TOEFEL

Toefel merupakan salah satu syarat bagi mahasiswa untuk mendapat beasiswa apalagi beasiswa keluar harus mencantum nilai TOEFEl tersebut.  Saat ini juga ada beberapa perguruan tinggi negeri maupun swasta mencantumkan syarat TOEFEL sebagai persyaratan masuk maupun kelulusan. Seperti perguruan tinggi yang telah melakukan hal tersebut adalah Universitas Gajdah Mada, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung dan masih ada beberapan perguruan tinggi di Indonesia mewajibkan Toefel. Namun setiap perguruan tinggi memiliki score berbeda. Seperti tempat saya menimpah ilmu saat  ini yakni Universitas Gajdah Mada memberi kebijakan score untuk S1 400, S2 450 dan S2 500.  Ujian TOEFEL hanya diakui keahsannya ketika mahasiswa Universitas Gadjah Mada mengikut ujian di Pusat Pelatihan Bahasa. Seandainya ikut ujian diluar (selian PPB) kemungkinan besar dan pasti tidak diakui walaupun dari luar negeri. Seperti salah satu teman Himpunan Mahasiswa Pascasarjana dimana beliau menceritakan tentang kronologis nilai Toefel tidak diakui dari pihak PPB UGM sedangkan tempat ujian di Amerika Lhooo…”aneh juga ya”. Tapi biarlah keanehan itu menjadi tanda Tanya bagi mahasiswa pascasarjana UGM.

Ketika ikut ujian Toefel di Pusat Pelatihan Bahasa Universita Gajdah Mada banyak hal yang diamiti mulai dari masalah lucu dan menengangkan…”cileee dramatis banget, biasa aja kaliiii”. Suweeeerr kalau gak percaya monggo merasakan hal yang lucu dan menengang disana…”hohoho”. Adapun hal yang menegangkan yakni waktu pendapatan pertama kaget lihatin antrian kayak antrian pembagian sembako atau Raskin hihihii… sebenar sudah pernah mendengar dari kakak tingkatan tentang cerita bagaimana antrian pendaftaran toefel. Karena waktu belum pernah mengalami hal seperti itu Cuma gak terlalu menangkapi serius pembicaraan alias Cuma sebagai pendengar yang baik aja…akhir juga merasakan cerita menenggang yakni ketika pendaftaran pertama dimana dikagetin  dengan desakan-desakan ya presis antiran minyak tanah gitu! Truz datang harus pagi dari kosan atau rumah, kalau sudah siang aja berangkat kagak bakalan dapat formulirnya. Hanya bisa geleng-geleng kepala waktu itu kok sembarung banget ya padahal ini universitas ternama (world class university) di Indonesia bahkan universitas yang masuk 100 besar di dunia.  Tapi alhamdullah minggu kedua sudah tidak seperti itu sudah keren dikitlah pake kartu antrian… “hari gini masih aje pake sistim manual hhmm”

Hal membuat saya bertanya lagi yakni masalah pembayaran pendaftaran dikenakan 30 ribu untuk bangku ekonomi, 75 ribu untuk bangku bisnis dan 125 untuk bangku eksekutif . Bagi mahasiswa yang belum bekerja sangat berat sekali untuk membayar segitu kalau dialokasi buat makan bisa buat berapa hari tuuhhh….”aduuuhhh perhitungan dimulai hohohoo”. Apakah tidak bisa dikurangi sekitar 10 atau 15 ribu aja!!! Okelah kalau dihitungankan dana dihabiskan oleh Pusat Pelatihan Bahasa untuk ujian hanya kertas lembaran jawaban, soal, truz pemutaran kaset dan honor pengawas. Soalnya juga itu saya hanya kenapa bisa mengatakan itu saja karena ada beberapa teman sudah 2 kali mendapat buku tes tersebut. Kalau dikakulasi semua kayak tidak habis 30 ribu rupiah. Tapi kenapa pendaftaran mahal ya???? Atau memang sudah ada kebijakan harus seperti itu atau ada alasan lain…!!!

Kemudian uang pendaftaran toefel sebanyak itu dikemanakan ya. Padahal setiap minggu ada 2 sekmentasi yang ikut ujian yakni hari kamis dan jumat sore. Tiap minggu peserta yang ikut sekitar 400 orang kemudian dikali 30 ribu. Jadi Pusat pelatihan Bahasa memperoleh uang tiap minggu sekitar 1.000.000 sekian belum termasuk yang ikut ujian VIP jika kakulasi secara kesulurahan dalam bulanan maka Pusat pelatihan bahasa memperoleh sekitar 4 juta lebih. Hal menjadi pertanyaan kita semua adalah kemana kah uang sebanyak itu!!! Mungkin buat perbaiki fasilitas Pusat Pelatihan Bahasa, mungkin sebagai uang kas, mungkin buat gaji lembur….”kebanyakkan mungkinnya nich capek mikir kemana mengalir uang tersebut…” seharusnya mahasiswa Pascasarjana Universitas Gadjah Mada mempertanyakan dan kritis. Jangan tiap minggu kita hanya ikut Toefel dan pikiran lulus saja tapi tidak tahu kemana uang itu pergi…!!! Disatu sisi sangat kelihatan sekali seperti komersial, bagaimana tidak ujian toefel hanya diakui bilamana ujian di PPB. Kemudian hanya ingin mengetahui kemampuan mahasiswa dalam bahasa inggris kenapa harus bayar segitunya paling tidak digratiskan atau kompensasi pendaftaran. Seperti ini birokrasi di Indonesia selalu ingin dibayar selalu ada honornya.

Truzzz…ada cerita teman satu kelas sudah ikut ujian toefel yang keberapa gitu, tapi bisa-bisanya nilainya kosong menolompong. Padahal sudah ikut ujian. Setelah dikonfirmasi pada pihak pengelolah PPB memberi alasan yang tidak masuk akal. Tapi karena teman tidak mau berdebat begitu panjang, menirimo saja keputusan tersebut. Seandainya terjadi hal tersebut untuk kedua kali atau ketiga dan seterusnya pada yang lain apakah keputusan sama dan alasa sepriti itu juga akan diuraikan…!!!

Waktu duduk santai di pusat pelatihan bahasa membahas hal tersebut banyak kritikan tajam sambil cengkar-cengir. Wahh ini gak adil nich…waahhh kok bisa seperti itu….waahhh seharusnya ada aturan tertulis jangan sebutin aja peraturan ada tapi tidak secara tertulis…waahh menghambat kegiataan saja. Pokok seru juga pembahasan tentang toefel saat penuh tegangan…

Yang lucunya sempat terlintas dalam benak “mindset”  yakni ketika melihat wajah para pencari  nilai 450. Dengan berbagai macam ekspresi ketika lihatin nilai antara lain kesenangan, biasa-biasa saja, dan sedih.  Kemudia ada sudah 10, 8  kali ikut belum lulus bahkan ada yang 14 kali tetap belum lulus…”hohoho” semangat demi 450. Jangan-jangam ada juga yang cinlok (cinta lokasi) bagaimana tidak setiap minggu ketemu di PPB “hhmmm”, yang pasti nya dapat teman baru dari berbagai program studi dengan kelulucaan mereka menceritakan tentang suka dan duka ketika ikut ujian Toefel. Memang setiap sesuatu pasti ada hikmah dan sejarah tersendiri seperti hari ini dapat cerita baru dan pengalaman baru dari teman pascasarjana dari berbagai daerah dan profesi. Thaks a lot my friends tentang cerita penuh jenaka serta ilmiah. Mari terus berjuang sampai mendapat setempel lulus dari DAA. Biarlah 30ribu menjadi kenangan penuh hempitan, biarlah reading, structure, and spoken English menjadi penghias hari untuk semangat belajar bahasa Negara asing penuh kapitalis dan hedonis.

 

 

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: