WORLD LIBRARIES


klik disini jika ingin artikel fulltext Tentang World Libraries

Perpustakaan dunia adalah unik, bebas, peer-review informasi perpustakaan dan jurnal ilmiah. It Ini menyediakan sebuah forum yang didedikasikan untuk semua aspek kepustakawanan di seluruh dunia. Jurnal ini adalah didedikasikan untuk pustakawan dan perpustakaan di daerah tanpa asosiasi atau badan-badan untuk mendorong komunikasi ilmiah dan pengembangan profesional. Dunia Perpustakaan ada untuk memberikan suara pustakawan di setiap bangsa, sehingga mereka dapat secara bebas berbagi cerita dan pengalaman mereka tentang bagaimana mereka membuat hal-hal bekerja unik dan kadang-kadang di bawah keadaan yang sulit. Sebelumnya hanya muncul di media cetak, peer-review ini publikasi Sekolah Pascasarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi di Universitas Dominika memasuki era baru yang bebas dan terbuka akses dengan menerbitkan di World Wide Web. diakses secara terbuka jurnal-tanpa registrasi, password, atau biaya-Library Dunia akan menjangkau lebih banyak pembaca dan kontributor dari sebelumnya, yang menghubungkan sangat pustakawan di negara-negara maju dengan mereka yang menghadapi profesional yang paling mendasar dan tantangan sosial-ekonomi.

wrote, Guy Marco, editor asli Perpustakaan Dunia (sebelumnya dikenal sebagai Dunia Ketiga Libraries), menulis,

“After all, our fundamental belief as librarians is that libraries promote what is ‘good’—and the final good of a society is its own progress, which allows the individual to progress as well.” “Bagaimanapun, kita sebagai pustakawan keyakinan mendasar adalah bahwa perpustakaan mempromosikan apa yang ‘good’-dan akhir dari suatu masyarakat yang baik adalah kemajuan sendiri, yang memungkinkan individu untuk maju juga.”

Perpustakaan dunia hanyalah didedikasikan untuk sifat internasional kepustakawanan, mempromosikan komunikasi dan hubungan baik secara profesional dan pribadi. Sekolah Pascasarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi di Universitas Dominika bangga untuk mendukung jurnal ini, mempromosikan kemajuan di perpustakaan di seluruh dunia.

preservation


PROGRAM PELESTARIAN BAHAN PUSTAKA

DI UPT. PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS NEGERI PADANG (UNP)


BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Perpustakaan perguruan tinggi adalah perpustakaan yang berada di lingkungan perguruan tinggi yang pada hakekatnya merupakan bagian integral dari suatu perguruan tinggi. Dalam hal ini perpustakaan Universitas Negeri Padang (UNP) bersama-sama dengan unit kerja lainnya dengan peran yang berbeda-beda, bertugas membantu perguruan tingginya untuk melaksanakan program Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Tujuan di selengarakan perpustakaan UNP adalah untuk menunjang terlaksananya program pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Hal ini dilaksanakan perpustakaan melalui pelayanan informasi yang meliputi lima aspek yaitu pengumpulan bahan pustaka, pengolahan bahan pustaka, pemanfaatan bahan pustaka, penyebaran bahan pustaka dan pemeliharaan atau pelestarian bahan pustaka.

Pelestarian bahan pustaka merupakan salah satu hal penting bagi keberadaan perpustakaan. Karena bahan pustaka yang lengkap dan selalu diupgrade atau dirawat dengan baik akan menjadi nilai tersendiri bagi pengguna atau bahkan pustakawan sekalipun yang membutuhkan, maka dari itu pelestarian bahan pustaka sangatlah penting demi keawetan informasi yang terkandung dalam bahan pustaka itu sendiri.

Bahan pustaka adalah salah satu unsur penting dalam sebuah sistem perpustakaan, sehingga harus dilestarikan mengingat nilainya yang mahal. Bahan pustaka disini berupa terbitan buku, berkala (suratkabar dan majalah) dan bahan audiovisual seperti audio, kaset, video, slide dan sebagainya. Pelestarian bahan pustaka tidak menyangkut pelestarian dalam bidang fisik, tetapi juga pelestarian dalam bidang informasi yang terkandung di dalamnya.

Pelestarian bahan pustaka mulai dapat perhatian secara serius dan penting ketika meluapnya banjir sungai Armo yang merusak koleksi di lantai dasar Florence’s Bibilotheca Nazionale Centrale. Kejadian ini menggugah pemikiran para ilmuwan dan pustakawan tentang perlunya bidang pelestarian bahan pustaka. Pada tahun 1970-an perkembangan pelestarian bahan pustaka dapat dikarakteristikkan sebagai periode aktifitas lanjutan di  berbagai bidang dengan mengembangkan teknik dan metode baru untuk konservasi, meningkatkan riset, misalnya bidang deasidifikasi, pendidikan dan pelatihan konservator dan pustakawan, penetapan program pelestarian bahan pustaka dibeberapa perpustakaan dan tindakan koperatif seperti pengembangan pusat konservasi regional.

Banyak perpustakaan yang keberadaan koleksinya mengalami kerusakan tak terkecuali perpustakaan UNP, entah itu karena tangan-tangan jahil para pengguna jasa perpustakaan atau penanganan bahan pustaka yang salah atau memang kondisi bahan pustakanya sudah rapuh termakan usia atau bahkan serangga-serangga pemakan kertas. Tapi bagai manapun juga bahan-bahan pustaka ini perlu dipelihara dan dilestarikan untuk keawetan informasi yang terkandung di dalamnya yang suatu saat pasti dibutuhkan. Sekalipun diakui pentingnya kegiatan pelestarian bahan pustaka dan kompleksnya permasalahan pelestarian, namun sampai saat ini belum ada satu model pun yang cocok untuk di terapkan di Perpustakaan. Untuk itu setiap perpustakaan harus membuat program pelestarian bahan pustaka.

Continue reading

PROFESI PUSTAKAWAN INDONESIA DI ERA GLOBALISASI


Globalisasi adalah suatu proses, suatu perubahan, suatu fenomena yang mendunia (mengglobal). Masyarakat tidak lagi terkotak-kotak dalam kelompoknya sendiri, tetapi telah berubah menjadi suatu masyarakat global atau masyarakat dunia. Globalisasi berlangsung sangat cepat dan serentak di seluruh belahan dunia. Globalisasi, merupakan proses transformasi dalam aspek kehidupan manusia, sosial, budaya dan politik sebagai dampak dari modernisasi yang secara sistimatik terjadi akibat berkembangnya secara cepat teknologi komunikasi. Di era globalisasi, informasi telah menjadi kebutuhan utama dalam kehidupan manusia. Pemanfaatannya telah merambah ke seluruh aspek kehidupan tidak terkecuali di bidang perpustakaan yang penyampaiannya telah sedemikian canggihnya sebagai dampak dari perkembangan teknologi informasi seperti pada pustakawan. Tuntutan kebutuhan akan informasi, apalagi terkait dengan era globalisasi saat ini akan semakin meningkat dan bervariasi. Hal ini menuntut kualitas intelektual yang semakin tinggi.

Kemudian Pada saat ini yang sangat mendesak pada perpustakaan adalah kesiapan seorang pustakawan menghadapi era globalisasi. Globalisasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk berkompetisi dan bekerjasama untuk memenuhi kebutuhan, dimana sumber daya manusia dan kemampuan manusia untuk berinteraksi dengan lingkungannya menjadi faktor yang amat penting.

Pustakawan dalam era globalisasi dituntut untuk bekerja secara professional. Kalau perlu pustakawan harus  beberapa langkah di depan pemakainya. Artinya, pengetahuan dan strategi akses informasi pustakawan harus lebih canggih dari pemakainya. Pustakawan memiliki berbagai sarana akses dan mengetahui berbagai sumber informasi serta strategi untuk mengetahui dan mendapatkannya. Ini hanya dapat dilakukan bila pustakawan selalu mengembangan wawasan atau pendidikan, mengikut pelatihan, studibanding dan share informasi sesama pustakawan dalam maupun luar negeri serta trampil menggunakan sarana teknologi informasi dan kemampuan komunkasi, terutama bahasa Inggris.

Kemudian fungsi pustakawan masa era globalisasi tidak hanya melayani, penggolahaan, dan penggadan. Tetapi mampu mempasarkan atau promosi kepada masyarakat, mampu mengikuti trend, dan berkeloga dalam jejaring antara pustakawan atau penggunjung seperti dikatakan oleh Tilke ciri-ciri pustakawan masa sekarang (globalisasi) yakni (1). Kemampuan untuk mengikut tren perpustakaan, (2) Kemampuan untuk bekerja di kolegial, lingkungan jaringan untuk perpustakaan, (3) Menghargai pentingnya pemasaran /PR…”. Selanjutnya pustakawan selalu menjadi yang terdepan dalam penggunaan teknologi, menekankan perangkat tambahan bagi pengguna, dan bukan hanya teknologi untuk kepentingan teknologi.  Karena pustakawan memiliki kesempatan besar untuk berbagi informasi berharga dan bertindak sebagai pembela bagi kemajuan informasi dan teknologi.

Sedangkan Stueart dan Moran (2002) mengatakan bahwa manajer informasi atau pustakawan dalam era informasi seharusnya memiliki 7 (tujuh) kemampuan yaitu:
1. Techncal skill, yaitu seorang pustakawan harus mamahami proses pekerjaan yang dilakukan bawahan. Adalah tidak mungkin mensupervisi, apabila tidak memahami seluk beluk pekerjaan yang disupervsi tsb.

2. Political skill, seorang pustakawan harus mamahmi masalah sosial, lingkungan organisasi internal dan ekternal, memiliki wawasan luas.

3. Analytical Skills, seorang pustakawan harus memiliki kemampuan analisis yang baik sehingga dapat menjadi bagian dari agen perubahan.

4. Prolem-solving skills, seorang pustakawan harus memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dengan cepat tepat dan baik.

5. People skills, seorang pustakawan harus memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik, termasuk komnikasi interpersonal, memahami dan peduli orang lain.

6. System skills, sedorang pustakawan harus memiliki kemampuan bekerja dalam sistem dan menggunakan berbagai sistem jaringan dan komunikasi yang tersedia.

7. Business skill, seorang pustakawan harus memiliki naluri bisnis dan semangat interprenurship yang baik.. Koleksi yang ada merupakan aset ang harus dimanfaatkan maksimal.

Selain itu pustakawan saat ini juga harus mampu memenuhi tuntunan-tuntunan baru seperti sebagai specialis informasi, memiliki pengetahuan mendalam tentang kelompok saran (pemakai) serta mempertahankan karena Penggunjung perpustakaan terus berubah, serta pustakawan harus mampu menciptakan dan mengimplementasikan perubahan dalam berbagai sector atau lini diperpustakaan.

Continue reading

%d bloggers like this: