Semangat perubahan dan prestasi dari lingkaran kecil

Di hamparan rumput  diselangin teriknya matahari dan embun yang menanda akan terjadi hujan, terdapat pula tumpukan sampah makanan disekitar kami duduk berlingakaran, terlihat pula tiga ekor sapi sedang menikmati sinar matahari. Kemudian terlihat pula manusia lalu lalang dengan menggunakan baju kebesaran “red: baju pemda/PNS” dan tukang ojek “standing and waiting” penumpang bahkan ada pula memanfaatkan hamparan rumput dan jejeran pohon sebagai tempat pacaran. Hampir disetiap taman kota banyak dimanfaat remaja ataupun anak muda sebagai tempat  berdua-duan, sepertinya tradisi belajar outdoor bagi mahasiswa, guru, maupun pelajar belum terbiasa khususnya dipedesaan. Seharusnya tempat seperti itu sebaiknya digunakan sebagai tempat berdiskusi, belajar kelompok dan bersifat positif.

Pertemuan seperti ini mengingat kembali masa-masa menjadi mahasiswa, sering sekali berkumpul bareng teman dihamparan rumput, bawah pohon atau taman dan berkumpul dimushalla ataupun mesjid kampus “UGM” ketika ada rapat organisasi, tarbiyah, tugas kelompok maupun personality.

Pertemuan pertama kami benar-benar penuh tawa namun tak lari dari content  “motivasi diri”. Biasanya bertemu mereka-mereka “red:mahasiswa” diruangan perkuliahan yang bersifat formal, namun hari ini (Rabu, 25 April 2012) berbeda dengan pertemuan sebelumnya. Hal ini benar-benar direncana dari awal  walaupun yang hadir di hamparan rumput tersebut sekitar sepuluh orang dari 30 mahasiswa. Tetapi jumlah tidak memudar semangat dan canda kami dihamparan rumput yang memberi oksigen serta menambah keakraban kami.

Terlihat bagaimana satu persatu dari mereka mengacungkan tangan “bertanya” terutama tentang “life, love and achievement” begitu pula saya begitu semangat untuk menjawab pertanyaan mereka. Tujuan membentuk kelompok seperti ini agar mereka termotivasi dan tetap semangat menjalani hari-hari mereka baik itu sebagai mahasiswa, anak dan hamba Allah. Tak lupa pula dalam motivasi tersebut menyisipkan materi harus mendekat diri pada Illah “rabbi” baik mengikuti organisasi LDK ataupun organisasi lain bersifat keagamaan. Kemudian memberi contoh konkrit bagaimana kita tahu bahwa toko nasional Indonesia maupun internasional yang sukses pada umunya mereka dekat dengan Tuhan mereka. Persisnya seperti judul buku Jalaludin Rumi “yang mengenal Tuhan yang mengenal dirinya” benar sekali ungkapan penulis buku tersebut. Ketika mengenal Rabbi kita maka akan tahu tujuan, peran dan tugas kita dalam hidup ini.

Ketika saya memotivasi mereka sebenar sedang memotivasi diri saya karena hampir tiga bulan berlalu dirumah sepertinya amal dan knowledge stagnan tak terlihat kemajuan bahkan kedekatan diri pada Allah seakan-akan memudar, semangat membaca seakan-akan luntur, apalagi semangat untuk menulis. Semoga dengan motivasi mereka, semangat tersebut kembali membara^__^.  Bisa jadi kelunturan tersebut dipengaruhi lingkuran, kenyamanan, atau diri saya benar-benar sedang lemah melawan godaan.

 Sedangkan asyiknya berdiskusi suddenly “tiba-tiba” rintik hujan mengalih perhatian  sehinga memutuskan untuk pindah dari hamparan rumput menuju teras. Walaupun tempat tidak layak untuk diduduki akan tetapi tidak berhenti berdiskusi sehingga larut dalam pertanyaan dan jawaban. Dari pertanyaan mereka ajukan  menunjukkan bahwa mereka ingin berubah dan menjadi orang sukses terutama teruntuk keluarga. Seperti dijelaskan MCclelland dalam buku memacu masyarakat prestasi  yang terkenal dengan teori N-ach “Need achievement” bahwa setiap manusia mememiliki motif prestasi. Untuk meraih Achievement banyak factor yang mempengaruhi antara lain “ras dan lingkungan, cara tua mangasuh anak/hubungan orang tua terhadap anak, Nilai keagamaan, kelas social, iklim, pengaruh pendidikan, infrastuktur/sarana”.  Semoga kedekatan mereka dengan Rabbi dan latar pendidikan mereka mampu mencapai  impian dan target.

Conclusion for discussion…   “bahwa hambatan dan cobaan datang menghampiri kita jangan sampai memudar semangat untuk belajar, terus asahakan skill and always prayer to Allah because nothing impossible in the words. Bahkan manusia-manusia cerdas di negeri ini banyak dilahirkan dari pelosok desa yang kekurangan dalam segala hal. So, we have to must spirit…Insyallah. Dan semoga lewat lingkaran kecil lahirlah generasi memiliki physical yang kuat karena Allah mencintai umat yang kuat, intellectual dalam bidang masing-masing terutama science, Moral yang tidak akan tergoyah karena telah memiliki pondasi yang kuat yaitu dinul islam “spiritual”, interpersonal yang mampu menarik lingkuran sekitar menjadi insan terbaik dari setiap zamannya, dan terkahir selalu menjunjungi tinggi budaya dan sosial bersifat kekeluargaan.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: