Haji Mabrur, BUkan mabur

Keberhasilan seorang haji adalah adanya perubahan signifikan atas akhlak dan ibadah. Ikhlas adalah modal utama untuk mendapat pertolongan Allah dalam melawan setan.

Sudah haji kok, masih korupsi? Sudah haji, kok pakaiannya masih seronok? Sudah haji kok, perilaku negatinya tidak berubah? Dan sederet pertanyaan membubung setiap kali musim haji tiba. Prosesi haji yang hampir 40 hari itu seakan tak membekas begitu sampai di Tanah Air. Mengapa semua ini terjadi? Sudah banyak buku yang mengupas dan membahas tentang haji. Setiap tahun, Indonesia seidkitnya mengirim 220.000 jamaah. Jamaah terbesar di dunia ke Tanah Suci, Mekkah. Tapi begitu sampai ke kampung halaman pertanyaan “sudah haji, kok…” terus saja terulang siapa salah?

Haji adalah perjalnan menuju rumah Allah. Sebagai tamu Allah, ada berbagai syarat yang mesti dipenuhi sang tamu. Antara lain, berkemampuan. Mampu dalam hal financial, maupun secara fisik-intelktual, dan mampu secara moral. Karena itu jamak dilakukan, sebelum berangkat haji, para jamaah mengikuti menasik haji, latihan untuk melaksanakan tata tertib dan kronologinya agar bisa mencapai haji mabrur. Dana “haji Mabrur tiada balasan kecuali surga’ (riwayat bukhari Muslim).

Untuk itu, memahami makna dan symbol-simbol haji adalah sebuah kemastian. Tidaklah sempurna orang pergi haji tanpa mengerti apa yang dilakukannya disana. Tapi disini pula persoalannya. Pemahaman tentang fikih bagi calon jamaah haji adalah penting. Tanpa memamahi makna dan symbol-simbol haji hanya menjadi ritual tanpa makna. Dan in jamak terjadi.

Kehadiran karya Reza M Syarief ini merupkan upaya memberi dan memahami makna serta symbol-simbol haji. Pakaian ihram yang serba putih dan tidak ada jahitannya  misalnya, oleh Reza dimaknai sebagai symbol ketulusan, kesamaan, dan kesederhanaan. Dalam berihram tak ada beda antara presiden, raja dan masyarakat akar rumput. Mereka mesti tulus dalam kebersamaan dan kesederhanaan.

Begitu juga melempar jumrah sebagai lambing melawan setan. Tak ada daya upaya kita, umat manusia, melawan setan kecuali dengan pertolongan Allah semata. Karena itu sesuai dengan makna suran An-Nahl ayat 98, setiap kali akan membaca Al-Quran seseorang hendaknya meminta perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk. Untuk melawan setan diperlakukan pertolongan Allah. “jika hal ini tidak kita lakukan kita akan mengalami kelemahan dan tidak akan sanggup melawaan setan.

Lalu untuk mendapat pertolongan Allah, hendaknya kita mengenal-Nya dan untuk mengenal dan mendapat pertolongan Allah, hanya ada satu pintu : ikhlas. “jadi pesan dari ihram dan jumrah itu adalah bagaimana kita bertempur dengan iblis atau setan dengan senjata paling ampuh , yakni ikhlas! Dalam buku disimpulkan bahwa manusia mesti berserah diri secara total dalam melaksanakan perintah dan menjauh larangan-larangan NYa. Jika itu yang dilakukan seseorang yang berstatus haji pulang ke Tanah Air tidak akan berbuat yang aneh-aneh.

Buku ini adalah satu dari sekian banyak karya tentang haji. Bedanya buku ini didekat dengan teori dan praktek motivasi sedangkan buku-buku lainnya lebih banyak mendekati dari sisi praktek dan fikih haji.  Keberhasilan sesorang haji adalah adanya perbaikan akhlak dan ibadah pada dirinya yang bersangkutan jika sebelum dan sesudah pasca haji tidak ada perubahan status haji mabrur pun lepas, yang didapat hanya mabrur.

The wisdom of Haji

Penulis: Reza M syarief

Penerbit: prestasi, Jakarta 2008

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: