PERSIAPAN PEREMPUAN UNTUK MENIKAH

“perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan bakal ditanya tentang kepemimpinannya serta harta suaminya” (HR. Bukhari Muslim)
Persiapan bagi seorang perempuan untuk menikah akan membawa faedah yang tidak terhitung banyaknya, apakah ia menikah pada akhirnya atau tidak, persiapan untuk pernikahan dapat membantu menemukan kebahagiaan dalam kehidupan. Oleh sebab itu cobalah kita menyiapkan diri untuk pernikahan jasmaniah, namun dengan hati yang tetap tertuju kepada kehadirat allah swt. Tujuan akhir dari perkawinan setiap orang islam adalah ibada kepada-Nya, yang tidak hanya mendapatkan kebahagian di dunia, tetapi yang kekal nantinya di akhirat.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan bila kita ingin mempersiapkan diri dalam pernikahan, tentuu saja hal-hal itdak bersipat paripurna. Pertama sekali, pahimilah dengna benar tentang pandangan agama mengenai peran utama perempuan yaitu sebagi isteri dan ibu. Peran utama perempuan sebagai istri dan ibu menutut ketergantungan kepada rumah untuk menjaga anak dan menjadi inspirator bagi suami untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Berdasarkan kenyataan ini secara alamiah seorang perempuan memang diciptakan untuk menemukan inspriasi dan kebahagiannya di dalam pekerjaan yang sifatnya memberi bantuan, menolong. Cirri-ciri seorang inspirator dalam kehidupan rumah tangga ialah: rajin, cerdik, kuat, telaten, cekatan dan patuh. Di samping cirri-ciri umum seperti bijaksana, baik hati. Beriman, setia, berakal sehat, dapat dipercaya, pengasih, berani dan murah hati.
Dengan demikian berikut ini beberapa saran yang dapat dijadikan sebagai usaha persiapan kita dalam suatu pernikahan yang bahagia:
1. Bersiaplah menjadi seorang pendamping.
Jika seorang perempuan ingin menjadi seorang ibu rumah tangga yang berhasil, ia harus menyadari terlebih dahulu, bahwa allah menciptakan perempuan mempunyai maksud tertentu yang sudah pasti. Ia menjadikan berbeda dengan laki-laki, karena ia mempunyai fungsi yang berbeda pula. Ia menjadikan perempuan sebagai pendamping (penolong) yang sepadan dengan laki-laki. “hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong allah, sebagaimana isa putra maryam telah berkata kepada pengikutnya yang setia…(QS.Ash Shaff 61:14) setelah itu, baru mulai memikirkan cara mencapai hal tersebut, tentunya tidak dimulai dengan mencari seorang teman hidup, tetapi dimulai dengan diri sendiri. Namun pada umumnya cara utama dan terutama seoran istri untuk menolong suaminya adalah dengan menyediakan rumah tangga yang menyenangkan baginya. Hal ini merupakan hal yang mutlak bagi setiap istri, baik ia bekerja atau tidak, tanpa memandang jensi profesi suaminya. Rasullah bersabda “tiga hal sebagai tanda kebahagiaan: pertama memiliki rumah yang lapang, kedua kendaraan yang menyenangkan dan ketiga istri yang shalehah.
2. Pererat hubungan dengan allah SWT
Setiap orang bebas memilih pola tersendiri untuk mengadakan kontak dengan allah dalam rangka mendekatkan diri selama hal itu masih termasuk hal yang dianjurkan dalam Al-quan dan al Hadist. Namun demikian yang paling tidak ada beberapa cara khusus yang dapat dilakukan bagi seorang perempuan yang benar-benar ingin menyiapkan diri menerima jodoh yang akan diberika Allah SWT kepadanya. Hal itu ialah:
a. Ingatlah bahwa diperlukan cukup banyak waktu untuk membina suatu hubungan yang harmonis diantara dua jenis berbeda. Seorang perempuan tidak akan dapat memberikan lebih banyak pada suaminya dari pada apa yang ada padanya sendiri. Kecantikan dan potensi lain yang sepenuhnya dari seorang perempuan tidak akan pernah terwujud apabila ia kurang atau sama sekali tidak mengembangkan kerohaniannya, dalam arti mendisplinkan diri untuk memanfaatkan segala yang dimilikinya itu.
b. Mulailah segala tindakan dan gerakkan kita dengan pengucapan Bismillah dan sudahi dengan syukur Al Hamdulillah. Hal ini akan membantu untuk memusatkan pikiran dan tidak menyimpang didasarkan pada upaya dan proses, harus dimiliki sebelum mencapai suatu hasil. Bukan hanya mengharapkan hasil saja, kesuksesan atau hasil sebenarnya merupakan dampak dari prinsip memberi dan didasari sifat kasih sayang yang tulus.
c. Jangan membatasi diri kita dengan Allah hanya untuk saat-saat kritis atau senang saja hubungan kita dengan allah SWT harus berjalan terus menerus, saluran komunikasi dengan-Nya senantiasa terbuka “takutlah kepada Allah dimana saja kamu berada”
d. Sering-seringlah memeriksa diri, guna memastikan bahwa Allah SWT masih tetap mendapat tempat utama dalam diri kita. Jika dahulu kita lebih dekat dengan Allah dari kita. Jika dahulu kita lebih dekat dengan Allah dari pada sekarang ini, berarti kita sudah merug malah termasuk mangkrut. Periksa diri kita sebelum hal ini terjadi, karena untuk dapat kembali ke jalan yang semula memakan waktu yang lama dan melalui perjalanan yang berat, sehingga jarang ada yang berhasil untuk kembali. Jangan sampai kehilangan yang sudah kita miliki.

3. Kembangkan komitmen dan loyalitas kita
Kita tidak dapat mulai mempraktekkan komitmen dan loyalitas pada hari pernikahan jika belum pernah memberikan diri seseorang atau suatu cita-cita tertentu.
4. Pupuklah respek terhadap diri
Banyak perempuan menikah dengan laki-laki yang tidak tepat dan akhirnya gagal dalam perkawinan mereka, karena kurang menghargai diri. Apabila kita, memiliki respek yang cukup tinggi terhadap diri sendiri, maka akan lebih udah bagi kita untuk memberikan dorongan semangat dan meningkatkan keberadaan suami. Dengan demikian kita dapat membantu dia untuk mewujudkan potensi dirinya.
5. Bersedialah selalu untuk belajar hal-hal yang baru
Sebagian besar tanggung jawab perempuan nantinya setelah menjadi isteri iala mengurus anak-anak. Oleh sebab itu belajarlah sebanyak mungkin, raihlah pengetahuan dan keterampilan mengenai perkembangan bayi dan anak. Bahkan mengenai psikologi remaja. Usahakan menghindari kegiataan-kegiataan yang bersifat pasif, perbuataan sia-sia yang membuat pikiran dungu dan kehilangan satu haru ataupun satu jam saja dari kehdiupan kita itu, maka kehilangan itu dapt ditukar atau dipungut kembali. “waktu adala pedang jika kita dapat memotongnya maka kamulah yang dipotongnya. Pakailah waktu dengan bijaksana, sementara tanggung jawab kita makin bertambah, waktu senggang puna akn semakin berkurang.
6. Bersedialah selalu untuk melayani
Tidak ada cara lain yang lebih baik bagi seorang perempuan untuk mengekspresikan kasih sayang pada suaminya selain melayani. Pelayanan yang diberikan jangan dibatasi pada hal-hal yang sifatnya sudah umum, cobalah mencari cara-cara lain, supaya sekaligus meningkatkan kemampuan. Sebenarnya seni melayani itu tidak lain adalah kepandaian berbudi bahasa, yaitu memikirkan kepentingan orang lain. Salah utama pelayanan isteri yang utama ialah menjaga agar suami tidak diganggu oleh urusan-urusan yang tidak perlu, dan melindunginya dari orang-orang yang tidak tahu diri dan ingin banyak menyita waktunya.
7. Bersedialah untuk menyesuaikan diri dengan acara suami
Fleksibilitas atau kemampuan untuk menyesuaikan diri tidak hanya diperlukan pada waktu terjadi perubahan-perubahan besar, tetapi juga dalam perkara-kara kecil dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menyenangkan suami, seorang istri akan mendapatkan lebih banyak berkat dari pada dengan menyenangkan diri sendiri.
8. Belajarlah untuk merawat tubuh kita dengan baik
Kebanyakan perempuan setalh menikah kurang memperdulikan tubuh mereka, kecuali mengalami problem kesehatan yang gawat. Kita memerlukan tubuh yang sehat dan kuat untuk dapat melakukan sepenuhnya rencana Allah.
9. Ambillah pelajaran melalui pengalaman dari para istri dalam rumah tangga yang bahagia
Cobalah melihat para perempuan di sekililing kita yang sudah meniha yang dikenal. Mintalah nasehat-nasehat mereka. Ingatlah bahwa pada suatu waktu kelak kita akan dijadikan panutan oleh orang lain, apabila kita benar-benar berusaha menyiapkan diri dan tetapi meningkatkan kualitas kehidupan kita meskipun sudah menikah.
10. Tetapkan tujuan dan tentukan prioritas
Sesudah menetapkan tujuan kita dapat menentukan prioritas yang akan membawa kita ketujuan tersebut, jangan mencoba melakukan semuanya sekaligus. Suatu hal yang mungkin dapat menolong kita adalah dnegna membuat suatu catatan mengenai pemakaian waktu. Mulailah mengatur pemakaian wkatu sesuai dengan skala/tingkat prioritas setiap kegiataan yang kita akan lakukan dan taruhlah tujuan yang baru diposisinya yang tepat, dengan merubah skala prioritas kehidupan kita pun akan mulai berubah.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: