KOnsep Perpustakaan Edu-taiment

Saat perkuliaah tiba-tiba seorang dosen menyatakan sangat susah mengubah Setting perpustakaan dengan gaya Entertainment. Jika kita lihat saat ini hampir seluruh perpustakaan di Indonesia baik dikota besar apalagi daerah perdesaan. Interior sangat tidak menarik penggunjung, perpustakaan selama ini indentik dengan warna yang sangat suram seperti coklat atau krem pasti itu warna cat tembok dan dinding perpustakaan seharusnya perpustakaan saat ini bisa menduplikatkan seperti Play group dengan warna-warna yang cerah.  Bahkan yang sangat menyedihkan yakni ada perpustakaan yang tidak pernah dikunjungi dan tidak ada anggaran dana untuk merenovasi perpustakaan sehingga perpustakaan jauh dari nuasa keindahan dan elegan pastinya.

Sedangkan perpustakaan diluar negeri contoh paling dekat yakni Negara singapura disana hampir perpustakaan dengan menggunakan style perpustakaan seperti Edu-Taiment. Andaikan perpustakaan di Indonesia menerapkan seperti perpustakaan di luar negeri. Di jamin pengunjung perpustakaan akan semakin banyak dan pengunjung perpustakaan akan merasa betah. Dimana perpustakaan tersedia semua mulai dari kantin, ATM, Learning Commons, dan ditambah lagi desain perpustakaan yang bergaya kafe sehingga membuat orang semakin betah diperpustakaan dan ingin selalu berkunjung keperpustakaan.

Adapun beberapa factor kenapa perpustakaan di Indonesia tidak bisa seperti perpustakaan luar negeri  antara lain disebabakan:

  1. Alokasi anggaran dana dari penanggung jawab perpustakaan untuk perpustakaan sangat minim sekali jika dibandingkan dengan alokasi dana untuk kegiataan yang lain. Sehingga begitu susah kepala perpustakaan untuk membagi anggaran dana tersebut serta mengutamakan hal yang penting dulu.
  2. Kepala perpustakaan kebanyakan yang sudah berumuran 50-60 tahun. Dengan kepala perpustakaan sudah tua-tua meraka selalu berpikiran dengan gaya perpustakaan tempo dulu. Akan sangat berbeda jika perpustakaan dipegang oleh orang-orang muda “generasi Miliniall”.

Seperti contoh ada salah satu perpustakaan yang menerapkan kafe diperpustakaan namun hal tersebut ditetang habis oleh kepala perpustakaannya. Dimana kepala perpustakaan tersebut menyatakan akan menggangu pelayanan perpustakaan. Sedangkan kita tahu bahwa perpustakaan sekarang ini yakni bagaimana sebisa mungkin bisa memasuki Area Eduataiment keperpustakaan dan saat ini juga sudah banyak perpustakaan menerapkan adanya pelayanan kafe diperpustakaan.

“saran bagi kepala perpustakaan seluruh indonesia yakni kepala perpustakaan harus sering-seringlah berkunjung keperpustakaan keluar negeri” jangan hanya berkunjung keperpustakaan Nasional Indonesia saja” dengan sering mungkin kepala perpustakaan keluar yang sudah mengadopsi sytle edu-taiment otamatis akan berpikir bagaimana cara untuk merubah konsep perpustakaan tersebut seperti dilihat.

  1. Masih banyak pananggung jawab perpustakaan beranggapan bahwa perpustakaan adalah tempat yang silient “diam” ini masih kita temui diperpustakaan-perpustakaan dilarang ribut, dilarang telpon dan larangan-larangan lainnya. Jika hal masih ada diperpustakaan akan membuat pengunjung perpustakaan beranggapan perpustakaan adalah tempat bersemedi.

Agar hal ini tidak terjadi maka diperpustakaan diperlukan beberapa zona misal adanya zona silent dimana disini berisi orang-orang yang memang lagi serius untuk belajar, kemudian ada zona ribut seperti learning commons. Pada zona ribut tersebut pengunjung perpustakaan melakukan semaunya misal berdiskusi sambil mendengar music. Dan masih banyak lagi zona-zona harus ada diperpustakaan.

Solosinya bagi perpustakaan seluruh di Indonesia yakni, mulai dari saat ini dan mulai hal yang kecil menerapkan konsep perpustakan bernuansa kafe “edu-taiment” tapi tidak lari dari visi dan misi perpustakaan itu sendiri. Kemudian jika perkunjung kemall, kekantor-kantor, dan tempat lainnya. Amatilah mulai dari desain, hingga hal terkecil bisa diadopsikan keperpustakaan. Dan terakhir pustakawa hendak selalu membawa kamera “kamera saku” kemana-mana andaikan ada hal yang unik dan cantik ditemukan bisa diterapkan pada perpustakaan. Karena menjelaskan dengan gambar lebih gampang meyakinkan penanungg jawab perpustakaan dibandingkan dengan kalimat.

“merenunggi kata-kata dosen ditengah perkuliahan, semoga bermanfaat seluruh pustakawan di Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: