DI BAWAH PEPOHONAN KOE MALAYANG-LAYANG

Di bawah pohon nan rindang koe ditemanin setumpuk kursi begitu khas karena kursi terbentuk dari batu alam yang begitu unik yang membuat koe semakin PW (posisi waah enak) berteduh di lindungi dedaun-daunan yang dicahayain ultraviolet sangasurya serta memberi kehangatan yang begitu mendalam. Disana pula bisa memadang begitu liar lalu lalang aktivitas dan kegiataan para mahasiswa seperti asyik bercakrama, tertawa (hi..ha…hi..huuu), sambil otak atik leptop (keyboar and chting). Sehingga membuat koe berpikir sejenPICT0466ak tentang segerompolan orang tersebut, sedang membahas apa, berdebat isu apa atau apakah mereka-mereka lagi memicah formulasi masalah atau Cuma kumpul iseng-iseng. Tapi tak terpana dengan pikiran koe sendiri, langsung membuka tas favorit koe sehingga bola mata tertuju dengan sebuah novel dimana setelah beberapa hari membaca belum juga selesai-selesai. Karena lagi “M” (mood or malaz), kemudian mengeluar novel “Galaksi Kinanthi” tersebut dari tas secara pelan-pelan alias penuh cinta heheee…..

Tetapi koe tak langsung membaca dan membuka novel tersebut, malah koe menyadarkan diri dipohon nan rindang sambil bernapas secara berlahan-lahan dan berbicara dalam qolbu koe paling dasar “sungguh begitu indah dan klasik kehidupan jika selalu bersyukur, tersenyum keikhlasan meniti pelanggi masa depan yang penuh optimis”. koe Terhenti berbicara dengan jiwa, karena terhinjak dan tersintak dengan pemuda yang lewat di depan koe sambil melirik begitu luar biasa (syadis) serta membuat koe bertanya-tanya ada apa dengan koe sehingga pemuda tersebut melihat koe tak sewajarnya, tapi tak ambil pusing dan prasangka negative atas pandangan itu. Mungkin pemuda itu bukan menatap koe namun menatap indahnya kursi yang duduki dan cantiknya daun nan hijau yang berkipas diatas kerundung koe.
Setelah pemuda jauh dari pandangan bola mata ini, mulai membuka novel berlembar, tapi tak membuat merasa khusyuk dan menghayati bacaan kalimat demi kalimat bahkan Bab satu ke Bab yang lainnya. Serta suara berisik disana sini juga membuat tak merasa kenikmatan tulisan nan indah itu, kebetulan tempat koe menikmati indahnya cahaya mentari dalam tahap renovasi fasilatas, sehingga suara gaduh tak…tik…tuk semakin jelas dan bergema di area yang luas tersebut.
Walalupun merasa tak menghayati peran dalam novel tersebut, koe terus untuk membaca setiap pragraf sampai koe merasa tersentuh perasaan nan suci ini dan meneumui kalimat mampu mengugah pikiran yang penuh cinta. Tapi ada suatu kebiasaan setiap baca novel, buku, artikel maupun media lain selalu mencatat kalimat yang begitu agung bagi koe dan mencatat dalam memory (Brain) ciptaan rabbi, karena koe tahu suatu saat akan dipergunakan untuk memberi semangat hidup maupun tausiah untuk orang-orang koe cintai.
Tak terasa sudah berjam-jam bersemayam di pohon dan koe melihat jam tangan berwarna silver menunjuk sholat zuhur telah hampir waktunya dan terik matahari semakin menjengat kulit ari-ari serta azan akan berkumadang dimesjid kampus. Kemudian koe menutup novel “galaksi kinanthi” yang diatas pangukuan tangan koe serta memberi pembatas halaman terakhir koe baca, agar nanti atau kapan untuk melanjutkan bacaan tak susah membuka halaman perhalaman novel tersebut.
Setelah menutup rapi sambil mengingat bacaan terakhir nan begitu romatis seperti “jika kau merindukan koe tatap galaksi karena cinta koe ada disana” sehingga membuat koe tersenyum sendiri dengan kalimat itu serta menggadahkan kepala kepohon yang menjulang kelangit serta menyatakan ungkapan terima kasih Rabbi engkau tumbuhkan pohon ini sehingga koe bisa merasakan kesejukkan dari helaian daun serta memberi sirkulasi oksigen begitu bersih dalam bernapasan koe.
Karena azan telah berkumandang dengan suara bergelombang serta diiringi tajwid-tajwid yang sesuai makro’ huruf ija’iah. Koe beranjak dari tempat duduk menuju suara untuk menunai kewajiban serta menemui kekasih (Rabbi).

Terakhir ucapin dengan penuh keikhlasan pada rabbi yakni syukron Rabbi hari ini engkau telah memberi koe merasakan betapa sejuknya duduk di pohon sehingga membuat koe berlayang-layang tentang kehendak dan ciptaan Mu. Andaikan kau tak pernah menciptakan pohon-pohon di muka bumi ini, sungguh dunia akan gersang tak ada kenyamanan, tak ada daun yang berjatuhan yang bertumpuk di lahan nan luas. Rabbi semua ciptaan Mu adalah anugrah dan karunia bagi hamba Mu yang mau berpikir dan mensyukuri.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: