OPEN SOURCES TOOL : UNTUK LAYANAN GRATIS PERPUSTAKAAN


Globalisasi mempengaruhi berbagai aspek dan tuntunan hidup masyarakat informasi maka dampak dari globalisasi juga berhimpas pada tataran (manajemen) perpustakaan dinama perpustakaan dituntut mengikut perkembangan postmodern atau pascamodern. Sebelum kita menguraikan Perpustakaan postmodern maka ada baiknya melihat apa saja unsur dari postmodern atau cirri-ciri dari postmodern antara lain:

  1. Pergeseran dari ekonomi barang dan jasa
  2. Pertumbuhan jumlah dan pengaruh kelas professional dan pekerja teknis
  3. Organisasi masyarakat berdasarkan pengetahuan teoritas, yakni penggabungan sains, teknologi dan bisnis.
  4. Titik beratnya pada perkembangan metode-metode teknologi intelektual.

Dari point diatas maka dapat dijelaskan bahwa perpustakaan postmodern yakni ditandai adanya pergesaran koleksi perpustakaan yang sebelum dalam bentuk monograp, namun saat ini perpustakaan harus dan merupakan kewajiban menyediakan layanan atau koleksi yang bersifat eletronik seperti e-journal. Selanjutnya diperpustakaan sangat dibutuhkan orang yang memiliki Multi Skill Of Personal tidak hanya mengerti dan paham satu bidang lebih berbagai bidang misalnya pustakawan harus memiliki keahlian menulis, menyampaikan informasi, teknologi dan psikologi.

Oleh sebab itu perpustakaan harus mengkombinasikan berbagai layanan yang memungkin untuk mendukung perkembangan perpustakaan tidak hanya terfokus pada layanan perpustakaan saja melainkan penggabungan sains, teknologi dan bisnis maksudnya adalah perpustakaan mampu mendesain ruangan semanarik mungkin untuk meningkatkan pengunjung perpustakaan, layanan yang digunakan harus menggunakan network society (jaringan masyarakat) seperti facebook, twiter serta setiap pustakawan harus memiliki one librarian one blog sehingga mempermudahkan dalam share of information to user, selain itu pustakawan memiliki jiwa enteperneship (jiwa kerusahaan) yakni informasi yang tersedia diperpustakaan dikemas sebaik mungkin baik dalam bentuk resume, abstrak karena diperpustakaan terdapat berbagai koleksi buku dan informasi, jangan sampai informasi  hanya dipajang (display) diruang buku. Maka disini yang sangat dibutuhkan pustakawan yang memiliki krativitas. kemudian seorang pustakawan harus imajinasi dan kreativitas tinggi yang tak pernah terpikir orang lain, jangan hanya terfokus dengan melayani pengunjung. Jika perkerjaan pustakawan hanya melakukan atau mengejarkan hari-harinya melayani pengunjung yakinlah pustakawan tersebut tidak memiliki nilai tambah karena anak kecil juga bisa seperti itu. Mulai dari sekarang pustakawan harus berpikir dan menciptakan kreativitas (kombinasi) apa yang harus ada diperpustakaan serta layanan apa saja harus ada diperpustakan tersebut.

Dibawah ini ada beberapa tool open sources gratis, informasi ini sangat mempermudah dan membantu perpustakaan digunakan pustakawan dalam promosi perpustakaan, share information, dan feedback apalagi sekarang pengunjung ingin informasi cepat, tepat dan akurat.

1. Meebo (http://wwwe.meebo.com)

Meebo adalah gratis aplikasi berbasis web yang memungkinkan pengguna untuk mengakses Instant Messaging (IM) account (s) dalam satu lokasi sentral Sama seperti yang lain aplikasi berbasis web, tidak perlu untuk men-download atau menginstal aplikasi.

2. Pipa (http://pipes.yahoo.com/pipes)

Pipa adalah salah satu layanan gratis yang disediakan oleh Yahoo. Pipa memungkinkan pengguna untuk agregat, memanipulasi, dan remix populer RSS feed jenis dan menciptakan mashup data melalui penggunaan editor visual.

3.  JAlbum (http://jalbum.net)

JAlbum adalah gratis album-pencipta perangkat lunak yang berbasis web menghasilkan album foto. Beberapa fitur-fitur khusus yang ditawarkan oleh JAlbum termasuk foto thumbnail, otomatis mengubah ukuran gambar dan foto slideshow.

4. MapQuest OpenAPI (http://www.mapquest.com/openapi)

MapQuest OpenAPI adalah layanan gratis yang memungkinkan integrasi yang mudah routing, geocoding dan pemetaan ke dalam sebuah website.

5. Del.icio.us (http://del.icio.us)

Del.icio.us adalah sebuah situs bookmark sosial yang memungkinkan pengguna untuk menyimpan dan berbagi bookmark di web.

6. Conduit Connect (http://www.conduit.com)

Saluran adalah sebuah komunitas berbasis web penyedia layanan toolbar. Dan layanan yang mereka tawarkan adalah gratis. Setelah pengguna sign up ke account, mereka dapat memulai pengaturan toolbar customized mereka. Untuk memperkuat loyalitas merek, pengguna memiliki pilihan untuk meng-upload logo perusahaan atau organisasi.

7. Audacity (http://audacity.sourceforge.net)

Audacity adalah bebas dan perangkat lunak sumber terbuka untuk rekaman dan menyunting suara (lihat Gambar 9). Fitur utamanya adalah kemampuan untuk merekam audio, mengedit berbagai jenis file audio, dan untuk memanipulasi audio dengan berbagai jenis efek. Ini adalah alat yang hebat untuk membuat perpustakaan audio tur, perpustakaan merekam peristiwa, atau membuat podcast.

8. SlideShare (http://www.slideshare.net)

Banyak orang mendengar tentang YouTube, sebuah situs web yang menyediakan video online gratis layanan streaming yang memungkinkan pengguna untuk melihat dan berbagi video. Seperti YouTube, SlideShare adalah sebuah situs web untuk berbagi. Namun, target di berbagi dan tampilan slide presentasi (lihat Gambar 10). Format file yang didukung oleh SlideShare termasuk Microsoft PowerPoint, OpenOffice, Keynote dan PDF.

Jadi mulai dari sekarang dan seterusnya tidak ada satupun pustakawan yang gagap teknologi bahkan tidak mengerti dengan networking. Karena Pustakawan adalah circle of information yang utama dalam masyarakat. Jangan sampai public (masyarakat luar sana) image seorang pustakawan orang yang sadis serem, orang buangan dan hanya bisa menata buku dirak-rak yang berdebu. Mari kita pustakawan-pustakawan muda harus ada discovery yakni pustakawan trend of technology. Serta biasakan pustakawan dengan dunia teknologi, writing, story telling about information pada user (pengunjung).

WEB 2.0 = (WEB TWO POINT 0)


Perkembang teknologi dan informasi mengharuskan perpustakaan untuk mengadopsi dan mengalirkan aliran teknologi dalam dunai perpustakaan. Perpustakaan tidak bisa dipisahkan dengan teknologi informasi karena akan banyak memberi kemudahan baik dalam sirkulasi, development, cataloging, public relation of librarians, promotion etc.
Dimana perpustakan di amerika, Australia atau dinegara-negara eropa telah menjadi perpustakaan satu kesatuan dan bagian dari teknologi. Karena perpustakaan dinegara-negara maju tidak lagi (meninggalkan) menggunakan layanan manual melainkan telah menggunakan layanan interaktif atau feedback lebih dikenal dengan web 2.o. Sedangkan kenyataannya di Indonesia masih menerpakan system digitalisasi itupun belum seleruhnya perpustakaan menerapkannya serta system itupun terpusat (sentralisasi) dikota besar (Jawa), sangat jauh sekali berbanding perpustakaan negara maju dengan negar baru perkembang (negara ketiga) dimana hampir setiap perpustakaan telah mengaplikasi web 2.o mulai perpustakaan sekolah hingga perpustakaan perguruan tinggi.
Adapun isu-isu mutakhir informasi perpustakaan yakni tentang masalah web 2.0. Namun ada beberapa edisi atau tingkat (version) web perpustakan yaitu mulai dari web 1.0, web 2.0, web 3.0 dan web 4.0 kesemua web tersebut memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing tetapi yang lebih popular dari keempat web tersebut yakni web 2.0, sebelum kita membahas secara mendalam apa itu web 2.0 (dibaca: web two. Point 0)

AWAL ISTILAH “WEB 2.0”
Diciptakan pada tahun 2004 oleh O’Reilly Media dan digunakan untuk menggambarkan “pengembangan dan jasa alat-alat baru yang sedang mengubah cara orang menggunakan Internet, sehingga lebih mudah untuk berkolaborasi, berkomunikasi dan berbagi informasi “(Secker 3). Web 2.0 juga disebut perangkat lunak sosial. Secker menunjukkan bahwa perangkat lunak sosial adalah “tidak benar-benar perangkat lunak seperti itu, tapi layanan Internet yang pada akhirnya bisa menggantikan perangkat lunak desktop, ini tentang menggunakan Internet sebagai platform untuk menjalankan software dan layanan daripada PC desktop Anda, sehingga sebagian besar perangkat lunak-host dari jarak jauh dan dapat diakses dari mana saja dengan koneksi Internet “(Secker 4). Dipanaskan perdebatan mengenai istilah Web 2.0 muncul dan orang-orang mendefinisikannya dalam berbagai cara.
Istilah “Perpustakaan 2.0” diciptakan pada tahun 2005 oleh Michael Casey, yang melihat Perpustakaan 2,0 sebagai “user-perubahan berpusat” di dalam hatinya (Casey dan Savastinuk). Istilah menyiratkan bahwa kita dapat meningkatkan layanan perpustakaan dengan menggunakan Web 2.0 tools dan jasa. Sama seperti Web 2.0, istilah Perpustakaan 2.0 telah terbukti sebagai kontroversial. 62 terdaftar Crawford pandangan yang berbeda dan tujuh definisi yang berbeda dari istilah “Perpustakaan 2.0” dalam artikelnya dalam CITES dan Pemahaman.
Kemudian ada beberapa defenisi web 2.0 dari berbagai sumber antara lain:
1. ‘Web 2.0 adalah jaringan sebagai platform, menjangkau seluruh perangkat tersambung; Web 2.0 adalah mereka yang membuat sebagian besar keuntungan intrinsik platform: memberikan software sebagai diperbarui terus-pelayanan yang semakin baik semakin banyak orang yang menggunakannya, menyita dan remixing data dari berbagai sumber, termasuk pengguna individu, sementara menyediakan data mereka sendiri dan jasa dalam bentuk yang memungkinkan remixing oleh orang lain, menciptakan efek jaringan melalui sebuah “arsitektur partisipasi”, dan akan melampaui halaman metafora Web 1.0 ke pengguna kaya memberikan pengalaman. “.
2. Web 2.0: mencampur layanan dari berbagai penyedia dan pengguna di dikendalikan pengguna jalan. Seorang pengguna dapat menemukan informasi dalam satu tempat dan mungkin menemukan algoritma untuk menggunakan informasi di negara lain. Cerdas kombinasi keduanya mungkin menawarkan fungsionalitas tambahan pengguna, lebih nyaman atau hanya lebih menyenangkan.
3. menghubungkannya dengan istilah-istilah seperti blog, wiki, podcast, RSS feed, web sosial, dll dan menegaskan bahwa Web 2.0 adalah tempat di mana semua orang dapat menambahkan atau mengedit informasi. Ini adalah web di mana perangkat digital memungkinkan pengguna untuk membuat, mengubah dan mempublikasikan konten dinamis

Manfaat web 2.0 antara lain:
• Meningkatkan berbagi informasi dan layanan
• Menawarkan pengguna konteks memperkaya informasi dalam jangkauan klik mouse
• Menurunkan hambatan pelaksanaan untuk menciptakan fungsi baru dengan menggabungkan layanan yang ada
• Meningkatkan personalisasi, sehingga memudahkan pengguna untuk memilih layanan untuk mengintegrasikan

Karakteristik Web 2.0
1. Karakteristik utama Web 2.0 adalah produksi individu dan user-generated content (UGC). UGC merujuk kepada diri-penerbitan, penerbitan pribadi dan ekspresi diri Karakteristik kedua adalah kapasitas untuk ‘memanfaatkan kekuatan orang banyak. ”
2. Karakteristik selanjutnya adalah bahwa arsitektur dari partisipasi dan berarti bahwa penunjukan layanan dapat meningkatkan dan memfasilitasi partisipasi pengguna.
3. Karakteristik lain adalah efek jaringan, istilah ekonomi yang digunakan untuk menggambarkan peningkatan nilai yang ada layanan pengguna, karena lebih banyak orang mulai menggunakannya
4. Karakteristik akhir adalah keterbukaan. Ini menunjukkan bekerja dengan standar terbuka, dengan menggunakan perangkat lunak open source, dengan menggunakan data bebas, menggunakan kembali data, dan bekerja dalam semangat inovasi terbuka
Hubungan web 2.0 dengan perpustakaan
Pertanyaan yang pasti muncul bagi kita adalah: bagaimana konsep Web 2.0 berhubungan dengan dunia perpustakaan? Notess mengklaim bahwa untuk beberapa istilah Perpustakaan 2,0 berarti penggabungan blog, wiki, instant messaging, RSS, dan jaringan sosial ke dalam layanan perpustakaan Bagi orang lain itu menunjukkan melibatkan pengguna melalui interaktif dan kegiatan bersama seperti menambahkan tag, kontribusi komentar dan rating perpustakaan yang berbeda item. Maness menegaskan bahwa Perpustakaan 2.0 adalah user-berpusat komunitas virtua, dan Farkas mengatakan bahwa 2,0 Perpustakaan meningkatkan layanan kepada pengguna. Abram menggambarkan citra pustakawan yang baru, Pustakawan 2.0. Pustakawan ini memahami kekuatan Web 2.0 kesempatan, dan menyelidiki dan akhirnya mengadopsi alat-alat mereka. Mereka menggunakan katalog yang non-tradisional dan klasifikasi dan mengakui gagasan tentang ‘ekor panjang’ Pustakawan 2,0 menghubungkan pengguna ke ahli ‘diskusi dan latihan kepada masyarakat; mereka mengembangkan jaringan sosial dan mendorong pengguna untuk mengembangkan konten dan metadata. Pustakawan 2,0 memahami ‘kebijaksanaan orang banyak’ dan peran baru dan wikisphere blogosphere. Maness menambahkan bahwa Pustakawan 2,0 bertindak sebagai fasilitator.

Conclusion (kesimpulan)
Jadi, Web 2.0 sangat penting dan menjadi topik sentral di dunia informasi sekarang ini, dan semakin banyak perpustakaan di seluruh indonesia menggunakan aplikasi ini akan mempermudahkan dalam intergrasi informasi antar perpustakaan. Menggunakan blog yang berfungsi sebagai sumber informasi yang sangat karena sebagai sebuah tempat di mana pustakawan dapat mengekspresikan pendapat mereka tentang masalah yang dihadapi. Selain itu, perpustakaan ‘blog dapat memasarkan perpustakaan untuk berbagai pengguna potensial. Selain itu, pustakawan dapat menggunakan wiki atau YouTube untuk tujuan instruksi perpustakaan. pustakawan juga dapat menggunakan wiki sebagai platform untuk rekomendasi buku, katalog dan penandaan, semua diciptakan oleh pengguna perpustakaan.

Sumber:
Maness, JM (2006), 2,0 Perpustakaan Teori: Web 2.0 dan Implikasi untuk Perpustakaan
http://www.webology.ir/2006/v3n2/a25.html
Abram, S. (2006), “Web 2.0, dan pustakawan 2.0: Menyiapkan 2.0.”, Dunia SirsiDynix OneSource, Vol. 2 No. 1 2 No 1 http://www.imakenews.com/sirsi/e_article000505688.cfm (accessed 12 July 2007).

%d bloggers like this: