Indahnya kebersamaan dengan Pona’an

Beberapa hari  ini menyisir rambut, suapin makan dan antarain pona’an kesekolah. Jadi teringat beberapa tahun yang silam tepatnya ketika duduk di Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah menengah pertama (SMP)   tiap pagi disisir rambut sebelum berangkat kesekolah kemudian rambutnya diikat dua oleh ibu “bundo” karena ketika SD dan SMP diwajibkan ikat rambut kalau gak kena sidak sama ibu guru serta dihukum. Saat seperti ini mengingat kembali memory ketika masih kecil dan ternyata begitu cepat waktu ini berlalu, padahal merasa kemaren loh jadi anak kecil yang selalu merengek ketika dikasih mandi malas belajar, maunya main-main aja dan kalau dikasih ngaji ada aja alasan dibuat…”untold story when a small”

 Namun sekarang beralih peran sebagai orang tua “UMMI” walaupun belum menikah dan punya anak tiba-tiba menjiwai sebagai ibu kepada pona’an karena someday pasti akan menjadi sosok ibu walaupun entah kapan waktu itu akan terjadi atau terwujud….”insyallah sebentar lagi hihihihi menghibur diri sendiri apa salahnya ckckkckck”

Dilain pihak terdiskripsikan dalam logika bahwa menjadi sosok ibu tidak mudah karena disana dibutuh knowledge, skill and high religious agar seorang anak benar-benar merasa cinta dan kasih dari dekapan seorang ibu. Begitu banyak gambaran bagaimana seorang anak di didik oleh ibu dan bapak yang tidak berpendidikan dan beragama (islam KTP), anak-anak dibawah naungan orang tua seperti itu  selalu mendapat kekerasan fisik serta menyamping ilmu.

Kemudian saat ikat ramput dan suapin pona’an sambil ngombrol menanyakan tentang sekolahnya hingga ia bercerita dengan sikap dan cara yang lucu dan otomatis membuat hati terhibur dan tertawa kecil-kecil. Sungguh anak kecil itu selalu membuat orang tua gembira walaupun terkadang pasti ada ngeyel-ngeyelnya.  Bahkan pernah memarihi pona’an gara-gara permasalahan yang luar biasa, setelah marah tiba-tiba air mata menetes karena tidak tega dan menyesal kok bisa-bisa marahi pona’an seperti itu. Teringat pula ketika keinginan ia tidak diwujudkan hati kembali pilu pula alias tidak tega….Heemmm ternyata sosok ibu benar-benar penuh cita dan ketidak tegaan pada anak mereka.

Akui selama ini mungkin jarang berkomunikasi seperti ini dengan pona’an karena dipisah oleh jarak yaitu menyelesai pendidikan. Dan air mata cinta pun menetes melihat dia berangkat sekolah sambil berdoa ya Allah semoga pona’an menjadi generasi maddani dan penerus islam. Yakin seperti ini yang dirasakan   orang tua ketika mendidik saya, begitu banyak harapan dan impian meraka kepada anak mereka. Cinta orang tua terkadang kita balas dengan marah dan merajuk kepada mereka ketika keinginan dan kehendak hati tidak diikuti. Ya Allah ternyata selama ini lebih banyak mengecewa meraka dari pada membuat mereka tersenyum.

Heeemmm Indahnya kebersamaan dengan pona’an beberapa bulan ini, seakan-akan telah menjadi ummi benaran apalagi saat ngajar pona’an mengaji dan ikut sholat hihihihi ….Teringat dengan materi kajian dari seorang ustad bahwa pahala terbesar seorang ibu ada dirumah tangga mereka dan pahala seorang ibu hampir sama dengan pahala jihad fisabilillah. Subhanallah ternyata Allah begitu adil dalam menetepkan sesuatu.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: