WEB 2.0


PENDAHULUAN

Perkembang teknologi dan informasi mengharuskan perpustakaan untuk mengadopsi dan mengalirkan aliran teknologi dalam dunai perpustakaan. Perpustakaan tidak bisa dipisahkan dengan teknologi informasi karena akan banyak memberi kemudahan baik dalam sirkulasi, development, cataloging, public relation of librarians, promotion etc.

Belakangan ini ada satu istilah yang sedang naik daun, yaitu Web 2.0. Istilah ini dipakai untuk menggambarkan aplikasi-aplikasi Internet generasi baru yang merevolusi cara kita menggunakan Internet. Semua aplikasi ini membawa kita masuk ke babak baru penggunaan Internet yang berbeda dengan generasi sebelumnya pada pertengahan tahun 1990-an.

Era Web 2.0 sekarang ini punya ciri yang menarik yaitu kolaborasi. memungkinkan para pengguna untuk ikut berpartisipasi secara aktif. Kemudian ‘Web 2.0’ adalah cerita panas di blogosphere saat ini, dengan pasukan pendukung berhadapan orang-orang yang berpendapat bahwa itu bukan hal yang baru, dan sekutu mereka dengan kenangan menyakitkan Dot Com histeria pada 1990-an. Bahkan media terhormat seperti Business Week yang semakin bersemangat, dan konferensi yang mahal di San Francisco pada awal Oktober harus membuat orang menjauh saat melintas lebih dari 800 pendaftaran. Sepereti diungkapkan oleh Tim O’Reilly, web 2.0 merupakan revolusi bisnis dalam industri komputer akibat dari berkembangnya internet sebagai platform, and an attempt to understand the rules for success on that new platform. Chief among those rules is this: membangun aplikasi yang harness network efek untuk mendapatkan yang terbaik dan lebih banyak orang yang menggunakan.

Dimana perpustakan di Amerika, Australia atau di Negara-Negara Eropa telah menjadi perpustakaan satu kesatuan dan bagian dari teknologi. Karena perpustakaan di Negara-Negara maju tidak lagi (meninggalkan) menggunakan layanan manual melainkan telah menggunakan layanan interaktif atau feedback lebih dikenal dengan web 2.o. Sedangkan kenyataannya di Indonesia masih menerpakan system digitalisasi itupun belum seleruhnya perpustakaan menerapkannya serta system itupun terpusat (sentralisasi) dikota besar (Jawa), sangat jauh sekali berbanding perpustakaan Negara maju dengan Negar baru perkembang (negara ketiga) dimana hampir setiap perpustakaan telah mengaplikasi web 2.0 mulai perpustakaan sekolah hingga perpustakaan perguruan tinggi.

Adapun isu-isu mutakhir informasi perpustakaan yakni tentang masalah web 2.0. Namun ada beberapa edisi atau tingkat (version) web perpustakan yaitu mulai dari web 1.0, web 2.0, web 3.0 dan web 4.0 kesemua web tersebut memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing tetapi yang lebih popular dari keempat web tersebut yakni web 2.0,  sebelum kita membahas secara mendalam apa itu web 2.0

  1. A. SEJARAH WEB 2.0

Istilah “Web 2.0” diciptakan oleh Darcy DiNucci pada tahun 1999. Dalam artikelnya “Fragmented Masa Depan,” dia menulis.

“Web kita tahu sekarang, yang banyak menjadi jendela browser pada dasarnya screenfuls statis, hanya merupakan embrio dari Web yang akan datang. Glimmerings pertama Web 2.0 yang mulai muncul, dan kami hanya mulai melihat bagaimana hal itu bisa mengembangkan embrio Web akan screenfuls dipahami bukan sebagai teks dan grafis tetapi sebagai mekanisme transportasi, udara yang melaluinya interaktivitas terjadi. Akan muncul di layar komputer Anda, […] di TV Anda […] dashboard mobil Anda […] […] ponsel Anda dipegang tangan mesin-mesin permainan [. ..] mungkin bahkan microwave oven.”

Penggunaan istilah terutama berkaitan dengan Web desain dan estetika, ia berpendapat bahwa Web adalah “memecah-belah” karena penggunaan luas portabel Web-perangkat siap. Artikelnya ditujukan untuk desainer, mengingatkan mereka untuk kode untuk yang semakin beragam perangkat keras. Dengan demikian, dia menggunakan istilah petunjuk di – tetapi tidak secara langsung berhubungan dengan – saat ini menggunakan istilah. Istilah itu tidak muncul lagi sampai 2003. Para penulis ini berfokus pada konsep-konsep yang saat ini terkait dengan istilah tempat, seperti dikatakan Scott Dietzen, “Web menjadi universal, standar berbasis platform integrasi.”  Melainkan Pada tahun 2004, istilah memulai kenaikan popularitas ketika O’Reilly Media dan MediaLive host Web 2.0 pertama konferensi. Dalam sambutannya, John Batelle dan Tim O’Reilly diuraikan definisi mereka tentang “Web sebagai Platform,” di mana aplikasi perangkat lunak yang dibangun di atas Web sebagai lawan dari atas desktop. Aspek unik migrasi ini, menurut mereka, adalah bahwa “pelanggan sedang membangun bisnis bagi Anda.” Mereka berpendapat bahwa kegiatan pengguna menghasilkan konten (dalam bentuk ide-ide, teks, video, atau gambar) dapat “dimanfaatkan” untuk menciptakan nilai.

Kemudian diciptakan pada tahun 2004 oleh O’Reilly Media dan digunakan untuk menggambarkan “pengembangan dan jasa alat-alat baru yang sedang mengubah cara orang menggunakan Internet, sehingga lebih mudah untuk berkolaborasi, berkomunikasi dan berbagi informasi “(Secker 3).  Web 2.0 juga disebut perangkat lunak sosial. Secker menunjukkan bahwa perangkat lunak sosial adalah “tidak benar-benar perangkat lunak seperti itu, tapi layanan Internet yang pada akhirnya bisa menggantikan perangkat lunak desktop, ini tentang menggunakan Internet sebagai platform untuk menjalankan software dan layanan daripada PC desktop Anda, sehingga sebagian besar perangkat lunak-host dari jarak jauh dan dapat diakses dari mana saja dengan koneksi Internet “(Secker 4). Dipanaskan perdebatan mengenai istilah Web 2.0 muncul dan orang-orang mendefinisikannya dalam berbagai cara.

Istilah “Perpustakaan 2.0” diciptakan pada tahun 2005 oleh Michael Casey, yang melihat Perpustakaan 2,0 sebagai “user-perubahan berpusat” di dalam hatinya (Casey dan Savastinuk). Istilah menyiratkan bahwa kita dapat meningkatkan layanan perpustakaan dengan menggunakan Web 2.0 tools dan jasa. Sama seperti Web 2.0, istilah Perpustakaan 2.0 telah terbukti sebagai kontroversial. 62 terdaftar Crawford pandangan yang berbeda dan tujuh definisi yang berbeda dari istilah “Perpustakaan 2.0” dalam artikelnya dalam CITES dan Pemahaman.

  1. B. DEFENISI WEB 2.0
  2. 1. ‘Web 2.0 adalah jaringan sebagai platform, menjangkau seluruh perangkat tersambung; Web 2.0 adalah mereka yang membuat sebagian besar keuntungan intrinsik platform: memberikan software sebagai diperbarui terus-pelayanan yang semakin baik semakin banyak orang yang menggunakannya, menyita dan remixing data dari berbagai sumber, termasuk pengguna individu, sementara menyediakan data mereka sendiri dan jasa dalam bentuk yang memungkinkan remixing oleh orang lain, menciptakan efek jaringan melalui sebuah “arsitektur partisipasi”, dan akan melampaui halaman metafora Web 1.0 ke pengguna kaya memberikan pengalaman. “.
  3. Web 2.0: mencampur layanan dari berbagai penyedia dan pengguna di dikendalikan pengguna jalan. Seorang pengguna dapat menemukan informasi dalam satu tempat dan mungkin menemukan algoritma untuk menggunakan informasi di negara lain. Cerdas kombinasi keduanya mungkin menawarkan fungsionalitas tambahan pengguna, lebih nyaman atau hanya lebih menyenangkan.
  4. Menghubungkannya dengan istilah-istilah seperti blog, wiki, podcast, RSS feed, web sosial, dll dan menegaskan bahwa Web 2.0 adalah tempat di mana semua orang dapat menambahkan atau mengedit informasi. Ini adalah web di mana perangkat digital memungkinkan pengguna untuk membuat, mengubah dan mempublikasikan konten dinamis

  1. C. CIRI-CIRI WEB 2.0

Secara singkat, berikut ini ciri-ciri aplikasi Web 2.0 antara lain sebagai berikut:

–          The Web as Platform

Aplikasi Web 2.0 menggunakan Web (atau Internet) sebagai platformnya. Apa sih yang dimaksud dengan platform ? Platform di sini adalah tempat suatu aplikasi dijalankan. Contoh platform yang terkenal adalah Windows, di mana ada aplikasi-aplikasi seperti Microsoft Office dan Adobe Photoshop. Menggunakan Internet sebagai platform berarti aplikasi-aplikasi tersebut dijalankan langsung di atas Internet dan bukan di atas satu sistem operasi tertentu. Contohnya adalah Google yang bisa diakses dari sistem operasi mana pun. Contoh lainnya adalah Flickr yang juga bisa diakses dari sistem operasi mana pun. Kelebihannya jelas, aplikasi-aplikasi Web 2.0 ini tidak lagi dibatasi sistem operasi seperti pada Windows. Dan kita bahkan tidak perlu menginstall apapun untuk menggunakan aplikasi-aplikasi ini.

–          Harnessing Collective Intelligence

Aplikasi Web 2.0 memiliki sifat yang unik, yaitu memanfaatkan kepandaian dari banyak orang secara kolektif. Sebagai hasilnya muncullah basis pengetahuan yang sangat besar hasil gabungan dari pengetahuan banyak orang. Contoh yang jelas adalah Wikipedia. Wikipedia adalah ensiklopedi online yang memperbolehkan semua orang untuk membuat dan mengedit artikel. Hasilnya adalah ensiklopedi online besar yang sangat lengkap artikelnya, bahkan lebih lengkap daripada ensiklopedi komersial seperti Encarta ! Contoh lainnya lagi adalah del.icio.us di mana semua orang saling berbagi link-link menarik yang mereka temukan. Akibatnya kita bisa menemukan “permata-permata” di Web gabungan hasil browsing dari ribuan orang. Blogosphere juga merupakan contoh kepandaian kolektif karena setiap orang bisa menulis blog-nya sendiri-sendiri lalu saling link satu sama lain untuk membentuk jaringan pengetahuan, mirip seperti sel-sel otak yang saling terkait satu sama lain di dalam otak kita.

–          Data is the Next Intel Inside

Kekuatan aplikasi Web 2.0 terletak pada data. Aplikasi-aplikasi Internet yang berhasil selalu didukung oleh basis data yang kuat dan unik. Contohnya adalah Google, yang kekuatannya terletak pada pengumpulan dan manajemen data halaman-halaman Web di Internet. Contoh lainnya lagi adalah Amazon yang memiliki data buku yang bukan hanya lengkap, tapi juga sangat kaya dengan hal-hal seperti review, rating pengguna, link ke buku-buku lain, dan sebagainya. Ini berarti perusahaan yang unggul adalah perusahaan yang menguasai data.

–          End of the Software Release Cycle

Aplikasi Web 2.0 memiliki sifat yang berbeda dengan aplikasi pada platform “lama” seperti Windows. Suatu aplikasi Windows biasanya dirilis setiap dua atau tiga tahun sekali, misalnya saja Microsoft Office yang memiliki versi 97, 2000, XP, dan 2003. Di lain pihak, aplikasi Web 2.0 selalu di-update terus-menerus karena sifatnya yang bukan lagi produk melainkan layanan. Google misalnya, selalu di-update data dan programnya tanpa perlu menunggu waktu-waktu tertentu.

–          Lightweight Programming Models

Aplikasi Web 2.0 menggunakan teknik-teknik pemrograman yang “ringan” seperti AJAX dan RSS. Ini memudahkan orang lain untuk memakai ulang layanan suatu aplikasi Web 2.0 guna membentuk layanan baru. Contohnya adalah Google Maps yang dengan mudah dapat digunakan orang lain untuk membentuk layanan baru. Sebagai hasilnya muncullah layanan-layanan seperti HousingMaps yang menggabungkan layanan Google Maps dengan Craigslist. Layanan seperti ini, yang menggabungkan layanan dari aplikasi-aplikasi lainnya, dikenal dengan istilah mashup.

–          Software Above the Level of a Single Device

Aplikasi Web 2.0 bisa berjalan secara terintegrasi melalui berbagai device. Contohnya adalah iTunes dari Apple yang berjalan secara terintegrasi mulai dari server Internet (dalam bentuk toko musik online), ke komputer pengguna (dalam bentuk program iTunes), sampai ke mobile device (dalam bentuk iPod). Di masa depan diperkirakan akan makin banyak aplikasi-aplikasi yang memiliki sifat ini, misalnya saja demo Bill Gates di CES 2006 menunjukkan integrasi antar device yang luar biasa (lihat post Consumer Electronic Show 2006).

–          Rich User Experiences

Aplikasi Web 2.0 memiliki user interface yang kaya meskipun berjalan di dalam browser. Teknologi seperti AJAX memungkinkan aplikasi Internet memiliki waktu respons yang cepat dan user interface yang intuitif mirip seperti aplikasi Windows yang di-install di komputer kita. Contohnya adalah Gmail, aplikasi email dari Google yang memiliki user interface revolusioner. Contoh lainnya lagi adalah Google Maps yang meskipun berjalan dalam browser namun bisa memberikan respons yang cepat saat pengguna menjelajahi peta.

Kemudian selain ciri diatas web 2.0 juga memiliki cirri karaterisktik yang lain antara lain: (1) Karakteristik utama Web 2.0 adalah produksi individu dan user-generated content (UGC). UGC merujuk kepada diri-penerbitan, penerbitan pribadi dan ekspresi diri (2). Karakteristik kedua adalah kapasitas untuk ‘memanfaatkan kekuatan orang banyak. ” (3). Karakteristik selanjutnya adalah bahwa arsitektur dari partisipasi dan berarti bahwa penunjukan layanan dapat meningkatkan dan memfasilitasi partisipasi pengguna. (4). Karakteristik lain adalah efek jaringan, istilah ekonomi yang digunakan untuk menggambarkan peningkatan nilai yang ada layanan pengguna, karena lebih banyak orang mulai menggunakannya (5). Karakteristik akhir adalah keterbukaan. Ini menunjukkan bekerja dengan standar terbuka, dengan menggunakan perangkat lunak open source, dengan menggunakan data bebas, menggunakan kembali data, dan bekerja dalam semangat inovasi terbuka

Jadi dapat disimpulkan bahwa ciri kareteristik web 2.0 yakni adanya komunitas jaringan. Di dalam komunitas jaringan, kita bisa berpartisipasi. Dan yang paling mencolok adalah penggunaan antar muka yang user friendly, persis dengan desktop komputer kita saat ini.

  1. D. Manfaat web 2.0

Web 2.0 memiliki dampak pada perpustakaan dan layanan perpustakaan antara lain sebagai berikut:

  1. Peningkatan relevansi perpustakaan kepada pengguna;
  2. Meningkatkan citra perpustakaan (misalnya, pengunjung akan melihat bahwa perpustakaan yang up to date dengan teknologi);
  3. Allowed kaya, interaktif, tepat waktu, layanan nyaman sehingga dapat meningkatkan tingkat pelayanan dan kualitas, dan memperluas jangkauan layanan (misalnya, menyebarkan informasi melalui RSS feed, menyediakan beraneka ragam layanan, dan menawarkan lebih banyak pilihan untuk melayani pengguna);
  4. Peningkatan partisipasi pengguna, dan meningkatkan interaksi dan komunikasi dengan pengguna;
  5. Pustakawan memperluas perspektif, dan memfasilitasi pengguna memperoleh ‘umpan balik dan pembaca berikut’ bunga tren;
  6. Drew pada pengetahuan kolektif untuk lebih melayani pengguna;
  7. Peningkatan pustakawan ‘antar-departemen komunikasi dan penyebaran informasi yang dipercepat bagi para pengguna;
  8. Memfasilitasi pemecahan masalah instan dengan manfaat dari layanan ditelusuri;
  9. Peningkatan pengetahuan berbagi dan kolaborasi.

  1. E. Perbedaan Web 1.0 Dan Web 2.0
WEB 1.0 WEB 2.0
DoubleClick -> Google AdSense
Akamai -> BitTorrent
mp3.com -> Napster
Britannica Online -> Wikipedia
personal websites -> blogging
Evite -> upcoming.org dan EVDB
spekulasi nama domain -> search engine optimization
page views -> biaya per klik
screen scraping -> web services
penerbitan -> partisipasi
sistem manajemen konten -> wiki
direktori (taksonomi) -> tagging ( “folksonomy”)
kekakuan -> sindikasi

  1. F. Hubungan Web 2.0 Dengan perpustakaan

Pertanyaan yang pasti muncul bagi kita adalah: bagaimana konsep Web 2.0 berhubungan dengan dunia perpustakaan? Notess mengklaim bahwa untuk beberapa istilah Perpustakaan 2,0 berarti penggabungan blog, wiki, instant messaging, RSS, dan jaringan sosial ke dalam layanan perpustakaan Bagi orang lain itu menunjukkan melibatkan pengguna melalui interaktif dan kegiatan bersama seperti menambahkan tag, kontribusi komentar dan rating perpustakaan yang berbeda item. Maness menegaskan bahwa Perpustakaan 2.0 adalah user-berpusat komunitas virtua, dan Farkas mengatakan bahwa 2,0 Perpustakaan meningkatkan layanan kepada pengguna. Abram menggambarkan citra pustakawan yang baru, Pustakawan 2.0. Pustakawan ini memahami kekuatan Web 2.0 kesempatan, dan menyelidiki dan akhirnya mengadopsi alat-alat mereka. Mereka menggunakan katalog yang non-tradisional dan klasifikasi dan mengakui gagasan tentang ‘ekor panjang’ Pustakawan 2,0 menghubungkan pengguna ke ahli ‘diskusi dan latihan kepada masyarakat; mereka mengembangkan jaringan sosial dan mendorong pengguna untuk mengembangkan konten dan metadata. Pustakawan 2,0 memahami ‘kebijaksanaan orang banyak’ dan peran baru dan wikisphere blogosphere. Maness menambahkan bahwa Pustakawan 2,0 bertindak sebagai fasilitator.

  1. G. Conclusion (kesimpulan)

Jadi, Web 2.0 sangat penting dan menjadi topik sentral di dunia informasi  dan perpustakaan sekarang ini, dan semakin banyak perpustakaan di seluruh indonesia menggunakan aplikasi ini akan mempermudahkan dalam intergrasi informasi antar perpustakaan. Menggunakan blog yang berfungsi sebagai sumber dan pilar informasi karena sebagai sebuah tempat di mana pustakawan dapat mengekspresikan pendapat mereka tentang masalah yang dihadapi. Selain itu, perpustakaan dapat memasarkan perpustakaan untuk berbagai pengguna potensial. Selain itu, pustakawan dapat menggunakan wiki atau YouTube untuk tujuan instruksi perpustakaan. pustakawan juga dapat menggunakan wiki sebagai platform untuk rekomendasi buku, katalog dan penandaan, semua diciptakan oleh pengguna perpustakaan.

Daftar Pustaka

Abram, S. (2006), “Web 2.0, dan pustakawan 2.0: Menyiapkan 2.0.”, Dunia SirsiDynix OneSource, Vol. 2 No. 1 2 http://www.imakenews.com/sirsi/e_article000505688.cfm

Dongmei Cao. Cina Perpustakaan 2.0: Status dan Pengembangan .  College of Charleston United States Amerika Serikat .CaoD@cofc.edu

Maness, JM (2006), 2,0 Perpustakaan Teori: Web 2.0 dan Implikasi untuk Perpustakaan
http://www.webology.ir/2006/v3n2/a25.html

What is Web 2.0 Desain Pola dan Business Model untuk Generasi Berikutnya Perangkat Lunak. http://oreilly.com/pub/a/web2/archive/what-is-web-20.html?page=5

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: