lecture in memory of the land of Java

Ketika melihat mahasiswa baru memasuki gerbangan kampus/universitas teringat dengan masa-masa pertama kuliah. Jika Maba (mahasiswa baru) di antarin orang tua mereka tetapi saya bukan diantarin orang tua malah diantarin kakak (mybrother). Mengurus segala berkas yang berkaitan mahasiswa baru mulai registrasi, isi KRS, minta tanda tangan, mencari kos dan transfer uang. Sungguh luar biasa jasa-jasa mybrother dalam meraih gelar sarjana maupun master. Terimakasih Allah Engkau anugrahkan kakak “abang” yang bertanggung jawab dalam membimbing adiknya hingga selesai meraih gelar master.

Kenangan sangat aroik “lucu” yaitu setelah pendaftaran selesai semua dan hari pertama perkuliah nangis minta pulang kampong…”hoohohoo” sungguh lucu bahkan diingat-ingat jadi ketawa sendiri dengan adegan menangis tersebut. Tepat pada tahun 2003 sekitar 9 tahun yang silam  dimana telepon kerumah minta dijemput dan tidak mau jauh dari orang tua. Hal itu terjadi lebih kurang seminggu dan Alhamdulillah berjalan waktu mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan baik dari segi bahasa, makanan, dan budaya. Walaupun sudah bisa beradaptasi akan tetapi keinginan pulang masih membekas….ckckckck…

Jika waktu itu benar-benar pulang dan dijemput orang tua gak tahu bagaimana nasib kuliah waktu itu. Tapi untung orang tua dan kakak selalu memberi semangat dengan mangatakan bahwa pertama kali emang seperti itu. Ntar juga merasa indahnya suasana perantauan…

Tapi benar kata mybrother, akhirnya lebih kurang 9 tahun diperantuan merasa indah masa-masa perkuliahan, persaudaraan dan pertemanan. Selama 9 tahun itu pula semua dilakukan sendiri (mandiri) karena jauh dengan orang tua, hidup layaknya dalam kotak yaitu kamar 3×3 yang berisi kasur, lemari baju, meja belajar, televise, tempat sepatu, dapur mini dsb, kebersamaan dengan teman baik teman kuliah, organisasi dan kajian. Dengan itu semua menambah keindahan dan semangat untuk terus kuliah-kuliah. Bahkan kehidupan perantauan membuat jarang pulang yakni setahun sekali….”pengematan biaya” wkwkkwkkk….

Nah yang lebih parah lagi yakni ketika dapat jatah sakit…”uupppsss” pilunya. Apalagi mahasiswa sangat renta terjangkit sakit. Karena kita tahu pola hidup mahasiswa apa adanya hehehehe….”makan seadanya, tidur larut malam, banyak berpikir” maka hal seperti itu sangat mempengaruhi terjadi sakit pada mahasiswa.

Keadaan seperti itu pula mahasiswa di uji kesabaran, keikhlasan, dan kemandirian  apalagi jarak begitu jauh. Sangat bersyukur selama 9 tahun diperantaun Alhamdulillah hanya dapat tiga kali jatah di opname. Tapi yang lebih bersyukur lagi ketika sakit dirawat teman-teman yang baik hati dan ikhlas. Semoga kebaikan teman itu Allah ganti dengan kenikmatan dunia dan akhirat, amiien.

Setelah selesai meraih gelar master, tiba-tiba rindu dengan pola kehidupan mahasiswa. Apalagi saat melintas dipasar melihat sekumpulan mahasiswa yang berjilbab panjang dan memakai tas rancel sehingga teringat dengan suasana ngumpul-ngumpul dimesjid sambil membaca al-quran serta tawa-tawa kecil ketika bercerita tentang masa depan, rindu menentang tas rancel yang isinya sangat lengkap mulai dari leptop, air minum, al-quran, mukenah, buku, dan kabel-kabel. Rindu tidur larut malam sambil mengerjakan tugas-tugas kuliah sambil ditemanin kopi panas dan gorengan atau mie instan. Rindu dengan suasana kamar 3×3 yang sempit dan penggap ^_^. Rindu berangkat pagi pulang pas magrib. Tapi itu tak mungkin lagi dirindukan suasana seperti itu kecuali kuliah lagi… walaupun suatu saat kuliah lagi suasana pasti akan berbeda karena berada di daerah, budaya dan system yang berbeda.

Kenangan sejak pertama kuliah hingga meraih gelar master sungguh luar biasa memberi pengaruh pada kualitas berpikir, kualitas bekerja, meningkatkan kualitas berkarya dan meningkatkan kualitas iman dan taqwa. Seperti dijelaskan prof habibie bahwa

“Persaingan antara para ilmuwan sangat berat dan ketat. Saya harus bekerja lebih keras menghadapi para kolega ilmuwan lain yang berbakat dan berpendidikan tinggi. Persaingan keras seperti ini berpengaruh positif pada prilaku dan pengetahuan pribadi saya. Akibatnya proses keunggulan pada diri saya cepat berkembang.

Kenangan kuliah ini merupakan bagian lembaran kehidupan yang harus disyukuri, karena masih banyak lagi kedepan perjuangan harus diperjuangkan agar teruntai kenangan lebih indah dari kenangan masa-masa pendidikan.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: