Manusia Bodoh

270309

Tak ada angin, hujan, rembulan dan matahari saat itu semua berada posisi ceria, gembira dan senyum ketika itu menatap galeri-galeri yang begitu ayu dan mungil begitu setia menemani dikala hati sibuk, sepi, dan merindu. Tiba-tiba deringan handphone berbunyi dengan nada begitu khas ditelinga dan logika. Tak sabar untuk membaca kata-kata yang terkirim dari sinyal-sinyal penembus tembok, ruangan dan cela-cela kaca.

Saat membaca perkata, perkalimat dan baris hati tersentak dan terencah dengan kata tersebut. Selama ini tak pernah berpikir bahwa ini akan terjadi pada ”dia”. Deraian air mata mulai menetes seperti keringat yang keluar pada seseorang yang menempuh perjalanan yang berkilo-kilo bahkan bermil-mil untuk melepaskan rindu. Walaupun kata-kata yang terlontar dari mulut selalu bertasbih mengatakan ”kon’nah, ikhlas, tafadhol dan sebagainya”. Namun itu hanya ”lipstik” saja. Tetapi dalam qolbu cukuplah rabb zat yang maha tahu dengan rasa yang tertanam dan berakar serta bersarang.

Wahai yang mahamengendali ar’sy nan begitu agung…
Malam ini ”dia” tak mampu meminjamkan mata, berbaringpun begitu gelisah oleh kata ”itu”. Siapakah yang harus disalahkan dengan ini semua? Seakan-akan malam tak mampu menemui siang karena semakin bergelimangnya vartikel-vartikel perasaan yang melanda anatomi tubuh semua kaku dan beku dengan kata tersebut.

Wahai yang mahamenyatukan…
Tubuh”dia” tak mampu digerakkan ibarat mayat hanya diam serta kaku walaupun merasa kesakitan tetapi tetap menatap kegelapan malam. Coba sabar dan ikhlas dengan ini semua tapi perasaan mengatakan lain. Malam semakin terasa dengan kegelapan, keheningan dan terasa suci. Coba bernapas dengan pelan-pelan dan menghempus agar rasa perih mampu ditahankan, namun tetap tak sanggup dengan itu semua? Dan semakin dibaca terbata-bata tulang-tulang rapuh, keropos, lemah dan tak sanggup tuk berdiri? Kini ”dia” sadar bahwa semua sudah takdir ”sangmaha menyantun” tak bisa disalahkan dengan semua episode karena hal ini telah terjadi.

Rabbii…dengan penghampaan dan bersaraya, tolong engkau sentuh hati dan pikiran ini dengan kasih sayang-Mu dengan rahman dan rahim agar setiap bayangan dan langkah kaki berjalan menuju hidayah mu tak lagi terulang untuk kesekian kalinya, terkadang pernah berpikir apakah ini sudah suratan tangan atau permainan serta alu-alur harus dilewati satu persatu agar lebih bijak dan mencintai yang bergerak dan bergoyang.

Wahai yang maha suci…
”dia” malu dengan rumput-rumput yang bergerak karena selama ini begitu lugu, polos dan lucu ”storytelling” tentang sosok makhluk-Mu. Kemana harus membawa tubuh kaku dan tak perdaya? Haruskah bersembunyi dibalik bumi dan menggunakan topeng kecerian didepan mereka-mereka? Atau biarlah waktu yang akan menjawab problem-problem itu?

Terakhir rabbi…
”dia” yakin kesemua yang terjadi begitu jutaan hikmah mampu dipetik ibarat membetik ”straberry” dikebun antara manis, asam, besar dan kecil. Kini ”dia” yakinkan diri bahwa lusa masih banyak harus dihadapin lebih seperti ini!!! ”dia” juga yakin janji rabbi itu pasti pada hamba-hamba baik yang melakukan haq dan bathin. Biarlah ini menjadi bumbu dan resep maniz perjuangan dalam mengapai keridhoan dan inayah meniti jalan-jalan setapak penuh dengan tarpal-tarpal pasir.

Testiani_makmur@yahoo.co.id
Belajar sesuatu dengan cinta, ikhlas dan sabar

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: