UNTUK SEBUAH NAMA


Pertama kali kenal wajah yang lembut, cantik, persaja dan ramah itu saat OSPEK (orientasi perekenalan kampus) di kampus selatan yakni FBSS (fakultas bahasa sastra dan seni – Universitas Negeri Padang) tahun 2003. Dimana masa orientasi ke-2 tepat hari jumat kebetulan saat itu anggota ospek di pisah antara cewek dan cowok karena jumatan serta di isi acara kerohanian dari para kaka-kaka yang jilbaber, biasalah saat itu belum kenal istilah panggilan cewek “akhwat” jadi cukup kita – kita panggil kaka saja. Saat kaka-kaka tersebut memasuki aula serba guna FBSS diperkenal satu-satu tapi juga mahasiswa baru jadi tidak begitu ingat dengan nama-nama kaka tersebut setelah diperkenal dilanjutkan dengan acara pembacaan Al-Quran yang dipandu seorang MC yang kocak habis serta ramah minta ampun hehhee…salanjutnya acara game dan nasyider para kaka cewek “akhwat”.

Waktu akhwat telah di depan para Ospek memperkenalkan diri mereka masing-masing dari beberapa akhwat tersebut ada seorang akhwat yang membuat terpesona dan tak hentik menatap. Ada pun alasan seperti itu adalah akhwat tersebut imut, manis, cantik, matanya sayu, ramah dan Smart pastinya. Kalau tidak salah nasyid yang pertama yang mereka lantunkan adalah indahnya ukhuwah saat kaka-kaka tersebut mengeluar ritme yang merdu membuat ingin seperti kaka-kaka (ingin jadi akhwat). Ternyata penampilan kaka-kaka tersebut hanya ada 2 syair sedangkan para pengikut ospek minta tambah (lagi dan lagi). Namun karena waktu yang terbatas dimana sholat zuhur dan azan telah kumandang jadi anggota Ospek harus isomah dengan ketentuan yang telah dilakukan.

Singkat cerita berawal dari melihat akhwat tersebut tampil di depan kita semua membuat berniat ku harus bisa seperti kaka-kaka itu dan bisa kenal dengan kaka yang “imut” tersebut. Ternyata niat ada dihati itu tersampai dimana saat pindah ke wisma dimana di Universitas Negeri Padang setiap Fakultas memiliki beberapa wisma masing-masing baik untuk para akhwat mau ikhwannya. Saat itu tinggal di wisma Amanah I. Adapun cara bisa tinggal di Wisma tersebut atas koordinir dari teman “abang” dan abang juga ingin ku tinggal di wisma maklum takut kalau tinggal di kosan umum terjadi sesuatu yang tak diinginkan biasalah masa transisi dari siswa ke mahasiswa jadi masih labil antara persimpangan serta begitu mudah dipengaruhi dengan arus angin yang mengempus.

Alhamdullah masih ada yang kosong maka memutuskan untuk pindah kewisma dimasa sebelumnya tinggal tempat tetangga. Kemudian malam itu pindah ke wisma serta mengangkatin barang dengan ditemanin abang dan temannya. Sesampai wisma di sambut para akhwat-akhwat sempat kaget karena sebelumnya belum mengenal dengan dunia seperti itu setelah dititipkan ku sama para akhwat-akhwat abang dan temennya langsung tinggal wisma. Karena wisma tidak boleh ada tamu lelaki itu merupakan salah satu aturan baku di wisma tetapi ada juga terkecuali misalnya keluarga.

Beberapa hari di wisma ternyata ku ketemu dan kaget, bukan ini kaka yang kemaren nasyid saat Ospek ternyata ketemu juga kaka tersebut. Selanjutnya malam itu ada acara Suoro (rapat) agendanya adalah pembagian kamar ternyata dapat kamar 01 dimana yang menghuni setiap kamar ada tiga orang dan kebetulan juga penghuni pendatang semua seperti dari pekanbaru, aceh dan jambi (ku). Setalah 6 bulan menghuni kamar 01 begitu banyak tergores dan lukis cerita indah, sedih dan seru antara kami. Kemudian di wisma ada aturan yaitu pertukan kamar (Rolling) tujuannya adalah agar antara akhwat tidak ada genk atau dekat Cuma akhwat itu aja. Setalah di rolling alhamdullah lagi, akhirnya sekamar dengan akhwat tersebut (uni trina Agus), sejak sekamar kita menjadi dekat seperti adek-kaka. Kebetulan akhwat tersebut tidak punya adek dan ku juga tak memiliki seorang kaka yang banyak Cuma abang-abang hehehe….

Sungguh waktu sekamar sama akhwat tersebut banyak hal yang ku pelajari, amati dan termotivasi. Sungguh luar biasa taujih (nasehat) untuk ku sehingga menginspirasi dan revolusi dalam kehidupan walalupun saat itu belum menampakkan perubahan yang signifikan pada ku. Hingga sampai sekarang masih ingat dengan nasehat-nasehat pada ku. Akhwat itu selalu mengingat saat lalai terutama masalah tarbiyah dan ikut kajian baik FKPWI maupun di Mesjid, saat itu sungguh malas banget untuk ikut kajian seperti itu yang mau dan enak Cuma kekampus dan wisma.

Kenapa kagum dengan akhwat tersebut (uni trisna agus) bukan maksud membanggakan uni trisna tapi itulah kenyataannya antara lain (1) Ramah, (2) cantik pasti, (3) pintar IPK setiap semester 3, 5 melulu, (4) walaupun anak bungsu tapi akhwat tersebut tidak mau membebani ibu (orang tuanya), dan sebagainya masih banyak lagi kalau diuraikan satu persatu tak cukup selembar kertas karena semakin baik dan ramahnya akhwat tersebut.

Namun, sempat sedih juga saat ada penerimaan adek baru diwisma perhatian akhwat pada ku agak berkurang mungkin Cuma perasaan ku saja kali ya. Saat itu ada kerenggangan antara ku dan dia, ditambah lagi kita semua pindah wisma, dimana wisma disana sudah habis kontraknya serta wisma yang baru ini bagus dan lumayan murah jika dibandingkan dengan rumah seperti itu (elegan dan bersih serta strategis). Ternyata di wisma yang baru kita tidak sekamar lagi kemudian antara kamar ku dan akhwat tersebut jarak lumayan jauh dari susah juga ketemu paling ketemu saat akhwa-akhwat makan pagi, malam, sholat berjamaah dan ada kegiataan dakwah di wisma.  Maka hubungan kita yang terjalin makin hari-hari makin larut dan pudar, walaupun sering berbincang tapi tidak seperti awal pertama selalu share (berbagi) baik masalah pribadi, keluarga dan masalah kampus. Ku juga tidak bisa menyalahkan akhwat tersebut karena memang amanah yang di emban akhwat tersebut luar biasa mulai masalah organisasi, wisma dan kuliah. Tetapi tak merasa kehilangan juga karena yang sekamar di wisma baru Masyallah kita kompak banget sepaham dan orang-orangnya riang-riang. Serta banyak juga cerita lugu dan indah tertoreh di hati kita masing-masing hingga sampai wisuda tetap asik.

Sampai waktu wisuda ada hal yang membuat ku sedih karena harus meninggal wisma Amanah penuh kenangan mulai dari alphabet, ijayaah hingga random semua terukir dan semayam begitu suci di hati kita masing-masing. Tidak pernah berpikir sehingga ending dari kebersamaan kita selama 3 tahun lebih di wisma membuat gamang dan menangis untuk meninggal wisma. Saat detik keberangkatan pulang kerumah (jambi) begitu terasa indah senyumnya akhwat-akhwat, genggam tanggan yang erat seakan-akan melambang tidak ingin berpisah, lambaian tangan yang mengatakan jangan lupa untuk hadir lagi di wisma cinta itu dan bingkisan yang luar biasa yaitu surat perjuangan yang sampai sekarang masih tersimpan begitu rapi di lemari buku ku. Dimana saat membuka lemari buku selalu menyempatkan membaca surat perjuangan dari akhwat agar selalu ingat dengan Rabbi, tarbiyah dan memperbaiki diri dimana dan kapanpun.

Maka menulis dan melukis kata-kata ini untuk mempersembahkan rasa sayang, cinta dan rindu ku buat akhwat-akhwat sampai saat ini masih berbungga, tertanam begitu kokoh, rindu yang selalu menghantui kapan bisa seperti dulu lagi yang penuh dengan persaudaraan dan keikhlasan setiap ada kegiataan dan permasalahan.

Terkhusus untuk akhwat (uni trisna agus) terimakasih uni bukunya begitu bermanfaat, masih ingat tidak uni kasih bingkasan saat kita berpisah. Buku bagus sekali bemanfaat untuk ku apalagi goresan tangan uni dibuku itu membuat ingin selalu bertemu dan bercerita tentang klasik kehidupan. Kemudian surat perjuangan uni membuat ku menetes air mata karena mengingat kebaikan uni pada ku yang luar biasa dan sinergi terutama masalah tarbiyah sebab tidak pernah bosan-bosan untuk mengingat ku untuk menjalankan. Uni andaikan kita bisa disuakan disuatu tempat pasti akan tersenyum pada ku ternyata dan akhirnya ku bisa juga seperti uni mau kan “menjadi seorang akhwat”. Uni terima kasih atas doanya sehingga bisa juga mendekati sikap dan kepribadian mu walaupun jauh Perfect (sempurna) sepeti uni tapi ku akan terus semangat dan berjuang tak akan kenal kalah serta menyerah demi menjadi seorang wanita sholeha.

Uni (uni trisna) ku rindu dengan senyum mu yang ikhlas ibarat mentari pagi di ufuk barat yang begitu ikhlas mencahayai bumi, tutur kata mu (uni trisna) yang membangkit semangat seperti syair-syair para kedamaian, perhatian mu (uni trisna) yang siap mengrangkul saat kala letih, capek dan sedih seakan-akan burung yang siap melebarkan sayapnya untuk membawa anaknya terbang jauh untuk mengenal bumi dan ciptaanNya.

Uni andaikan boleh minta dan berharap pada sang Ilahi semoga kita diketemukan “rasa rindu luar biasa” pada mu uni, ingin melihat uni apa masih seperti dulu yang ku kenal  Tapi ku yakin uni tetap seperti dulu bahkan lebih baik dari ku bayangkan. Ya Rabbi pertemukan di suatu tempat yang tak pernah terpikirkan karena begitu banyak hal yang ku cerita dan ungkapkan secara satu persatu. Semoga dengan pertemuan nanti uni kita tidak berubah (ada jarak) dan rasa sukaam. Yang ingin ku dengar cerita dari uni yakni “apakah uni telah dikhitbah orang atau jangan-jangan hmmmmm”….semoga apa yang terpikir dilogika ku telah terjadi dan realisasi ya uni….

Terakhir terimakasih uni atas taujih, perhatian, dan cinta ukhuwahnya tak akan pernah terlupakan bahkan terbawa oleh angin kemana-mana mengikut pusaran awan karena taujih itu telah ku bungkus dengan cinta dan keimanan yang begitu suci di sanubari.

Untuk sebuah nama yang tak mampu ku hapus di dalam qolbu ku…

Uni Trisna Agus….love…and love.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: