Musim Panen di kampung “kerinci”

Ketika melusuri jalan-jalan desa “lorong-lorong” di kabuaten kerinci tepatnya bulan April dan Mei akan melihat bagaimana kesibukan warga kerinci yaitu dikenal dengan istilah menyabit “red:panen padi” kesibukan warga desa tidak hanya sampai disitu. Setelah menjabit the next activity adalah jemur padi dan dipangan “red: dikipasangin” supaya terpisah antara padi dan nonpadi “red:ampo”. Itulah kegiatan yang menyibukan warga  kerinci saat ini. Apalagi ketika menyabit  musim hujan malah makin repot karena harus kerja dua kali yaitu mengering padi untuk beberapa hari, hal ini harus didukung oleh sinar matahari yang terik tapi Alhamdullah berapa hari ini matahari sedang bersahabat dengan warga kerinci.

Warga  kerinci menikmati kegiatan tersebut karena hal seperti itu hampir setiap per 6 bulanan melakukan kegiatan yang sama. Padi merupakan urat Nadi pendapatan para Petani kerinci selain berkebun dan padi merupakan pasokan keuangan terbesar. Bersyukur lahan Sawah masih luas dibanding diperkotaan, walaupun masih luas namun hasil dari menyabit tersebut tidak seperti  tahun 80 pulahan dimana hampir rata-rata warga desa  memperoleh hasil mereka hingga beratus kaleng, tapi sekarang susah untuk mencapai hasil tersebut. Banyak factor yang mempengaruhi hasil menyabit warga kerinci terutama factor Hama, tikus, kekurangan pupuk, kekeringan, cara mengelola sawah dan padi sakit. Apalagi harga pupuk semakin mahal semakin membuat warga kerinci susah untuk membeli sangat berbandig dengan harga padi yaitu 45ribu berkaleng.

Tak kalah serunya  harus ikut turun kesawah walaupun sebatas mengantar Nasi para tukang sabit “red:profesi sebagai panen padi” dan tidak menyetuh genangan air dan lumpur ditengah persawahan. Benar-benar membuat hati terenyuh karena hasil diperoleh tidak sebanding dengan payah ketika turun kesawah.

Bahkan telah bisa merasakan bagaimana susah dan capek berprofesi sebagai Petani, harus berhadapan dengan panasnya terik matahari, sakitnya tergores jerami padi, dan memikul padi sampai dijalan terus diangkat sampai kerumah. Namun para petani tidak pernah mengeluh mengatakan capek, panas, sakit dan sebagainya. Subhanallah begitu ikhlas dan penuh cinta petani menjalankan profesi mereka demi keluarga, anak dan masa depan. Perjuangan para petani benar-benar harus dicontoh terutama diterapkan dalam belajar, beramal dan menuntut ilmu.

Jadi teringat dengan sebuah buku tentang bekerja dengan ilmu dan fisik. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa bekerja dengan ilmu tidak perlu bontang-banting hanya memerlukan ide, strategi dan teori, sedang bekerja secara fisik memerlukan kekuatan, berkeringat dan sakit. Perbandingan tersebut sangat berbeda jauh antara 80 banding 20, misalnya si A kerja dengan Fisik setengah hari diperoleh hasil 50 Ribu maksimal sedangkan si B kerja dengan ilmu Cuma setengah atau sepermpat jam sudah bisa memperoleh 100 ribu.  Maka benarlah kata Al-quran tidaklah sama orang yang tahu dengan tidak tahu, tidaklah sama orang perilmu dan berilmu sehingga Islam mengajurkan umatnya Iqro dan menuntut ilmu walaupun kenegeri Cina. Kemudian dengan ilmu pula derajat manusia diangakt baik di mata Allah dan Manusia. Inalah makna secara sempit/awam dari penjalasan al-quran tersebut.

Tapi sayang masih ada beberapa warga kerinci  meremehkan pendidikan dan knowledge seperti mereka tidak menyekolah atau mengkuliah anak mereka setinggi-tingginya, menikah anak belum selesai sekolah, bahkan steatment mereka masih negatif dengan pendidikan misalnya kenapa juga kuliah tinggi nantinya back to dapur, dan membiarkan mereka asik dengan nonton dan bermain-main. Ini menunjukkan masih rendahnya kesadaran pendidikan dan skill di kerinci. Entah kenapa pula tiba-tiba suka mengamati “human behavior”, melalui amatan tersebut coba mamadukan dengan teori-teori yang pernah dibaca terutama teori Sosiologi dan teori psikologi komunikasi. Antara kedua teori tersebut benar-benar saling berkolarasi “berkaitan” dan sangat apik digunakan ketika  afiliasi atau disebut dengan teori “NAFF” dengan masyarakat.

Setalah musin nyabit usai maka para petani mulai lagi turun kesawah yaitu mengarap sawah mereka untuk menanam padi kembali. Warga kerinci sangat jarang bahkan tidak pernahh random “menyelingi” cocok tanam mereka seperti di pulau jawa misalnya setelah panen maka menanam jagung atau palawija lainnya. Mungkin  tidak terbiasa atau budaya tidak pernah membentukkan hal tersebut. Padahal dengan menyelangi cocok tanam sangat berdampak pada kesuburan tanah, memanalisir hama dan menambah valume hasil panen.

Dan hal yang penting bagi warga kerinci adalah mensosialisasi dan difusi “red: penyebaran” cara mengolah lahan dengan baik, seperti pernah ikut seminar tentang pertanian dipaparkan bahwa para petani tidak harus mengguna pektisida atau pupuk urea untuk menyuburkan padi meraka, karena Alam sebenarnya telah menyediakan pupuk dengan kualitas paling wahid. Tetapi terkendala dengan sources, experience, understand and knowledge sehingga warga kerinci tidak tahu “how the best maintenance”.

Ikut senang melihat runitis para petani kerinci, semoga runitas mereka tersebut sebagai lahan ibadah. Bagaimana tidak sebagai lahan ibadah??? karena  petani bekerja dengan niat yang ikhlas demi anak mereka. Bahkan tidak pernah mengeluh serta mensyukuri berapapun hasil dari menyabit “panen”. Semoga dengan kebersyukuran tersebut Allah tambah nikmat yang lain, Seperti dijelaskan dalam al-quran siapa yang sabar dan bersyukur maka akan kami tambah kenikmatan pada mereka. Amien.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: