Pelestarian (Preservation) Bahan Pustaka di Perpustakaan

Perpustakaan merupakan lembaga yang melayani kepentingan umum dan sebagai salah satu pusat informasi, bertugas mengumpulkan, mengolah, menyajikan bahan pustaka untuk dapat dimanfaatkan oleh pengguna secara efektif dan efisien. Agar bahan pustaka yang dimiliki perpustakaan dapat digunakan dalam jangka waktu yang relaif lama, perlu suatu penanganan agar bahan pustaka terhindar dari kerusakan, atau setidaknya diperlambat proses kerusakannya, dan mempertahankan kandungan informasi itu yang sering kita sebut sebagai preservasi bahan pustaka.
Menyimpan dan memelihara bahan pustaka harus di lakukan dalam kondisi yang baik, yang merupakan syarat terpenting untuk mencegah kerusakannya. Menurut Dureau dan Clement, dalam buku Dasar-dasar Pelestarian dan Pengawetan Bahan Pustaka, menyebutkan bahwa pelestarian (preservation) mencakup unsur-unsur pengelolaan dan keuangan, termasuk cara penyimpanan dan alat-alat bantunya, taraf tenaga kerja yang iperlukan, kebijaksanaan, teknik dan metode yang diterapkan untuk melestarikan bahan-bahan pustaka serta informasi yang dikandungnya. Dengan demikian tujuan pelestarian bahan pustaka adalah melestarikan kandungan informasi yang direkam dalam bentuk fisiknya, atau dialihkan pada media lain, agar dapat dimanfaatkan oleh pengguna perpustakaan. sebagian besar bahan pustaka koleksi perpustakaan merupakan bahan tercetak yang umumnya terbuat dari kertas. Bahan dari kertas ini dapat mengalami kerusakan, baik karena faktor eksternal maupun internal. Faktor eksternal yang dapat merusak bahan pustaka antara lain jamur, serangga, binatang pengerat, zat kimia bahkan manusia dan lain-lain. Sedangkan faktor internal yang marusak bahan pustaka adalah zat asam yang terkandung dalam kertas, dengan adanya zat asam ini kertas dapat rusak dari dalam, yaitu akibat sisa-sisa zat kimia pada saat pembuatan kertas. Oleh karena itu agar bahan pustaka dapat bertahan lama sehingga informasi yang berada di dalamnya dapat diakses oleh pemakai secara optimal diperlukan usaha pelestarian.
Koleksi perpustakaan merupakan bahan tercetak yang umumnya terbuat dari kertas. Bahan dari kertas ini dapat mengalami kerusakan, baik karena faktor eksternal maupun internal. Oleh karena itu agar bahan pustaka dapat bertahan lama sehingga informasi yang berada di dalamnya dapat diakses oleh pemakai secara optimal diperlukan usaha pelestarian yaitu sebagai berikut:
 Faktor penyebab kerusakan bahan pustaka
Untuk dapat memberikan perlakuan terhadap bahan pustaka yang tepat, agar terhindar dari kerusakan, perlu memahami faktor-faktor penyebab kerusakan tersebut. Adapun faktor penyebab tersebut, sebagai berikut:
A. Faktor internal
Faktor internal yaitu kerusakan bahan pustaka yang disebabkan oleh faktor buku itu sendiri, yaitu bahan kertas, tinta cetak, perekat dan lain-lain. Kertas tersusun dari senyawa-senyawa kimia, lambat laun akan terurai. Penguraian tersebut dapat disebabkan oleh tinggi rendahnya suhu dan kuat lemahnya cahaya. Kandungan asam pada kertas akan mempercepat kerapuhannya.
B. Faktor eksternal
Faktor eksternal yaitu kerusakan bahan pustaka yang disebabkan oleh faktor luar dari buku, yang dapat dibagi faktor manusia dan faktor bukan manusia. Faktor manusia, yaitu kerusakan bahan pustaka yang disebabkan pemanfaatan dan perlakuan terhadap bahan pustaka yang kurang tepat. Manusia, meliputi pustakawan sebagai orang yang memberikan layanan, dan pengguna yang terdiri dari mahasiswa, dosen, karyawan dan pihak luar. Larangan membawa makanan, minuman ke dalam ruang perpustakaan bukan merupakan hal yang tanpa alasan, sebab ceceran sisa makanan atau kandungan inyak, jika menempel pada buku akan mengundang serangga atau tikus. Pengguna perpustakaan kadang melipat halaman bagian yang dianggap penting, akan menyebabkan cepat rusaknya buku tersebut. Faktor bukan manusia, antara lain:
1. Suhu dan kelembaban udara
Suhu dan kelembabab udara ini sangat erat hubungannya, karena jika kelembaban udara berubah, maka suhu juga akan berubah. Di musim penghujan suhu udara rendah, kelembaban tinggi, memungkinkan tumbuhnya jamur pada kertas, atau kertas menjadi bergelombang karena naik turunnya suhu udara.
2. Serangga dan binatang pengerat
Beberapa jenis serangga yang dapat merusak bahan pustaka, seperti kecoa, rayap, kutu buku dan lain-lain. Tikus merupakan binatang pengerat yang suka merusak buku, terutama buku-buku yang tertumpuk, apalagi di tempat gelap
3. Kuat lemahnya cahaya
Sumber cahaya yang digunakan untuk penerangan ruang perpustakaan ada dua, yaitu cahaya matahari dan cahaya lampu listrik. Kita tahu bahwa cahaya matahari maupun cahaya lampu listrik mengandung sinar ultra violet. Ultra violetinilah yang dapat menyebabkan rusaknya kertas/buku. Perhatikanlah kertas yang langsung kena sinar matahari, warnanya akan cepat berubah dan semakin suram.

4. Perabot dan peralatan
Perabot yang berhubungan langsung dengan buku/bahan pustaka adalah rak.Jumlah rak jika kurang sesuai dengan kebutuhan akan mengakibatkan buku bertumpuk pada rak tersebut. Ukuran rak yang tidak sesuai dengan ukuran buku, dan penempatan yang terlalu rapat, dapat menyebabkan bahan cepat rusak. Peralatan yang digunakan untuk memindahkan buku dari ruang ke ruang lain atau dari lantai bawah ke lantai atas pada gedung perpu Ada dua model dalam usaha pelestarian, yaitu pelestarian bentuk fisik dokumen dan pelestarian nilai informasinya. Model pertama terlaksana dengan pengurangan tingkat keasaman kertas, laminasi, enkapsulasi, penjilidan, restorasi dan dokumen lain-lain. Sedang model kedua dengan cara mengalihkan bentuk atau medianya. Informasinya tidak hilang walaupun media atau bentuk pembawa informasinya diubah dari kertas ke bentuk lain yang dianggap lebih efektif dan efisien, seperti bentuk mikro (microform), video disk (CD), pita magnetik dan lain-lain.
Pelestarian dari segi pelestarian informasinya (model kedua) yang penulis fokuskan pada pembahasan alih media informasi ke dalam bentuk digital seperti CD. Ruang lingkup pembahasannya mencakup pengertian alih media informasi, mengapa dilakukan, bagaimana melakukannya dan kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaanya. Perawatan dapat ditempuh dengan cara fumigasi atau pengasapan (Purawijaya, 1983), terutama untuk mengatasi kerusakan akibat faktor biologi seperti kecoa, silver fish, kutu buku (booklice), rayap, larva kumbang bubuk (bookworm), dan jamur. Kegiatan pelestarian sebelumnya hanya berupa perbaikan koleksi perpustakaan yang rusak, seperti penjilidan dan penjahitan kembali. Sejalan dengan perkembangan teknologi mikrofilm, maka mulai tahun 1970 teknologi ini dimanfaatkan untuk pelestarian koleksi perpustakaam, selain laminasi dokumen per lembar serta penjilidan dan penjahitan.
Jadi dapat di simpulkan bahwa Pelestarian koleksi perpustakaan merupakan kegiatan penting dalam lingkungan perpustakaan untuk melindungi fisik dan kandungan isi informasi. Banyak faktor penyebab kerusakan koleksi perpustakaan seperti faktor lingkungan, manusia, dan penurunan kualitas itu sendiri Untuk upaya pelestarian.

Daftar Pustaka
DUREAU, J.M. dan Clement, D.W.G. 1990. Dasar-Dasar Pelestarian Dan Pengawetan Bahan Pustaka. Jakarta: Perpustakaan Nasional
H. Syamsuddin. 2007. Alih Media Informasi. Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (Bapustarda) Provinsi Kalimantan Selatan

Purawijaya, I. S. 1983. Pemeliharaan Dan Perbaikan Dokumen. Majalah Ikatan Pustakawan Indonesia 4 (4) : 178-186.

Surialaga, Tjettjep S. dkk. 2002. Pelestarian Koleksi Perpustakaan : Studi Kasus Di Pusat Perpustakaan Dan Penyebaran Teknologi Pertanian.. Jurnal Perpustakaan Pertanian Vol. 11, Nomor 2

Sumber Lain

http://www.jplh.or.id/elnv4 – JPLH | Jaringan Perpustakaan Lingkungan Hidup

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: