Muhasabah Terhadap Nikmat Usia

Sahabat…, semakin lama kita hidup, tidak terasa amanah umur yang kita dapat sebagai berkah dan nikmat dari Allah SWT juga semakin berkurang dengan sendirinya. Apapun cara kita menikmatinya atau menjalaninya itu semata-mata tergantung cara kita menyikapi dan memperdulikan setiap kesempatan yang ada di hadapan kita, baik – buruknya ada dalam sikap terbaik kita menyikapinya.

Semakin bertambah usia semakin bertambah pula beban yang kita bawa, bahkan semakin berat. Bersyukur jika beban yang kita bawa itu adalah yang akan bermanfaat diakhirat nanti..Tapi bagaimana jika beban-beban itu benar-benar hanya menjadi beban bahkan akan menyulitkan kita diakhirat nanti?? Betapa kita sadar tidak semua tindakan yang kita lakukan selama ini adalah yang bermanfaat bahkan banyak kesia-siaan…

Ulang tahun, Tambah tahun,  Apapun namanya, apapun makna asalnya, letaknya tetaplah sangat dekat dengan awal (kelahiran) dan akhir (kematian). Sebagaimana kelahiran telah dilalui dan tak dapat diulang, kematian yang ada di depan matapun dan tak dapat diabaikan. Berpikir tentang kematian sebagai tonggak akhir, sama seperti menentukan tempat yang ingin dituju saat melabuhkan kapal. Ingin diingat sebagai apa saat mati nanti?? Ingin kematian yang seperti apa?? Ingin telah menjalani kehidupan yang seperti apa saat mati nanti?? Akankah ada penyesalan atau rasa syukur di akhir nanti??

Merenungkan kembali pemaknaan tentang umur kita…

Pertama, umur adalah karunia Allah SWT yang wajib kita syukuri dengan sungguh – sungguh dan menggunakannya dengan segala sesuatu yang diridhai oleh Allah SWT. Maka, bangsiapa yang tidak menggunakannya dengan baik berarti dia sudah kufur nikmat. Na’udzubillah. Semoga kita mampu mengevaluasi kembali diri kita…

 Kedua, umur manusia pada hakikatnya sermakin berkurang. Manusia ketika dilahirkan sudah ditentukan rezeki, jodoh, dan umurnya sehingga semakin bertambah umur berarti jatah hidup yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT akan semakin berkurang dan semakin dekat pula kita dengan kematian…

 Ketiga, umur itu laksana pedang kalau kita anggap umur itu menghabiskan jatah waktu hidup di dunia ini. Jadi kalau mengacu kepada hadits, bahwa waktu itu laksana pedang, berarti umur pun laksana pedang. Artinya, setiap saat bisa membunuh kehidupan kita, jika sedetik saja kita berbuat sia-sia,  dan Allah SWT mencabut nyawa kita, maka habislah amal kita dan tunggullah azab Allah SWT. Semoga kita menjadi manusia yang senantiasa berjuang memanfaatkan umur – umur kita penuh amal shaleh…

 Keempat, umur adalah catatan hidup manusia. Ingatlah bahwa kita ini sedang menghitung hari. Berapa hari yang sudah digunakan untuk kebaikan amal shaleh, berapa hari yang tidak digunakan untuk amal shaleh. Sedangkan nanti diakhirat amal kita akan ditimbang. Seandainya, umur kita lebih banyak amal baiknya maka surgalah yang akan menjemput kita. Akan tetapi, jikalau amal jelek yang lebih berat maka neraka yang akan menjemputnya. Semoga kita berusaha sekuat tenaga agar hari demi hari diisi dengan amal shaleh.

 Yaa Allah hanya Engkaulah tempat kembali kami. Hanya Engkaulah Yang Maha Tahu sisa umur kami. Berikan kesempatan bagi kami Yaa Allah… Mempersembahkan yang terbaik..

 Robbana aatina fidunyaa hasanah.. wa fil akhirati hasanah.. wakina adzabannar.. wa adkhilna jannata ma’al abraar.. Yaa Adzim… Yaa Ghofar… Yaa Robbal ‘alamin…

by Siti Ruqayah on Tuesday, November 1, 2011 at 6:37pm

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: