orang beranggapan, mengagumi dan menyatakan kalau ia wanita berakhlak mulia, pandai menjaga hati&pandangan, mampu bersosialasi, ramah, pandai dan manut pada orang tua.

Wahai saudara ku…

Tidak sempurna, seistimewa, seelegan, seanggun, seramah, dan sepintar itu. Merasa betapa diri Tak sesholeha kalian kira, merasa betapa diri manusia paling bodoh, merasa betapa diri tak bisa menjaga keperawanan hati, merasa betapa sering melukai perasaan orang tua, merasa betapa sering menyakiti perasaan sesama muslim, dan betapa banyak ilmu belum digali atau dipejalari tapi dengan kekurangan dari segala aspek coba secara terus menerus membangun, melatih, mempraktek, berkomitmen, dan setia untuk menjadi wanita sholeha!!!

Walaupun sepahit, sesakit, sesusuh, serumit, gagal, dan sedahsyatnya godaan tetap mencoba untuk menjadi wanita pantas meraih gelar wanita sholeha seperti batu yang terus dicurahkan hujan akan hancur dan lunak jua akhirnya. Begitupun jiwa ini berusaha sekeras, sekuat, sekokoh, dan seteguh mungkin untuk mampu serta layak menjadi wanita sholeha dipilih dan berhak berada disurga….”Allahuma Amin”

Dan tak sering pula terjadi inkonsisten dan resisten baik dari internal maupun eksternal dalam rangka menjaga izzah. Ia tahu perjuangan menuju predikat wanita sholeha tak semudah, tak segampang, dan tak seenteng kita pikirkan. Bahkan begitu dahsyatnya cobaan datang berganti seperti bergantian musim dimana setiap musim rayuan dan godaan datang dengan cara berbeda.

Kemudian semakin jiwa mendekati diri pada Allah seperti buku Jalaluddin Rumi “yang mengenal dirinya yang tuhannya” semakin merasa kecil, kardil, bodoh, munafik dan tak bermakna.

Benarlah kata pepatah semakin manusia memiliki ilmu dan dekat dengan Allah ia merasa tak berdaya, marasa tak memiliki apa bahkan merasa tidak tahu segala hal. Tapi dengan mengenal Allah “Ma’rifatallah” lah mampu memberi sejuta pencerahan, energy positif, dan kestabilan jiwa dalam lingkaran hidayah.

Regard

Simfonis

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: