Fenoma baru para female dipersidangan

Ada peristiwa uniq jika teman-teman sering menonton persidangan yang disiarkan secara live maupun unlive pada stasiun televisi swasta yaitu tentang persidangan atau kesaksian para female. Hal yang perlu dicermati bagaimana pakaian mereka sangat anggun dan cantik, maksud anggun disini adalah sangat berbanding terbalik dengan kehidupan mereka sehari-hari. Kenapa mengatakan tidak sinkron atau bentrok lihat bagaimana pakaian mereka beraktivitas dengan pakaian di persidangan. Sesuai dengan pernyataan salah satu saksi dari wisma altit yang menyatakan bahwa  yang berindentitas J “jul…”  kok berbeda atau selama ini dikenal tidak memakai cadar seperti terlihat di persidangan begitu para female lainnya. Tulisan seperti ini sudah dikupas http://www.mataram-timur.com/2012/03/pakai-jilbab-tapi-korupsi.html tapi tulisan yang sedang dibaca memberi stimulus berbeda atau baru bagi pembaca blog simfoni kehidupan.

Lihat saja bagaimana persidangan Nunung nurbaiti yang menggunakan kerudung,

see also Afriyani Susanti saat bersidangan juga menggunakan penutup kepala,

terus kesaksian persidangan nazarudin oleh juliasnis dan oktarina yang menggunakan pakain yang sangat islami banget “cadar”,

kemudian terdakwa suap Dharnawati juga menggunakan jilbab/cadar

tak kalah heboh Inong Malinda Dee saat persidangan juga menggunakan pakaian seperti rekan-rekan mereka.

Apakah behaviors seperti itu menunjukkan rasa bersalah “taubat”? atau hanya sebatas untuk menutup identitas agar public tidak mengetahui face mereka?, atau fenomena social baru dalam persidangan? atau ada aturan baru kalau dalam persidangan harus menggunakan jilbab/kerudung/cadar? setahu penulis dalam persidangan hanya diwajib menggunakan berpakaian sopan ini pun berlaku dimana-mana tidak hanya dipersidangan saja  seperti penulis kutip dari blog hukumonline.com bahwa “Ketua Pengadilan Negeri Depok itu menegaskan tidak ada undang-undang yang secara khusus mewajibkan terdakwa harus berpakaian ala A atau ala B. Yang diatur undang-undang adalah keharusan berlaku sopan dan tertib selama mengikuti persidangan”. menegaskan bahwa bagi majelis, yang paling pokok adalah kesopanan, bukan pada mode atau warna pakaian. atau  merasa lebih nyaman dan berharap bisa meyakinkan hakim bahwa dirinya orang baik-baik, bukan koruptor? atau ada alasan lain agar para pesakitan/saksi mendapat hukuman ringan? Atau atas nama HAM berhak menggunakan pakaian beridentitas agama di persidangan? “I do not know what they think about the clothes they use”?

Disisi lain memiliki muatan nilai positif namun disisi lain seakan-akan menjelek para muslimah yang benar-benar menjaga identitas muslimah “kerudung dan cadar” seperti ulasan “http://www.mataram-timur.com” berjilbab tapi korupsi menitikberarkan bahwa perilaku seperti itu tentu merusak citra dan norma keagamaan sehingga logis kalau ada orang yang kesal kepada mereka yang berjilbab, tetapi perilakunya tidak mencerminkan norma-norma luhur keagamaan..

Berharap para tersangkut kasus apapun hendak berpakaian seperti kehidupan mereka sehari-hari bukan berpakaian Ala A hingga Z. Bukan tidak membolehkan atau memboikot para female menggunakan pakaian seperti itu pada persidangan malah sangat bagus serta cantik, akan tetapi akan lebih elegan, esotik, dan bagusnya lagi pakaian seperti itu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari tidak hanya pada moment tertentu seperti persidangan.  semoga setelah kejadian dipersidangan mereka mendapat hidayah serta merasa nyaman dengan pakaian seperti itu (jilbab/cadar). AmienJJJJ

Regard

Simfonikehidupan&one Finger

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: