MENCIPTAKAN BRAND PERPUSTAKAAN

MENCIPTAKAN BRAND PERPUSTAKAAN

PADA ERA TEKNOLOGI DAN INFORMASI

Oleh: Testiani

Mahasiswa Pascasarjarna UGM – Manajemen Informasi Perpustakaan

Pendahuluan

Pada era Entertainment yang membanjir masyarakat luas ini sangat berdampak pada pencitraan (Brand). Banyak lembaga  yang mulai membangun brand terutama untuk lembaga profit. Hal ini sangat penting sekali pada era teknologi dan informasi menciptakan brand. Dimana masyarakat luas ketika pertama kali menggunakan suatu produk alasan utama dipertimbangakan mereka adalah brand. Sangat mustahil masyarakat tidak mempertimbangan hal tersebut ketika untuk menggunakan produk.  Apabila brand yang tertanam dalam suatu produk baik maka pengunjung akan menggunakan produk tersebut.

Perpustakaan di era teknologi dan informasi  mempunyai peluang untuk dapat membentuk brand suatu perpustakaan. Perpustakaan adalah agent of change yang juga mempunyai kekuasaan. Sekarang bahkan memungkinan perpustakaan dapat menjadikan dirinya suatu lembaga dengan profit oriented dengan perkembangan yang terjadi pada teknologi informasi dan komunikasi. Hal ini juga dipengaruhi oleh salah satu daya saing perpustakaan dan pustakawan dengan adanya afta (asean trade area) dimana katanya akan berlaku pada  tahun 2020 namun dipercepat menjadi tahun 2015 (sulistio-basuki, 2005). Persaingan tersebut bukan saja diantara perpustakaan kita tetapi termasuk persaingan tingkat asean maupun dunia. Parsaingan  disini diantaranya persaingan dibidang layanan terhadap pengguna  jasa perpustakaan.

Membangun brand adalah bukan suatu pekerjaan yang mudah, tidak seperti membalikkan telapak tangan sekedar berucap simsalabim, untuk kemudian semua brand yang sudah melekat tersebut akan berubah. Saya kemudian teringat beberapa waktu yang lalu pada perkuliahan public relation and promotion disampaikan bahwa brand suatu lembaga sangat dibutuhkan. Brand adalah merupakan arus berkelanjutan.  Brand tersebut berada didalam “marketing plus triangle”. Disini artinya bahwa ada beberapa elemen-elemen terkait seperti shareholders, people and customer, dimana ketiganya tersebut akan menghasilkan suatu total human reward, total quality service, dan long-term profit. Semuanya tersebut tidak berhenti pada arus lingkar tersebut, tetapi kemudian membentuk suatu arus lingkar lebih menciut (srunk), yaitu on going relationship, sense of ownership, dan superior percieved value. Suatu brand akan berada di dalam plus tiangle bersama-sama dengan service dan process dari marketing.

Bahwa saat ini hampir seluruh perpustakaan di Indonesia belum memiliki brand yang melekat di hati masyarakat atau pengunjung. Perpustakaan dalam masalah brand sangat jauh tertinggal dengan lembaga informasi lainnya. Jika melirik brand yang digunakan selama ini oleh perpustakaan hanya terintergrasi dengan lembaga penaung perpustakaan. Misalnya perpustakaan perguruan tinggi brand hanya sebatas Tri Dharma Perguruan Tinggi atau jantungnya pendidikan. Maka dari itu sangat diperlukan bagi seluruh perpustakaan, penaung perpustakaan dan pustakawan di Indonesia mulai berpikir untuk menciptakan branding perpustakaan, karena hal tersebut sangat diperlukan pada era teknologi informasi.

Dimana kita tahu bahwa sekarang begitu banyak perpustakaan yang dikelola oleh masyarakat luas (komunitas maupun perorangan) dengan memberi layanan yang mengguntung dan penuh nuansa pendidikan serta santai. Seperti perpustakaan yang banyak dikembangkan kota Bandung mulai perpustakan Potluck, Tobucil dan sebagainya memiliki brand tersendiri. Oleh karena itu branding menjadi semakin penting untuk bisnis perpustakaan persaingan hari ini. Walaupun perpustakaan bukan lembaga profit, namun branding diperpustakaan lebih kepada agar pengunjung selalu setia, menunjukkan kekuataan perpustakan dan mempengaruhi pikiran pengunjung untuk mengingat perpustakaan tersebut. Misalnya ketika masyarakat luas berbicara tentang sepatu maka terpikir adalah Nike, ketika menyembut minuman otomatis langsung teringat dengan Coco&Cola dan Aqua  Seperti itulah yang diinginkan. Sehingga adanya brand saat masyarakat menginginkan informasi, layanan terbaik, kreativitas, pendidikan, kreasi maka langsung ingat adalah perpustakan Anda.

Hakikat Brand

Brand dapat disebut “pelabelan’. Brand dapat membantu penjualan. Brand berkaitan dengan kepercayaan konsumen terhadap suatu produk atau layanan, yang diyakini tidak saja dapat memenuhi kebutuhan mereka, tetapi dengan memberikan kepuasan yang lebih baik dan terjamin. Istilah brand muncul ketika persaingan produk semakin tajam dan menyebab perlunya penguatan peran label untuk mengelompokkan produk dan layanan yang dimiliki dalam satu kesatuan guna membedakan produk Anda dengan produk pesaing.  Brand perpustakaan adalah tentang misi, proposisi nilai, visi, tujuan perpustakaan dan budaya perpustakaan dalam tindakan  inti kepribadian dan organisasi. Pada prinsipnya hakikat keberadaan perpustakaan di abad 21 dengan Branded harus memiliki fiosofi berdasarkan dengan visi dan misi perpustakaan serta menjunjungi tinggi kreativitas.

Menurut Fandy Tjiptono (2005:49) Brand adalah deskripsi tentang asosiasi dan keyakinan konsumen terhadap merek tertentu. Sedangkan menurut Freddy Rangkuti (2004:244) Brand adalah sekumpulan assosiasi merek yang terbentuk dan melekat di benak konsumen. Selanjutnya American Marketing Association (AMA) mendefinisikan brand sebagai nama, istilah, tanda, simbol atau desain, atau kombinasi dari semua itu yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi barang dan jasa dari satu perusahaan atau kelompok perusahaan serta untuk membedakan mereka dari perusahaan lain. Dari beberapa pengertian tersebut dapat diketahui bahwa brand merupakan sekumpulan asosiasi yang dipersepsikan oleh konsumen terhadap merek tertentu.

Kemudian fungsi dasar dari sebuah brand adalah sebagai pembeda antara yang satu dengan yang lainnya. Namun, dengan adanya dinamika didalam derasnya kompetisi dalam perpustakaan, sebuah brand memberikan kekuataan dan energy positif serta nilai tambah pada perpustakaan.  Brand membutuhkan kekuatan dan pengelolaan. Unsur-unsur yang mempengaruhi kekuatan sebuah brand adalah, apa yang terlihat (tangible), apa yang didengar dan yang dirasakan (intangible). Kedua unsur diatas merupakan syarat utama untuk membangun kekuatan sebuah brand dalam berkompitisi. Oleh karena itu saat menciptakan branding tidak hanya sekedar mengejar target (tujuan) perpustakaan dalam persaingan, akan tetapi lebih bagaimana tentang mendapatkan prospek bahwa perpustakaan adalah satu-satunya yang bisa memberikan solusi ketika masyarakat membutuhkan informasi. Namun harus diperhatikan ketika perpustakaan menciptakan brand di era teknologi dan informasi  yakni  “pengunjung harus memiliki gambaran tentang diri perpustakaan dalam hidup mereka, Visi harus mencerminkan realitas dan bagaimana sebenarnya hal ini dibangun  dari kekuatan-kekuatan. Ini adalah merupakan tantangan kedepan perpustakaan untuk mulai menciptakan brand perpustakaan.

Selain itu hal yang harus dipertimbangkan oleh orang-orang yang terlibat dalam perpustakaan ketika menciptakan brand antara lain:

  • “Ready access and excellent service…”
  • “center of intense intellectual inquiry”
  • “is an essential and vital component of campus intellectual life”
  • “embrace change”
  • “best collections, strongest service, state-of-the-art technology”
  • “center for learning and intellectual discovery”
  • “libraries: the university’s competitive advantage” (Priyatno: Materi Perkuliahan MIP-UGM).

Namun yang terpenting dari apa dijelaskan diatas ketika perpustakaan membentuk sebuah brand harus ingat kesepuluh kunci brand yang sukses antara lain sebagai berikut:

1. Mudah diingat.
2. Punya ciri khas yang unik.
3. Selalu promosi: never ending promotion.
4. Selalu tingkatkan kualitas.
5. Punya nicke yang unik.
6. Jaga nama baik brand.
7. Orientasi jangka panjang.
8. Jaringan pasar yang luas.
9. Pelayanan pelanggan yang bagus.
10. Pelihara integritas brand.

Oleh sebab itu perubahan paradigma   perpustakaan pada  dasarnya   mengacu brand perpustakaan dan informasi, dimana layanan perpustakaan tidak terkungkung pada brand layanan informasi seperti peminjaman buku, pengembalian, layanan referensi, layanan penelusuran serta pendaftaran anggota perpustakaan, tetapi   sudah harus  perpustakaan di era teknologi dan informasi bisa menciptaka brand dan berkembang seperti Study Spaces, Information Commons, Classrooms , Gaming Studios dan sebagainya melihat perubahan yang terjadi ditengah masyarakat. Masalah-masalah kebutuhan informasi yang muncul dalam suatu masyarakat membutuhkan informasi yang berbeda.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: