GLOBALISASI DAN TENAGA KERJA LOKAL


Pendahuluan

Hampir di semua negara saat ini, problema ketenagakerjaan atau perburuhan selalu tumbuh dan berkembang, baik di negara maju maupun berkembang, baik yang menerapkan ideologi kapitalisme maupun sosialisme. Hal itu terlihat dari selalu adanya departemen yang mengurusi ketenagakerjaan pada setiap kabinet yang dibentuk. Hanya saja realitas tiap negara memberikan beragam problem riil sehingga terkadang memunculkan berbagai alternatif solusi. Umumnya, negara maju berkutat pada problem ketenagakerjaan yang berkait dengan ‘mahalnya’ gaji tenaga kerja, bertambahnya pengangguran karena mekanisasi (robotisasi), tenaga kerja ilegal, serta tuntutan penyempurnaan status ekonomi, sosial bahkan politis. Sementara di negara berkembang umumnya problem ketenagakerjaan berkait dengan sempitnya peluang kerja, tingginya angka penganguran, rendahnya kemampuan SDM tenaga kerja, tingkat gaji yang rendah, jaminan sosial nyaris tidak ada.

Meski terlihat adanya ‘niat baik’ dari setiap pemerintahan untuk menyelesaikan berbagai problema ketenagakerjaan ini, namun dalam kenyataannya seluruh kebijakan tersebut tidak menyentuh problema mendasar. Tidak heran kalau solusi yang diberikan nyaris hanya sebagai upaya tambal sulam, yang tidak menyelesaikan persoalan secara mendasar, menyeluruh dan tuntas.

Walhasil, berbagai problem yang menyangkut hak-hak kaum Tenaga kerja lokal tidak terselesaikan dengan baik. Lebih ironis lagi, pemerintah dengan aparat keamannya bertindak represif menekan gerakan buruh untuk meraih hak-haknya.

Memang persoalan tenaga kerja lokal merupakan problem multidimensional. Banyak faktor yang mempengaruhi munculnya problem ini, seperti globalisasi, ekonomi, politik, keamanan nasional bahkan intervensi negara-negara besar. Karena itu penyelesaiannya membutuhkan kebijakan komprehensif dan mendasar.

  1. A. Definisi Globalisasi Dan Tenaga Kerja Lokal

Globalisasi sebenarnya bukanlah suatu fenomena baru dalam sejarah peradaban dunia. Sebelum kemunculan negara-bangsa (nation-state),perdagangan dan migrasi lintas benua telah sejak lama berlangsung.Jauh sebelumnya, perdagangan regional telah membuat interaksi antarsuku bangsa terjadi secara alamiah. Globalisasi sebagai sebuah fenomena multi dimensi pada titik tertentu melahirkan berbagai perspektif. Pada satu sisi para ilmuwan menganggap bahwa globalisasi adalah sebuah paradigrma ilmu (grand theory) dalam keilmuan sosial saja, padahal jika kita melihat aspek yang lebih luas dari pada globalisasi maka implikasi yang ditimbulkan globalisasi juga mengarah pada perubahan yang signifikan terhadap pola perkembangan sains dan teknologi dunia.

Sebagai sebuah konsep Globalisasi selalu identik dengan konsep pengurangan kedaulatan sebuah negara, penghilangan batas wilayah sebuah negara, kecanggihan teknologi, penyempitan ruang dunia dan pengembangan transaksi perdagangan berdasarkan kepada pemikiran perdagangan bebas.

Kata ‘globalisasi’ berasal dari kata ‘global’, dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia berarti secara keseluruhan. Kemudian dalam pandangan sosiolog Jepang, Kenichi Ohmae misalnya globalisasi bukan saja membawa ideologi yang bersifat global dalam hal ini demokrasi liberal, tetapi juga turut mengancam proses pembentukan negara bangsa, karena globalisasi pada intinya ingin mewujudkan negara tanpa batas (Borderless). Maka globalisasi telah menjadikan dunia ini sebagai suatu area tanpa batas yang tidak tersekat-sekat lagi oleh batas wilayah dan daerah. Banyak para ahli yang mengartikan kata globalisasi. Berikut ini beberapa defenisi globalisasi antar lain :

  1. Menurut Malcolm Waters, globalisasi adalah sebuah proses sosial yang berakibat bahwa pembatasan geografis pada keadaan sosial budaya menjadi kurang penting yang terjelma dalam kesadaran seseorang.
  2. Menurut Emmanuel Ritcher, globalisasi merupakan jaringan kerja global yang secara bersamaan menyatukan masyarakat yang sebelumnya terpencar dan terisolasi ke dalam saling ketergantungan dan persatuan dunia.
  3. Menurut Selo Soemardjan, globalisasi adalah terbentuknya system organisasi dan komunikasi antar masyarakat di seluruh dunia untuk mengikuti system dan kaidah yang sama.
  4. Menurut Thomas L. Friedman, globalisasi telah mengubah dunia menjadi “datar” dan “terbuka”. Perdagangan global, out-sourching, jaringan distribusi dan kekuatan-kekuatan politik telah membawa perubahan bagi dunia, baik perubahaan yang berdampak positif maupun yang negatif. Globalisasi berlangsung cepat dan tidak dibisa dicegah; dan membawa pengaruh yang besar terhadap organisasi dan praktek-praktek perusahaan. Dalam The World Flat, Friedman (2006) menggambarkan globalisasi sebagai jalin-menjalin pasar, teknologi, sistem informasi dan sistem telekomunikasi dengan cara yang menyusut dan meratakan dunia. Globalisasi memungkinkan kita untuk mencapai seluruh dunia lebih jauh, lebih cepat, lebih dalam, dan lebih murah daripada sebelumnya, dan ragum versa.
  5. Menurut Edison A. Jamli, globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa- bangsa di seluruh dunia.
  6. Menurut The American Heritage Dictionary, globalisasi adalah suatu tindakan/proses menjadikan sesuatu yang mendunia (inuversal)baik dalam lingkup/aplikasinya.
  7. Menurut Wikipedia, globalisasi merupakan istilah untuk menjelaskan perubahan dalam masyarakat dan perekonomian dunia yang dihasilkan oleh meningkat pesatnya perdagangan dan pertukaran kebudayaan.
  8. Rikowski (2005) menguraikan empat dimensi yang bertentangan mewujudkan globalisasi. Dimensi pertama adalah dimensi budaya. Dalam globalisasi, keragaman berbagai kebudayaan di dunia serta tantangan homogenisasi kebudayaan yang berbeda harus diakui. Alamat dimensi yang kedua hilangnya kekuasaan nasional dalam ekonomi global, dengan munculnya begitu banyak organisasi transnasional, seperti Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional. Organisasi transnasional ini menetapkan standar lapangan di dunia dan sangat mempengaruhi organisasi-organisasi nasional.. Dimensi ketiga adalah ekspansi modal, yang menggambarkan kehidupan individu di pasar global. Yang terakhir tapi yang paling penting adalah dimensi nilai tenaga kerja global. Dengan globalisasi, perusahaan dapat mempekerjakan tenaga kerja nilai terbaik di seluruh dunia untuk memaksimalkan keuntungan. Keempat dimensi kontradiktif menunjukkan bahwa globalisasi membawa peluang serta tantangan bagi kita.

Dari beberapa pengertian di atas, bisa disimpulkan bahwa globalisasi adalah suatu proses, suatu perubahan, suatu fenomena yang mendunia (mengglobal). Masyarakat tidak lagi terkotak-kotak dalam kelompoknya sendiri, tetapi telah berubah menjadi suatu masyarakat global atau masyarakat dunia. Globalisasi berlangsung sangat cepat dan serentak di seluruh belahan dunia. Globalisasi, merupakan proses transformasi dalam aspek kehidupan manusia, sosial, budaya dan politik sebagai dampak dari modernisasi yang secara sistimatik terjadi akibat berkembangnya secara cepat teknologi komunikasi. Globalisasi adalah proses menyatunya geo politik ekonomi dan sosial negara-negara di seantero dunia. Globalisasi mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, seperti bidang ekonomi, politik, tekhnoogi, sosial budaya, ketenagakerjaan, dan sebagainya.

Berbagai dimensi globalisasi juga dialami Indonesia. Salah satu implikasi terkait adalah dimensi ekonomi dimana perdagangan barang dan jasa, perpindahan modal, jaringan transportasi serta pertukaran informasi dan kebudayaan bergerak secara bebas ke seluruh dunia seiring dengan meleburnya batas-batas negara. Dampak globalisasi terhadap tenaga kerja, terutama tenaga kerja lokal. Untuk itu, kita harus memahami dulu apa yang disebut dengan ketenagakerjaan. Ketenagakerjaan adalah segala hal yang berhubungan dengan tenaga kerja pada waktu sebelum, selama, dan sesudah masa kerja. Sedangkan tenaga kerja adalah setiap orang laki-laki atau wanita yang sedang dalam dan/atau akan melakukan pekerjaan, baik di dalam maupun di luar hubungan kerja guna menghasilkan barang atau jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Pekerja atau buruh adalah tenaga kerja yang bekerja di dalam hubungan kerja pada pengusaha dengan menerima upah. Tenaga kerja lokal adalah tenaga kerja yang bekerja masih di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, baik sebagai karyawan biasa maupun sebagai buruh.

Kemudian masalah yang sering timbul dalam ketenagakerjaan adalah terjadinya ketidakseimbangan antara penawaran tenaga kerja (supply of labor) dan permintaan akan tenaga kerja (demand for labor) pada tingkat upah tertentu. Ketidakseimbangan ini dapat berupa exess supply of labor, yaitu apabila penawaran lebih besar daripada permintaan akan tenaga kerja, atau terjadi exess demand for labor, yaitu apabila terjadi permintaan akan tenaga kerja lebih besar daripada penawaran akan tenaga kerja.

Kemudian menurut Lewis, A dalam Todaro (1985: 66) mengemukakan teorinya mengenai ketenagakerjaan, yaitu; kelebihan pekerja merupakan kesempatan dan bukan masalah. Kelebihan pekerja satu sektor akan memberikan andil terhadap pertumbuhan output dan penyediaan pekerja di sektor lain. Selanjutnya Lewis mengemukakan bahwa ada dua sektor di dalam perekonomian negara sedang berkembang, yaitu sektor modern dan sektor tradisional.. Sektor tradisional tidak hanya berupa sektor pertanian di pedesaan, melainkan juga termasuk sector informal di perkotaan (pedagang kaki lima, pengecer, pedagang angkringan). Sektor informal mampu menyerap kelebihan tenaga kerja yang ada selama berlangsungnya proses industrialisasi, sehingga disebut katub pengaman ketenagakerjaan. Dengan terserapnya kelebihan tenaga kerja disektor industry (sektor modern) oleh sektor informal, maka pada suatu saat tingkat upah di pedesaan akan meningkat. Peningkatan upah ini akan menggurangi perbedaan tingkat pendapatan antara pedesaan dan perkotaan, sehingga kelebihan penawaran pekerja tidak menimbulkan masalah pada pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya kelebihan pekerja justru merupakan modal untuk mengakumulasi pendapatan, dengan asumsi perpindahan tenaga kerja dari sektor tradisional ke sektor modern berjalan lancar dan perpindahan tersebut tidak pernah menjadi terlalu banyak. (Todaro, 2004: 132)

  1. B. Bentuk Kepihakan Pemerintah Pada Tenaga Kerja Lokal

Menghadapi masalah ketenagakerjaan yang semakin kompleks, pembinaan hubungan industrial harus lebih ditingkatkan, artinya masing-masing pihak, pekerja, pengusaha, serikat pekerja maupun pemerintah dapat memahami fungsi dan tugas masing-masing demi kelancaran usaha. Untuk itu perlu terus dikembangkan sarana komunikasi dan konsultasi yang sedini mungkin secara maksimal dalam menyelesaikan masalah yang akan terjadi.

Dalam kaitannya dengan pekerja/buruh, Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1999 – 2004 mengamanatkan bahwa pengembangan ketenagakerjaan secara menyeluruh dan terpadu diarahkan pada peningkatan kompetensi dan kemandirian tenaga kerja, peningkatan pengupahan, penjaminan kesejahteraan, perlindungan tenaga kerja dan kebebasan berserikat. Kemudian Ketenagakerjaan juga sudah di atur dalam Undang-Undang No. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan. Dalam undang-undang tersebut dijelaskan bahwa Pembangunan ketenagakerjaan berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pembangunan ketenagakerjaan diselenggarakan atas asas keterpaduan dengan melalui koordinasi fungsional lintas sektoral pusat dan daerah. Pembangunan ketenagakerjaan bertujuan untuk:

  1. Memberdayakan dan mendayagunakan tenaga kerja secara optimal dan manusiawi,
  2. Mewujudkan pemerataan kesempatan kerja dan penyediaan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan nasional dan daerah,
  3. Memberikan perlindungan kepada tenaga kerja dalam mewujudkan kesejahteraan, dan
  4. Meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja dan keluarganya.

Setiap tenaga kerja memiliki kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan. Setiap pekerja/buruh berhak memperoleh perlakuan yang sama tanpa diskriminasi dari pengusaha. Dalam rangka pembangunan ketenagakerjaan, pemerintah menetapkan kebijakan dan menyusun perencanaan tenaga kerja. Perencanaan tenaga kerja meliputi perencanaan tenaga kerja makro dan perencanaan tenaga kerja mikro. Dalam penyusunan kebijakan, strategi, dan pelaksanaan program pembangunan ketenagakerjaan harus berpedoman pada perencanaan tenaga kerja.

Kemudian pelatihan kerja diselenggarakan dan diarahkan untuk membekali, meningkatkan, dan mengembangkan kompetensi kerja guna meningkatkan kemampuan, produktivitas, dan kesejahteraan. Pelatihan kerja dilaksanakan dengan memperhatikan kebutuhan pasar kerja dan dunia usaha, baik di dalam maupun di luar hubungan kerja. Pelatihan kerja diselenggarakan berdasarkan program pelatihan yang mengacu pada standar kompetensi kerja. Pelatihan kerja dapat dilakukan secara berjenjang. Ketentuan mengenai tata cara penetapan standar kompetensi kerja. Setiap tenaga kerja berhak untuk memperoleh dan/atau meningkatkan dan/atau mengembangkan kompetensi kerja sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya melalui pelatihan kerja. Pemerintah menetapkan kebijakan ketenagakerjaan dan perluasan kesempatan kerja.

  1. C. Dampak globalisasi terhadap tenaga kerja lokal

Dampak yang dihasilkan dari era globalisasi yang berkembang saat ini di bidang ketenagakerjaan, terutama tenaga kerja lokal, menghasilkan dampak yang positif dan negatif.

Dampak positif yakni sebagai berikut:

  1. Dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat
  2. Dapat memenuhi kekurangan tenaga kerja di daerah-daerah
  3. Dapat mempercepat pemerataan persebaran penduduk
  4. Globalisasi menyebabkan negara maju membangun banyak pabrik di negara dunia ketiga/ negara berkembang, pabrik tersebut membutuhkan banyak tenaga kerja atau buruh, hal ini dapat mengurangi pengangguran di Indonesia serta dapat mengurangi pengangguran bagi daerah yang padat penduduknya

Dampak negatif yakni sebagai berikut:

  1. Adanya kecemburuan sosial antara masyarakat setempat dengan para pendatang.
  2. Terbengkalainya tanah pertanian di daerah ditinggalka karena masyarakat berbondong-bondong kedaerah lain.
  3. Globalisasi menyebabkan hubungan antar budaya yang menyebabkan Negara berkembang/ Negara dunia ketiga menjadi ketergantungan ekonomi dengan Negara maju. Korporat atau perusahaan yang produknya menjadi trend seperti Mc Donald, Nike, dan lain-lain, sangat berkuasa di pasar, sehingga mereka memonopoli pasar dan berbuat semena-mena. Mereka mendirikan pabrik di Negara berkembang atau Negara dunia ketiga agar bisa membayar atau menggaji para tenaga kerja local/ buruh pabrik dengan upah yang seminim mungkin. Perusahaan atau korporat tersebut berdalih bahwa mereka yang membuat pabriknya, kemudian mereka juga sudah membayar pajak terhadap Negara berkembang, hal itu berarti mereka sudah membayar devisa terhadap Negara, jadi para tenaga kerja local tidak perlu dibayar sesuai upah minimum regional (UMR). Apabila negara berkembang atau Negara dunia ketiga tidak mau menerima ketentuan tersebut, mereka akan mencari Negara lain dan membangun pabrik di Negara lain. Hal itu membuat Negara berkembang tidak berdaya menghadapi Negara maju. Contoh kasus yang terjadi di Indonesia adalah kasus pabrik SONY yang saat ini sudah pindah ke Vietnam. Mereka pindah karena dipaksa membayar buruh sesuai upah minimum regional (UMR). Intinya adalah tenaga kerja dibayar semurah mungkin dan  hidup di bawah garis kemiskinan sehingga mereka tidak sejahtera.
  4. Expatriate terlalu dianggap sebagai superior. Padahal untuk beberapa jenis produk, dibutuhkan marketer yang tahu nilai local, karena tenaga kerja lokal lebih mengerti tentang nilai-nilai budaya negaranya.
  5. Globalisasi juga menyebabkan terjadinya perpindahan penduduk secara besar-besaran. Penduduk bergerak meninggalkan tanah kelahirannya menuju kota lain yang menawarkan pekerjaan dengan jaminan upah yang lebih baik. perpindahan tenaga kerja ini terus meningkat setiap tahunnya akibat adanya percepatan pembangunan ekonomi di kota-kota besar. Sementara itu, kesulitan ekonomi dan sempitnya lapangan pekerjaan serta rendahnya upah di daerah asal, mendorong penduduknya untuk mengadu nasib ke kota-kota besar meskipun tanpa bekal keahlian, dokumen dan persiapan yang memadai.
  1. D. Solusi Mengatasi Dampak Negatif Globalisasi Pada Tenaga Kerja Lokal

Usaha-usaha untuk menanggulangi permasalahan dampak negatif tenaga kerja lokal adalah sebagai berikut:

  1. Persebaran pembangunan industri sampai ke daerah-daerah,
  2. Peningkatan pendapatan masyarakat desa melalui intensifikasi dan Koperasi Unit Desa,
  3. Pembangunan fasilitas yang lebih lengkap seperti pendidikan dan kesehatan,
  4. Pendidikan bukan saja akan melahirkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas, memiliki pengetahuan dan keterampilan serta menguasai teknologi, tetapi juga dapat menumbuhkan iklim bisnis yang sehat dan kondusif bagi pertumbuhan ekonomi,
  5. Pemerintah harus membuat lapangan kerja baru bagi tenaga kerja local, apalagi tenaga kerja yang di PHK (pemtusan hubungan kerja) dan bagi tenaga kerja local yang pabriknya telah dipindahkan ke Negara lain.
  6. Tenaga kerja lokal harus mempunyai kemampuan untuk berwiraswasta.
  7. Pemerintah daerah harus berusaha memajukan dan meningkatkan perekonomian daerahnya. Sehingga dapat menyerap tenaga kerja yang banyak dan tidak terjadi perpindahan penduduk dari daerah yang berkembang ke kota-kota besar.
  8. Pemerintah daerah juga harus memberikan bekal keahlian, dokumen dan persiapan yang memadai kepada warganya yang akan melakukan migrasi. Masyarakat yang akan bermigrasi juga harus memahami resiko-resiko apa saja yang akan mereka temukan kalau mereka nekat melakukan perpindahan tanpa bekal yang memadai.

Kemudian selain solusi di atas ada beberapa juga solusi yang bisa diterapkan untuk mengurangi dampak negatif tenaga kerja lokal antara lain sebagai berikut: (1). Perluasan kesempatan berusaha yang sebanyak-banyaknya didukung oleh berbagai fasilitas kredit UMKM, perpajakan, serta bimbingan produksi dan pemasaran di bidang-bidang pertanian dan perkebunan, nelayan, inudstri kecil dan menengah, serta perdagangan. (2) Pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan dengan pola gotong royong disertai dukungan regulasi sistim administrasi keuangan yang menunjang, tertuama untuk mendukung peningkatan kemampuan transportasi darat, baik dengan mobil maupun kereta api. (3) Peningkatan penyelenggaraan pelatihan kerja dan pendidikan/pelatihan kembali (remedial education and remedial training) untuk para sarjana, dan penyelenggaraan program sarjana masuk desa. (4) Revitalisasi pendidikan menengah kejuruan (SMK) dan politeknik serta peningkatan relevansi kurikulum dan program belajar mengajar yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja.

Maka dengan program tersebut di atas mampu mengurangi dan melindungi pekerja dari dampak negatif baik dari masalah gaji, penyeyaian, seksual dan bunuh diri.

  1. E. Hubungan globalisasi pada perpustakaan

Globalisasi, yang paling progresif gerakan global sejak Revolusi Industri, telah membawa dampak yang sangat besar untuk setiap benua dan setiap industri. Seperti perpustakaan semakin mendapatkan sumber daya dari dan memberikan pelayanan kepada pengguna di seluruh dunia, sebuah model baru dan operasi layanan perpustakaan muncul, yang disebut sebagai Perpustakaan Global (GL). Perpustakaan Global dapat didefinisikan dengan karakteristik kunci berikut: 1) secara global dapat diakses baik di perpustakaan virtual atau fisik lingkungan; 2) memberikan pengguna global layanan 24×7; 3) host global yang berfokus pada koleksi perpustakaan dan sumber daya; 4) menggunakan talenta global ; 5) beroperasi secara global, meskipun kantor pusat berada di negara asal; 6) secara aktif terlibat dalam kegiatan yang berhubungan dengan perpustakaan bagi masyarakat global.

Manfaat dari Global Perpustakaan:

  • Integrasi sumber
  • Akses setara terhadap sumber daya lokal dan global
  • Dimaksimalkan produktivitas dan meminimalkan biaya operasional
  • Leverage lokal dan bakat khusus
  • Promosi perpustakaan internasional standar dan pelestarian peradaban dan budaya lokal serta
  • Melatih staf dan pelanggan di bidang melek
  • Bertukar pengalaman dengan perpustakaan dunia informasi
  • Menyediakan akses ke informasi dunia
  • Memperkuat peran perpustakaan

Tantangan Global Perpustakaan:

  • Pelestarian budaya lokal
  • Saldo dari berbagai budaya dalam manajemen
  • Pemahaman agama lokal, ideologi, sistem politik, dll
  • Kebutuhan keterampilan manajerial baru set di global dan lintas-budaya lingkungan manajemen
  1. F. Kesimpulan

Globalisasi adalah suatu proses, suatu perubahan, suatu fenomena yang mendunia (mengglobal). Masyarakat tidak lagi terkotak-kotak dalam kelompoknya sendiri, tetapi telah berubah menjadi suatu masyarakat global atau masyarakat dunia. Globalisasi berlangsung sangat cepat dan serentak di seluruh belahan dunia. Maka diperlukan sosialisasi Undang-Undang Nomor. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan peraturan-peraturan pendukungnya harus terus dilaksanakan, agar semua pihak, terutama di daerah-daerah terpencil dapat mengetahui dan memahami maksud dari ketentuan tersebut. Pelaksanaan sosialisasi Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003, akan lebih mengena apabila didukung dengan sarana dan kelengkapan yang memudahkan para pengguna untuk memahami, seperti brosur, alat peraga dan menjangkau unit-unit di daerah-daerah terpencil.

DAFTAR PUSTAKA

Dampak Krisis Global, Problem, Dan Tantangan Penempatan Dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Keluar Negeri. http://jimly.myblogrepublika.com/2009/02/05/dampak-krisis-global-problem-dan-tantangan-penempatan-dan-perlindungan-tenaga-kerja-indonesia-keluar-negeri/. Diakses tanggal 8 november 2009 jam 14.00wib

Dampak Globalisasi Dan Peran IFLA. http://www.ifla.Org. diakses tanggal 6 November 2009 Jam 09.00 wib

Kajian Analisa Dan Evaluasi Perlindungan Ham Bagi Tenaga Kerja
Berdasarkan Undang-Undang No.13 Tahun 2003 Tentang
Ketenagakerjaan.  http://www.balitbangham.go.id/detail4.php?ses=&id=39

Mengembangkan Pemimpin Masa Depan Perpustakaan Dengan Global Melek Dalam Konteks Budaya Intelijen Perpustakaan Global Initiative.  (http://www.globallibrary.org/en/index.php)

Menyoroti Problem Ketenagakerjaan Oleh: Adi Abu Fatih. http://www.hayatulislam.net/menyoroti-problem-ketenagakerjaan.html.  diakses tanggal 04 NOvember 2009. jam 11.30wib

Pola Dan Arus Migrasi Di Indonesia httplibrary.usu.ac.iddownloadfpsosek-emalisa.pdf

Pustakawan di Era Globalisasi. http://riah-uns.blogspot.com/2008/05/pustakawan-di-era-globalisasi.html.

Sulistyo, Basuki. 1993. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia   Pustaka Utama

Tegakkan Keadilan bagi Buruh Migran Indonesia. http://indies.my-php.net/index.php?option=com_content&view=article&id=17:bmi&catid=14:siaran-pers&Itemid=55

Teori  Ekonomi Pembangunan. httpwww.damandiri.or.idfilesitiumajahmasjkuriunairbab2.pdf

WEB 2.0



PENDAHULUAN

Perkembang teknologi dan informasi mengharuskan perpustakaan untuk mengadopsi dan mengalirkan aliran teknologi dalam dunai perpustakaan. Perpustakaan tidak bisa dipisahkan dengan teknologi informasi karena akan banyak memberi kemudahan baik dalam sirkulasi, development, cataloging, public relation of librarians, promotion etc.

Belakangan ini ada satu istilah yang sedang naik daun, yaitu Web 2.0. Istilah ini dipakai untuk menggambarkan aplikasi-aplikasi Internet generasi baru yang merevolusi cara kita menggunakan Internet. Semua aplikasi ini membawa kita masuk ke babak baru penggunaan Internet yang berbeda dengan generasi sebelumnya pada pertengahan tahun 1990-an.

Era Web 2.0 sekarang ini punya ciri yang menarik yaitu kolaborasi. memungkinkan para pengguna untuk ikut berpartisipasi secara aktif. Kemudian ‘Web 2.0’ adalah cerita panas di blogosphere saat ini, dengan pasukan pendukung berhadapan orang-orang yang berpendapat bahwa itu bukan hal yang baru, dan sekutu mereka dengan kenangan menyakitkan Dot Com histeria pada 1990-an. Bahkan media terhormat seperti Business Week yang semakin bersemangat, dan konferensi yang mahal di San Francisco pada awal Oktober harus membuat orang menjauh saat melintas lebih dari 800 pendaftaran. Sepereti diungkapkan oleh Tim O’Reilly, web 2.0 merupakan revolusi bisnis dalam industri komputer akibat dari berkembangnya internet sebagai platform, and an attempt to understand the rules for success on that new platform. Chief among those rules is this: membangun aplikasi yang harness network efek untuk mendapatkan yang terbaik dan lebih banyak orang yang menggunakan.

Dimana perpustakan di Amerika, Australia atau di Negara-Negara Eropa telah menjadi perpustakaan satu kesatuan dan bagian dari teknologi. Karena perpustakaan di Negara-Negara maju tidak lagi (meninggalkan) menggunakan layanan manual melainkan telah menggunakan layanan interaktif atau feedback lebih dikenal dengan web 2.o. Sedangkan kenyataannya di Indonesia masih menerpakan system digitalisasi itupun belum seleruhnya perpustakaan menerapkannya serta system itupun terpusat (sentralisasi) dikota besar (Jawa), sangat jauh sekali berbanding perpustakaan Negara maju dengan Negar baru perkembang (negara ketiga) dimana hampir setiap perpustakaan telah mengaplikasi web 2.0 mulai perpustakaan sekolah hingga perpustakaan perguruan tinggi.

Adapun isu-isu mutakhir informasi perpustakaan yakni tentang masalah web 2.0. Namun ada beberapa edisi atau tingkat (version) web perpustakan yaitu mulai dari web 1.0, web 2.0, web 3.0 dan web 4.0 kesemua web tersebut memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing tetapi yang lebih popular dari keempat web tersebut yakni web 2.0,  sebelum kita membahas secara mendalam apa itu web 2.0

  1. A. SEJARAH WEB 2.0

Istilah “Web 2.0” diciptakan oleh Darcy DiNucci pada tahun 1999. Dalam artikelnya “Fragmented Masa Depan,” dia menulis.

“Web kita tahu sekarang, yang banyak menjadi jendela browser pada dasarnya screenfuls statis, hanya merupakan embrio dari Web yang akan datang. Glimmerings pertama Web 2.0 yang mulai muncul, dan kami hanya mulai melihat bagaimana hal itu bisa mengembangkan embrio Web akan screenfuls dipahami bukan sebagai teks dan grafis tetapi sebagai mekanisme transportasi, udara yang melaluinya interaktivitas terjadi. Akan muncul di layar komputer Anda, […] di TV Anda […] dashboard mobil Anda […] […] ponsel Anda dipegang tangan mesin-mesin permainan [. ..] mungkin bahkan microwave oven.”

Penggunaan istilah terutama berkaitan dengan Web desain dan estetika, ia berpendapat bahwa Web adalah “memecah-belah” karena penggunaan luas portabel Web-perangkat siap. Artikelnya ditujukan untuk desainer, mengingatkan mereka untuk kode untuk yang semakin beragam perangkat keras. Dengan demikian, dia menggunakan istilah petunjuk di – tetapi tidak secara langsung berhubungan dengan – saat ini menggunakan istilah. Istilah itu tidak muncul lagi sampai 2003. Para penulis ini berfokus pada konsep-konsep yang saat ini terkait dengan istilah tempat, seperti dikatakan Scott Dietzen, “Web menjadi universal, standar berbasis platform integrasi.”  Melainkan Pada tahun 2004, istilah memulai kenaikan popularitas ketika O’Reilly Media dan MediaLive host Web 2.0 pertama konferensi. Dalam sambutannya, John Batelle dan Tim O’Reilly diuraikan definisi mereka tentang “Web sebagai Platform,” di mana aplikasi perangkat lunak yang dibangun di atas Web sebagai lawan dari atas desktop. Aspek unik migrasi ini, menurut mereka, adalah bahwa “pelanggan sedang membangun bisnis bagi Anda.” Mereka berpendapat bahwa kegiatan pengguna menghasilkan konten (dalam bentuk ide-ide, teks, video, atau gambar) dapat “dimanfaatkan” untuk menciptakan nilai.

Kemudian diciptakan pada tahun 2004 oleh O’Reilly Media dan digunakan untuk menggambarkan “pengembangan dan jasa alat-alat baru yang sedang mengubah cara orang menggunakan Internet, sehingga lebih mudah untuk berkolaborasi, berkomunikasi dan berbagi informasi “(Secker 3).  Web 2.0 juga disebut perangkat lunak sosial. Secker menunjukkan bahwa perangkat lunak sosial adalah “tidak benar-benar perangkat lunak seperti itu, tapi layanan Internet yang pada akhirnya bisa menggantikan perangkat lunak desktop, ini tentang menggunakan Internet sebagai platform untuk menjalankan software dan layanan daripada PC desktop Anda, sehingga sebagian besar perangkat lunak-host dari jarak jauh dan dapat diakses dari mana saja dengan koneksi Internet “(Secker 4). Dipanaskan perdebatan mengenai istilah Web 2.0 muncul dan orang-orang mendefinisikannya dalam berbagai cara.

Istilah “Perpustakaan 2.0” diciptakan pada tahun 2005 oleh Michael Casey, yang melihat Perpustakaan 2,0 sebagai “user-perubahan berpusat” di dalam hatinya (Casey dan Savastinuk). Istilah menyiratkan bahwa kita dapat meningkatkan layanan perpustakaan dengan menggunakan Web 2.0 tools dan jasa. Sama seperti Web 2.0, istilah Perpustakaan 2.0 telah terbukti sebagai kontroversial. 62 terdaftar Crawford pandangan yang berbeda dan tujuh definisi yang berbeda dari istilah “Perpustakaan 2.0” dalam artikelnya dalam CITES dan Pemahaman.

  1. B. DEFENISI WEB 2.0
  2. 1. ‘Web 2.0 adalah jaringan sebagai platform, menjangkau seluruh perangkat tersambung; Web 2.0 adalah mereka yang membuat sebagian besar keuntungan intrinsik platform: memberikan software sebagai diperbarui terus-pelayanan yang semakin baik semakin banyak orang yang menggunakannya, menyita dan remixing data dari berbagai sumber, termasuk pengguna individu, sementara menyediakan data mereka sendiri dan jasa dalam bentuk yang memungkinkan remixing oleh orang lain, menciptakan efek jaringan melalui sebuah “arsitektur partisipasi”, dan akan melampaui halaman metafora Web 1.0 ke pengguna kaya memberikan pengalaman. “.
  3. Web 2.0: mencampur layanan dari berbagai penyedia dan pengguna di dikendalikan pengguna jalan. Seorang pengguna dapat menemukan informasi dalam satu tempat dan mungkin menemukan algoritma untuk menggunakan informasi di negara lain. Cerdas kombinasi keduanya mungkin menawarkan fungsionalitas tambahan pengguna, lebih nyaman atau hanya lebih menyenangkan.
  4. Menghubungkannya dengan istilah-istilah seperti blog, wiki, podcast, RSS feed, web sosial, dll dan menegaskan bahwa Web 2.0 adalah tempat di mana semua orang dapat menambahkan atau mengedit informasi. Ini adalah web di mana perangkat digital memungkinkan pengguna untuk membuat, mengubah dan mempublikasikan konten dinamis

  1. C. CIRI-CIRI WEB 2.0

Secara singkat, berikut ini ciri-ciri aplikasi Web 2.0 antara lain sebagai berikut:

–          The Web as Platform

Aplikasi Web 2.0 menggunakan Web (atau Internet) sebagai platformnya. Apa sih yang dimaksud dengan platform ? Platform di sini adalah tempat suatu aplikasi dijalankan. Contoh platform yang terkenal adalah Windows, di mana ada aplikasi-aplikasi seperti Microsoft Office dan Adobe Photoshop. Menggunakan Internet sebagai platform berarti aplikasi-aplikasi tersebut dijalankan langsung di atas Internet dan bukan di atas satu sistem operasi tertentu. Contohnya adalah Google yang bisa diakses dari sistem operasi mana pun. Contoh lainnya adalah Flickr yang juga bisa diakses dari sistem operasi mana pun. Kelebihannya jelas, aplikasi-aplikasi Web 2.0 ini tidak lagi dibatasi sistem operasi seperti pada Windows. Dan kita bahkan tidak perlu menginstall apapun untuk menggunakan aplikasi-aplikasi ini.

–          Harnessing Collective Intelligence

Aplikasi Web 2.0 memiliki sifat yang unik, yaitu memanfaatkan kepandaian dari banyak orang secara kolektif. Sebagai hasilnya muncullah basis pengetahuan yang sangat besar hasil gabungan dari pengetahuan banyak orang. Contoh yang jelas adalah Wikipedia. Wikipedia adalah ensiklopedi online yang memperbolehkan semua orang untuk membuat dan mengedit artikel. Hasilnya adalah ensiklopedi online besar yang sangat lengkap artikelnya, bahkan lebih lengkap daripada ensiklopedi komersial seperti Encarta ! Contoh lainnya lagi adalah del.icio.us di mana semua orang saling berbagi link-link menarik yang mereka temukan. Akibatnya kita bisa menemukan “permata-permata” di Web gabungan hasil browsing dari ribuan orang. Blogosphere juga merupakan contoh kepandaian kolektif karena setiap orang bisa menulis blog-nya sendiri-sendiri lalu saling link satu sama lain untuk membentuk jaringan pengetahuan, mirip seperti sel-sel otak yang saling terkait satu sama lain di dalam otak kita.

–          Data is the Next Intel Inside

Kekuatan aplikasi Web 2.0 terletak pada data. Aplikasi-aplikasi Internet yang berhasil selalu didukung oleh basis data yang kuat dan unik. Contohnya adalah Google, yang kekuatannya terletak pada pengumpulan dan manajemen data halaman-halaman Web di Internet. Contoh lainnya lagi adalah Amazon yang memiliki data buku yang bukan hanya lengkap, tapi juga sangat kaya dengan hal-hal seperti review, rating pengguna, link ke buku-buku lain, dan sebagainya. Ini berarti perusahaan yang unggul adalah perusahaan yang menguasai data.

–          End of the Software Release Cycle

Aplikasi Web 2.0 memiliki sifat yang berbeda dengan aplikasi pada platform “lama” seperti Windows. Suatu aplikasi Windows biasanya dirilis setiap dua atau tiga tahun sekali, misalnya saja Microsoft Office yang memiliki versi 97, 2000, XP, dan 2003. Di lain pihak, aplikasi Web 2.0 selalu di-update terus-menerus karena sifatnya yang bukan lagi produk melainkan layanan. Google misalnya, selalu di-update data dan programnya tanpa perlu menunggu waktu-waktu tertentu.

–          Lightweight Programming Models

Aplikasi Web 2.0 menggunakan teknik-teknik pemrograman yang “ringan” seperti AJAX dan RSS. Ini memudahkan orang lain untuk memakai ulang layanan suatu aplikasi Web 2.0 guna membentuk layanan baru. Contohnya adalah Google Maps yang dengan mudah dapat digunakan orang lain untuk membentuk layanan baru. Sebagai hasilnya muncullah layanan-layanan seperti HousingMaps yang menggabungkan layanan Google Maps dengan Craigslist. Layanan seperti ini, yang menggabungkan layanan dari aplikasi-aplikasi lainnya, dikenal dengan istilah mashup.

–          Software Above the Level of a Single Device

Aplikasi Web 2.0 bisa berjalan secara terintegrasi melalui berbagai device. Contohnya adalah iTunes dari Apple yang berjalan secara terintegrasi mulai dari server Internet (dalam bentuk toko musik online), ke komputer pengguna (dalam bentuk program iTunes), sampai ke mobile device (dalam bentuk iPod). Di masa depan diperkirakan akan makin banyak aplikasi-aplikasi yang memiliki sifat ini, misalnya saja demo Bill Gates di CES 2006 menunjukkan integrasi antar device yang luar biasa (lihat post Consumer Electronic Show 2006).

–          Rich User Experiences

Aplikasi Web 2.0 memiliki user interface yang kaya meskipun berjalan di dalam browser. Teknologi seperti AJAX memungkinkan aplikasi Internet memiliki waktu respons yang cepat dan user interface yang intuitif mirip seperti aplikasi Windows yang di-install di komputer kita. Contohnya adalah Gmail, aplikasi email dari Google yang memiliki user interface revolusioner. Contoh lainnya lagi adalah Google Maps yang meskipun berjalan dalam browser namun bisa memberikan respons yang cepat saat pengguna menjelajahi peta.

Kemudian selain ciri diatas web 2.0 juga memiliki cirri karaterisktik yang lain antara lain: (1) Karakteristik utama Web 2.0 adalah produksi individu dan user-generated content (UGC). UGC merujuk kepada diri-penerbitan, penerbitan pribadi dan ekspresi diri (2). Karakteristik kedua adalah kapasitas untuk ‘memanfaatkan kekuatan orang banyak. ” (3). Karakteristik selanjutnya adalah bahwa arsitektur dari partisipasi dan berarti bahwa penunjukan layanan dapat meningkatkan dan memfasilitasi partisipasi pengguna. (4). Karakteristik lain adalah efek jaringan, istilah ekonomi yang digunakan untuk menggambarkan peningkatan nilai yang ada layanan pengguna, karena lebih banyak orang mulai menggunakannya (5). Karakteristik akhir adalah keterbukaan. Ini menunjukkan bekerja dengan standar terbuka, dengan menggunakan perangkat lunak open source, dengan menggunakan data bebas, menggunakan kembali data, dan bekerja dalam semangat inovasi terbuka

Jadi dapat disimpulkan bahwa ciri kareteristik web 2.0 yakni adanya komunitas jaringan. Di dalam komunitas jaringan, kita bisa berpartisipasi. Dan yang paling mencolok adalah penggunaan antar muka yang user friendly, persis dengan desktop komputer kita saat ini.

  1. D. Manfaat web 2.0

Web 2.0 memiliki dampak pada perpustakaan dan layanan perpustakaan antara lain sebagai berikut:

  1. Peningkatan relevansi perpustakaan kepada pengguna;
  2. Meningkatkan citra perpustakaan (misalnya, pengunjung akan melihat bahwa perpustakaan yang up to date dengan teknologi);
  3. Allowed kaya, interaktif, tepat waktu, layanan nyaman sehingga dapat meningkatkan tingkat pelayanan dan kualitas, dan memperluas jangkauan layanan (misalnya, menyebarkan informasi melalui RSS feed, menyediakan beraneka ragam layanan, dan menawarkan lebih banyak pilihan untuk melayani pengguna);
  4. Peningkatan partisipasi pengguna, dan meningkatkan interaksi dan komunikasi dengan pengguna;
  5. Pustakawan memperluas perspektif, dan memfasilitasi pengguna memperoleh ‘umpan balik dan pembaca berikut’ bunga tren;
  6. Drew pada pengetahuan kolektif untuk lebih melayani pengguna;
  7. Peningkatan pustakawan ‘antar-departemen komunikasi dan penyebaran informasi yang dipercepat bagi para pengguna;
  8. Memfasilitasi pemecahan masalah instan dengan manfaat dari layanan ditelusuri;
  9. Peningkatan pengetahuan berbagi dan kolaborasi.

  1. E. Perbedaan Web 1.0 Dan Web 2.0
WEB 1.0 WEB 2.0
DoubleClick -> Google AdSense
Akamai -> BitTorrent
mp3.com -> Napster
Britannica Online -> Wikipedia
personal websites -> blogging
Evite -> upcoming.org dan EVDB
spekulasi nama domain -> search engine optimization
page views -> biaya per klik
screen scraping -> web services
penerbitan -> partisipasi
sistem manajemen konten -> wiki
direktori (taksonomi) -> tagging ( “folksonomy”)
kekakuan -> sindikasi

  1. F. Hubungan Web 2.0 Dengan perpustakaan

Pertanyaan yang pasti muncul bagi kita adalah: bagaimana konsep Web 2.0 berhubungan dengan dunia perpustakaan? Notess mengklaim bahwa untuk beberapa istilah Perpustakaan 2,0 berarti penggabungan blog, wiki, instant messaging, RSS, dan jaringan sosial ke dalam layanan perpustakaan Bagi orang lain itu menunjukkan melibatkan pengguna melalui interaktif dan kegiatan bersama seperti menambahkan tag, kontribusi komentar dan rating perpustakaan yang berbeda item. Maness menegaskan bahwa Perpustakaan 2.0 adalah user-berpusat komunitas virtua, dan Farkas mengatakan bahwa 2,0 Perpustakaan meningkatkan layanan kepada pengguna. Abram menggambarkan citra pustakawan yang baru, Pustakawan 2.0. Pustakawan ini memahami kekuatan Web 2.0 kesempatan, dan menyelidiki dan akhirnya mengadopsi alat-alat mereka. Mereka menggunakan katalog yang non-tradisional dan klasifikasi dan mengakui gagasan tentang ‘ekor panjang’ Pustakawan 2,0 menghubungkan pengguna ke ahli ‘diskusi dan latihan kepada masyarakat; mereka mengembangkan jaringan sosial dan mendorong pengguna untuk mengembangkan konten dan metadata. Pustakawan 2,0 memahami ‘kebijaksanaan orang banyak’ dan peran baru dan wikisphere blogosphere. Maness menambahkan bahwa Pustakawan 2,0 bertindak sebagai fasilitator.

  1. G. Conclusion (kesimpulan)

Jadi, Web 2.0 sangat penting dan menjadi topik sentral di dunia informasi  dan perpustakaan sekarang ini, dan semakin banyak perpustakaan di seluruh indonesia menggunakan aplikasi ini akan mempermudahkan dalam intergrasi informasi antar perpustakaan. Menggunakan blog yang berfungsi sebagai sumber dan pilar informasi karena sebagai sebuah tempat di mana pustakawan dapat mengekspresikan pendapat mereka tentang masalah yang dihadapi. Selain itu, perpustakaan dapat memasarkan perpustakaan untuk berbagai pengguna potensial. Selain itu, pustakawan dapat menggunakan wiki atau YouTube untuk tujuan instruksi perpustakaan. pustakawan juga dapat menggunakan wiki sebagai platform untuk rekomendasi buku, katalog dan penandaan, semua diciptakan oleh pengguna perpustakaan.

Daftar Pustaka

Abram, S. (2006), “Web 2.0, dan pustakawan 2.0: Menyiapkan 2.0.”, Dunia SirsiDynix OneSource, Vol. 2 No. 1 2 http://www.imakenews.com/sirsi/e_article000505688.cfm

Dongmei Cao. Cina Perpustakaan 2.0: Status dan Pengembangan .  College of Charleston United States Amerika Serikat .CaoD@cofc.edu

Maness, JM (2006), 2,0 Perpustakaan Teori: Web 2.0 dan Implikasi untuk Perpustakaan
http://www.webology.ir/2006/v3n2/a25.html

What is Web 2.0 Desain Pola dan Business Model untuk Generasi Berikutnya Perangkat Lunak. http://oreilly.com/pub/a/web2/archive/what-is-web-20.html?page=5

%d bloggers like this: