ketika perasaan itu hadir “buruan nikah atau bunuh saja perasaan”


Keindahan malam dan sayup-sayup lantunan surah Ar-Ruum memberi motivasi untuk mengurai, melukis, merangkai, menyatu kata menjadi kalimat tentang perasaan itu hadir. Kita pasti pernah merasakan cinta atau pesona dengan makhluk Allah, terkadang perasaan itu hadir membuat kita bingung, pusing, galau, gelisah, dan bertanya pada diri sendiri.

“Antara nikah atau bunuh perasaan”

Nah ketika perasaan itu hadir apa tindak lanjutnya? Bagaimana sikap kita? Seperti apa respon kita? apakah kita harus membunuh perasaan tersebut? Apakah perasaan tersebut membuat kita tak semangat? Apakah perasaan tersebut menjadi pribadi galau atau gelisah? seperti bahasa D’Masiv “Cinta ini membunuhku”J

Sedangkan cinta adalah fitra yang berlaku atas makhlukNya dan cinta pesan agung Allah pada manusia. DitulisNya ketika mencipta makhluk-makhlukNya di atas Arsy . Seperti pemilik cinta jelas dalam surah Ar-Ruum: 21

“……….dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”.

Senada dengan ungkap Pak Romisastriowahono dalam blog pribadinya hendaknya ketika perasaan itu hadir ubah definisi dan paradigma perasaan tersebut serta bangkitlah, lanjutkan perdjoeangan

Selanjutnya ungkapan familier pak Romisastrio wahono dalam buku beliau (dapat apa sich dari Universitas)Janganlah kalian mengejar cinta. Jadilah legenda yang penuh dengan prestasi dan manfaat untuk orang lain, maka cinta akan silih berganti mengejar kalian. Dan ketika masa itu datang, pilihlah takdir cintamu, kelola cintamu, atur kadarnya, arahkan posisinya, dan kontrol kekuatan cinta sesuai dengan tempatnya”

 

Jadi perasaan itu tidak perlu kita matikan, tidak perlu kita bunuhkan, tidak perlu kita musnahkan, tidak perlu kita kejar-kejarkan, buru, dan cinta itu perlu kita kelola dalam wadah yang baik dan kesucian nilai.

Namun tidaklah mudah untuk menjaganya dan mengelola perasaan itu seperti membalik telapak tangan apalagi mengelola perasaan pada masa sekarang karena begitu ribuan godaan, rayuan, dan bisikan syetan maupun nafsu untuk menangkapi, merespon atau meletak perasaan di tempat nan salah sehingga salah mengekspresikan perasaan kita.

InsyaAllah banyak cara menuju roma hanya dibutuhkan azzam, tekat, niat, keinginan, dan kesebaran untuk menjaga hati menjadi hati yang perawan. Mari kita alih perasaan kita dan mengelola perasaan dengan berbanyak zikir, mengaji, bermanfaat untuk orang lain dan menyibukkan menjadi pribadi berilmu.

Ketika telah berazzam dan bersungguh-sungguh menjaga perasaan tersebut hanya mencintai Allah maka akan berlaku pula pertolongan Allah untuk memudahkan setiap urusan kita dalam menjaga dan menemu perasaan yang halal.

Jadikan itu sebagai pondasi memotivasi kita untuk senantiasa mengelola cinta menuju arah yang lebih baik dan tauti selalu hati kita dengan Allah Azza wajal’la

 

Mari kita lantunkan doa pernah dilafazkan Sayyid Qutb dalam denyut perasaannya Ya Allah Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa pada taat pada Mu….maka kokohkanlah. Ya Allah ikatkanlah,kekalkanlah cintanya

Semoga kita termasuk hamba Ilah yang mampu menjaga, mengelola, dan menata perasaan hingga waktu Allah pertemukan kita dengan hamba Allah yang pantas untuk kita miliki perasaannya dan mari kita komitmen bangun perasaan kita hingga perasaan kekal hingga surga.

BestRegard Inspirasi BeraniSukses

Postingan Terbaru Lain-nya :

Temaram Senja Menyentuh Relung Jiwa


 

Senja kota

#Testiani_Makmur

Teringat dimasa kecil dan dikampung bilamana senja telah datang terlihat kelalawar berbaris dari timur menuju barat. Selalu takjub melihat barisan kelalawar menuju barat dengan kekompakkannya. Namun nuansa begitu, tidak pernah disuakan lagi. Rindu dengan suasana senja masa kecil.  Apalagi ditengah kota begini dipastikan tak akan berjumpa  seperti itu.

Senja dikota hanya menjumpai orang-orang sibuk mengejar kenikmatan dunia yang tiada akhirnya dan terkadang azan magrib pun sering tak terdengar ditengah kota. Itu lah salah satu ciri-ciri kota. Jujur lebih menyukai senja dikampung halaman, disana bisa melihat kebesaran Allah dari langit senja penuh dengan ketakjuban dan melalui langit senja pula sering berpikiran tentang masa depan.

Hati kecil sangat mendorong untuk duduk didepan rumah semari menikmati senja. Sesaat kemudian sudah berada diatas teras dengan porselin putih-putih berbentuk kotak,  berdiri tegak menghadap kearah tenggelamnya matahari, sementara dihadapan ku ada tiga batang pohon pinang cukup tinggi, diluar pagar lalu lalang motor melewati, sedangkan langit-langit senja telah dihiasi warna kuning keemasan, warna langit sudah mulai berbeda dengan warna langit disiang hari dan ini bertanda pergantian waktu akan terjadi.

Akan tetapi, belum juga tanda-tanda penggeras suara yang mengeluarkan murottal dan azan dari mushalla. Semestinya jam segini sudah selayaknya terdengar suara ngaji. Kendatipun belum terdengar tetap menunggu, sekalian menatap keindahan langit senja dan senja menjelma menjadi irama pembuka pintu hati untuk terus bertasbih kepada sang maha kuasa hingga cahaya pagi. Sebagai insan memiliki jiwa romansa dan melankolis begitu terasa bahwa senja ini adalah seni menyodorkan ketenangan serta memunculkan gagasan.

Mulai terbuai dengan langit dan aura senja yang temeram. Seolah-olah hati kecil ditarik untuk menikmati senja dengan meminjamkan mata, merasakan ada sesuatu menyentuh jiwa, teringgap pula rasa sunyi, dan ada pula rasa berbeda hadir dalam relung-relung empusan nafas, tak tahu apalah makna dari rasa tersebut. Bahkan menyusup dalam tulang sum-sum. Semakin dipejam mata, semakin terasa aura senja membawa jiwa pada tempat yang berbeda untuk menghilangkan kegundahan. Tak jarang pula tersenyum memandang senja karena beranggapan bahwa sesorang yang masih dirahasiakan Allah  juga sedang terpaku menatap syahdunya senja.

Menikmati senja terkadang sebagai alternative menghilangkan penat dunia sering menyesakkan raga. Bahkan dibawah langit senja berbicara dengan Allah secara berbisik-bisik, agar setiap harapan-harapan terangkai dalam curahan bait-bait doa diperkenaankan dengan berkaah dan muhhabah.

Manakala sedang menghanyutkan seluruh raga terdengar suara azan membalut dunia. Walaupun suara tak begitu jelas terdengar, tiba-tiba lantunan syahdu menyeruak relung jiwa. Allahu Akbar…betapa maha besar Engkau Rabbi. Betapa indah suara kemenangan ini sehingga seketika mendadak membelah dan melilit hati, ini mengambarkan betapa dahsyatnya energi azan sedang beradu dengan suara hembusan angin. Saat itu juga, tanpa terasa teringat dengan suadara laki-laki “brothers” semasa remajanya sudah rajin mengumandang azan dimesjid kampung.

Bibir pelan-pelan mulai mengikuti suara azan dikumandang oleh mua’azzim. Ya Tuhan ku, jadikan hamba mu selalu mendengar panggilan Mu. Akui lantunan azan mampu mengikis kesombongan dan menghadirkan kesyahduan bagi para pencari Tuhan. Tidak jarang suara azan mampu menghantarkan hidayah bagi orang-orang mencintai kebenaran. Sejujurnya hidayah mudah diperoleh bilamana sungguh-sungguh membuka hati mencari kebenaran. Lusa dan seterusnya tetap betah menunggu keindahan senja dari Engkau Rabbi. Entah kenapa menaruh perhatian lebih dengan senja yang dihiasi lafaz-lafaz azan.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Merangkul Bukan Memukul


rangkulan qoutes testiani

#TestianiPedia

Kata toleran/si adalah kata yang sedang hangat diperbincangan dijagat sosial media, kata itu bomming sejak agama islam dinistakan oleh oknum yang tak mampu menahan lisan dan tak pandai mengelola emosi. Sehingga ketidak mampuan itu, berakhir dipersidangan dengan episode cukup panjang. Melalui persidangan pula melahirkan beberapa kegaduhan baru antara yang pro dan kontra. Tidaknya sebatas pro kontra melainkan terbentuk kubu kotak-kota dan poros putih. Belum selesai kasus penistaaan agama episode pertama, lahir pula oknum penistaan agama melalui lelucon yang tak cerdas dan tak beretika. Bila episode pertama yang melakukan penistaan agama pelayan rakyat, maka sekarang adalah oknum artis. Tunggu saja bagaimana nasib sipenista agama baru apakah serupa seperti nasib sang pengdahulunya.

Dengan penistaan itu pula, lahir spirit 212 yang telah menggembar dunia dengan kekuataan yang tak pernah terpikir. Bahkan mampu mengumpulkan jutaan orang demi menyuarakan kebenaran serta izzah islam.

Tua, muda, dari pelosok desa hingga dari luar negeri tak mau tinggal serta ingin menghadir spirit 212, karena ada pesan ingin disampaikan kepada penguasa dan mereka yang telah menista atau berpotensi untuk menistakan agama islam. Jangan sampai islam jangan diperolok begitu saja dan jangan mengajari islam tentang toleransi. Toleransi bukan lah kata yang sangat asing bagi umat islam karena dalam surah Al-kafiruun secara jelas dan terang menerangkan “Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. Bila dikaji kalimat tersebut hanya sebatas pada agama semata melainkan melingkup pada aspek lainnya.

Semakin tolerannya, sehingga ada ormas-ormas islam ketika ada peribadatan suatu agama lain begitu gagahnya menjaga gereja-gereja. Bisa jadi itu bukti ini menunjukkan bahwa islam adalah agama sangat toleran bukan agama radikal atau kata-kata keras lainnya yang distempelkan oleh musuh. Benar-benar tak layak kata radikal itu disatukan bahkan disandingkan dengan islam. Bila dicek satu persatu ayat-ayat al-quran tidak satupun ayat mengajari kekerasan. Melainkan mengajari cinta, kasih, menyanyangi, kelembutan dan berbagi sesuai dengan asma Allah.

Namun ada yang aneh baru-baru ini, secara kasat mata ada sebagian umat islam tidak toleran dengan sesama islam dan toleran hanya diperuntuk bagi yang berbeda agama. Salah satu contoh, seperti apa yang terjadi saat berlangsungnya pengajian akbar disuatu daerah di jawa timur terjadi penggusiran ustad. Membubarkan!! tak lain dan tak bukan umat islam yang berada pada ormas pernah menjaga gereja ketika natalan. Ini benar-benar ajaib. Kok bisa-bisa bersikap seperti itu. Sebenarnya kisah pengusiran ustad telah pada zaman nabi dan penolakan tertuangkan juga dalam al-quran. Coba cek surah al-baqarah ayat 170

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”.

Lalu dipertegaskan kembali dalam surah Al-Maidah ayat 104 “Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.” Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?”

Sesungguhnya apa yang disampaikan oleh ustad diaccount youtube pribada, menurungant beliau telah sesuai dengan al-quran dan sunnah yang mengikuti Rasul. Apa yang disampaikan de referensi yang jelas. Alasan utama kenapa harus dihentikan kajian akbar tersebut diantaranya berbeda mahzab semata dan konon apa yang disampaikan ustad selama ini gara-gara materi ceramah bertentangan dengan tradisi yang dilakukan oleh organisasi tersebut.

Seharusnya tidak terjadi begitu, apalagi sampai berteriak, mengancam, memungkul, mengusir supaya kajian tidak dilanjutkan. Padahal mengaji dan menuntut ilmu begitu ditekanan dalam islam. Dan mereka yang berkumpul untuk mendengar nasehat bukan sedangkan melakukan hal-hal dilarang agama.  Apa salahnya merangkul sesama umat islam bukan sebaliknya memungkul. Sementara berbeda keyakinan dirangkul dengan erat penuh cinta. Kenapa sama-sama bersyahdatan pada Rabbi yang sama tidak dikencangi ikatan rangkulan.  Jangan terulang kembali penolakan pada ustad-ustad gara-gara perbedaan mazhab. Dengan rangkulan abu-abu menjadi terang, melalui rangkulan berjarak menjadi ukhuwah yang kokoh, rangkulan menyelesaikan masalah bukan menambahkan beban, dan rangkulan bentuk nyatakan bahwa islam adalah rahmatan maupun rahman. Mari apapun permasalahan diselelaikan dengan rangkulan, lalu budayakan rangkulan dalam menyelesaikan masalah.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Sayap Untuk Mengeliling Dunia


yakin

#TestianiPedia

Hampir saja lupa pernah mengunduh video berkaiatan dengan motivasi. Padahal video diunduh sekitar enam bulan yang lalu dan video itu tersimpan adem-ayem difolder ceramah. Bercampur baur dengan ceramah agama dari ustad-ustad beken di tanah air. Memang sengaja mencari video dipertigaan malam demi menghabiskan kuota malam dan supaya tak ngatukkan ketika tilawah. Cukup lama menganti-gantikan keyword diwebsite youtube demi mencari video yang sesuai dengan keinganan. Sehingga sering menganti keyword dengan sinomim yang sama. Setelah empat kali mengganti keyword, akhirnya menemui video seputar tetap istiqomah dalam dunia sunyi, hening dan imajinatif. Segala hal itu, terkait dengan kepenulisan yang membutuhkan ragaman kata supaya tersulam kalimat memukai. Tidak semua orang betah dan mampu berada diarea sunyi penuh imajinatif.  Hanya orang diberi kelebihan saja bisa merasakan aura hening sebagai tempat keteduhan dan nyaman mencari gagasan.

Tepat jam 19.49 wib baru tergerak untuk memplaylist video yang telah diunduh enam bulan yang lalu. Menit kesepuluh sudah membuat diriku tercolek dan mengocok-gocok emosi atas  kalimat inspiratif diuraikan dengan kecepatan penuh semangat yang bergelora. Meyakini siapapun yang bercita-cita menjadi penulis bila menonton video tersebut akan terbawa lamunan mengasyikkan, dimana untuk menjadi penulis tidak terlalu sulit, asal tetap fokus dan tetap menulis disetiap ada kesempatan. Lima menit kemudian bukan saja sebatas dicolek melainkan tersenyum lebar sehingga bibir cukup lama melebar dan mengembang. Semakin hanyut menyimak paparannya, seakan-akan begitu percaya diri bahwa kalimat yang disampaikan sang motivator dikhususkan untuk diriku dan seolah mendapat sokongan VIP, lalu secara cepat mengalir dalam aliran hayalan. Setelah itu terasa iri melihat cover-cover buku tentang cinta, perjalanan, keinginan, dan pengalaman dipampangkan dislide.  Lagi-lagi penulis berbaik hati memberi tips, sesungguhnya setiap buku yang ditulis oleh penulis selalu punya kisah, misi kebaikan dan dipastikan berawal dari keresahan.

Mulai terbawa arus untuk berkomunikasi dengan diri sendiri. Betapa hebat dan luar biasanya penulis ini, diusia lebih empat puluh tahun telah berhasil menerbit buku lebih dari 45 menit. Jika dihitung-hitung secara matematika, penulis ini mampu penulis dalam setahun sekitar 2-3 buku.  Keseluruh buku yang telah ditulis oleh penulis ide yang didapat dari dimana saja karena Allah telah membentang segala yang ada dibumi sebagai tinta untuk menulis. Setelah terpukai dengan cerita penulis melalui video. Memaksa otak berpikir untuk mencari ide yang berhubungan dengan pengalaman hidup, yang bisa diabadikan dalam novel….”semoga tidak dalam kondisi ngigau berpikir seperti ini, kendatipun ngigau dan setidaknya sudah berani bermimpi walupun belum bertindak”.  Sunguh sejak lama ingin bisa menulis pada genre fiksi yang beraroma motivasi, sciene berbalut romansa cinta.  Selaras dengan untaian sang penulis bahwasanya “Pengalaman sejati masih menjadi daya tarik untuk dinovelkan, karena sudah tahu adegan apa saja akan dituangkan dalam alur cerita”.

Alhasil video ini telah sukses menempuk jiwa dengan tepukan dahsyat. Menyindir dengan sindiran membekas yang tak bisa dihapuskan pembersih apapun.  Meyakini siapapun bisa menrancang sayap, sayap itu diartikan sebuah kesungguhan melalui talentan dimiliki setiap orang, lalu sayap itu lah akan mengantar untuk keliling dunia. Membangkit pikiran supaya berani melangkah lebih cepat dan bergegas lari tanpa menoleh kebelakang lagi. Karena didepan sana sudah ada Allah sediakan komplingan-komplingan, bagi mereka bermimpi menjadi orang luar biasa melalui dunia menulis. Dan terakhir mentertawakan diriku sendiri, karena diusia segini belum juga mendesain sayap nan kuat untuk terbang harus kemana saja. Bila sudah memiliki sayap, maka akan bisa terbang kemanapun. Bila telah terbang jangan lupa daratan karena daratan adalah pijakan yang berjasa sehingga bisa melayang.

Maka biar malam ini, mulai berniat untuk mengumpulkan bahan-bahan, mengklasifikasi dan mengatur strategi untuk membuat sayap-sayap. Meskipun dulu, kemaren sudah terlalu sering juga mengukir kinginan yang sama melalui doa. Berharap kali ini Allah mendengar, mengiringi jalan pada titik tujuan dan berapa tahun kedepan sudah bisa terbang melihat sisi lain keindahan dunia. Lalu dengan menatap keindahan dunia mampu menyelami nama-nama asma Allah yang bertebaran di bumi wajib untuk direnungi. Jika manusia sudah mampu merenungi keagungan Tuhan dengan tingkat pemahaman tinggi, InsyaAllah hidupnya akan selalu berlandaskan keikhlasan dan menjauhi membanggakan diri.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

 

Setahun Satu Bulan Mati Suri, kini come back


comebackSatu hal ingin disampaikan pada pembaca dan pengunjung blog setia. Maaf sudah lama tak menyaji kata-kata kurang penting bagi yang suka melirik.  Sehingga setahun satu bulan blog ini mata suri. Bayangi saja berapa banyak waktu terlewati tanpa ada kata-kata tergores diruang pengabdian.

Heran saja terlupa untuk menjulam aksara, teringat hanya lagu-lagu melankolis yang telah menusuk jiwa pada suatu lorong-lorong rasa yang menggeleguti dan raga menanggung. Padahal melalui blog ini, semakin ketagihan menghentak huruf-huruf dikeyboard notebook. Apalah daya, salah satu isi bumi menarik sesaat untuk berpaling dan mengucilkan alfabetis.  Entah kenapa sebegitu lamanya blog ini mati suri dan tak terbedaya. Yang pastinya, terlena dengan keindahan dunia yang diciptakan sang maha kuasa tanpa retak. Biasanya blog ini ditinggal sang pemilik dua bulan. Tetap tak menyesali karena dalam hidup terkadang ada yang harus diistirhatkan untuk sejenak. Istirahat sejenak bukan berarti benar meninggal atau melupakan. Bisa jadi itu cara lain untuk melompat lebih tinggi untuk terus menjahit huruf menjadi kata dan kata menjadi kalimat. Doa saja tak semoga tak terulang kembali mati suri.

Lalu sore ini ketika bumi dipenuhi rintik hujan, jiwa kehujanan, jalan-jalan dipenuhi genangan, dan atap masih dijatuhi tetesan air dari langit kembali duduk berhadapan bersama leptopia semari menghangat raga dibasuhi oleh air yang turun dari langit begitu lebat memutuskan untuk bercerita pada kalian semua. Bahkan diluar masih terdengar jelas suara gluduk-gluduk menyentuh bumi.

Namun tetap betah berkicau melalui aksara dengan sungguh-sungguh ingin comeback for you all. Alhamdulillahnya, stock ide kembali bermunculan hingga membuncah….”Entah yo antah idak hohoho”. Meskipun ntah yo ntah idak terpenting sudah “comeback”. Saat bermunculan secara membuncah tersenyum penuh harapan akan terwujud, serupa dengan senyum menghadap mentari pagi yang menghangatkan jiwa sedang menanti keajaiban Tuhan.

Semoga Allah senantiasa menghadirkan gagasan disetiap langkah dan helaian nafas agar bisa menyuarakan kebaikan serta inspirasi bagi pembaca.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Balut diri ku dengan doa mu “Mak dan Pak”


doa ibu

#TestianiPedia

Terbangun dipertigaan malam, ini adalah waktu sebagian manusia sedang lelap dan menikmati  mimpi-mimpi indah. Tapi ku berbeda dengan sebagain yang lain, dipertigaan malam keseringan terbangun seakan-akan ada  saja yang membangun. Ketika terbangun, tatapan kosong hanya bisa memandang tumpukan buku, lemari, loteng, bantal guling, selimut, alat-alat kosmetik  dan sesekali mengusap wajah. Langsung terhubung dengan raut wajah sudah tidak muda lagi. Rindu dengan suara ngaji pak dikala magrib dan subuh. Suaranya bagaimana nada-nada yang tak bisa teruntaikan, hanya bisa dirasakan semari meminjamkan mata. Lantunan ayat al-quran yang keluar dari suaranya bagaikan angin menyentuh  sukma. Terkadang kangen mereka membuat tersiksa sendiri dan tak jarang pula rasa itu membuat khusyuk berdoa padaNya untuk mereka. Bukan untuk kali saja terbangun teringat mereka dikehening malam, sudah teramat sering. Ini adalah bentuk kedekatan dan kedalaman emosional begitu kokoh antara ku dan mereka.

Jujur, tersiksa bila tak bisa menatap wajah tembem sudah berganti kerutan dan tubuh kekar sudah mulai kerobos termakan usia. Wajah tak pernah takut disengati matahari dan tangan tak berhenti mengenggam tanah demi menggais rezki untuk dia supaya bisa meraih mimpi menjadi orang terbaik dihadapan Allah. Sehingga wajah nan teduh itu diinggap oleh bintik hitam tersenggat oleh sinar violet. Wajah yang selalu melemparkan senyum terbaiknya, baik ketika dia bahagia maupun mendapat ujian. Bahkan telah memberikan segala hal padanya. Pemberian engkau begitu tulus tak pernah meminta balasan. Kendati sudah bisa mencari rezki secara kecil-kecilan, tak pernah putus memberi uang jajan untuk diri ini. Engkau begitu paham dan mengerti apa saja kebutuhannya. Ketika mengatakan ingin melanjutkan pendidikan engkau murung, paham kenapa engkau terdiam karena tak mau jauh darinya. Secara hampir sepuluh tahun kita berpisah bersua hanya moment tertentu.

Meskipun wajahnya dipenuhi kerutan tetap rindu tidur diatas pangkuannya semari mendengar coletahnya dan ingin menatap lama, terutama menetap mereka ketika terlelap tidur. Menatap wajah telah lelah membesari ku dari tak bisa apa-apa hingga bisa mengores tinta inspirasi, mengajari ku tentang arti kerasanya kehidupan. Mungkin begitu jua mereka menatap diri ku tatkala bayi. Mereka begitu senang menikmati proses perkembangan ku. Kini anak kecil yang terus engkau timang-timang, engkau elus-elus dengan doa, engkau genggam erat-erat tangannya kemana-mana telah beranjak dewasa. Walaupun sudah dewasa, tapi ku dihadapan kalian tetap dianggap anak kecil yang terus diarah, dituntut dan dingatkan. Bahkan jika Allah Kabul doa dengan rahmanNya dan biarkan waktu membuktikan bahwa dia juga ingin menjadi seorang ibu seperti engkau. Ibu tak pernah putus henti berdoa, ibu selalu tiap pagi menyisir rambut putrinya sebelum berangkat sekola lalu diikat dengan warna_warni pita. Sehingga begitu bertumpukkan bando dan bermacam ragam warna pita dimiliki.

Mengarahi ku pada jalan yang dicintai Allah dan setia menunggu dari perantauan. Teringat, pernah pada suatu ketika balik dari perantauan tanpa membawa apapun, terutama tidak membawa jinjingan yang berisi oleh-oleh seperti biasa dibawa ketika mudik. Ku akui salah, entah kenapa bisa tak membawa jinjingan. Sesampainya dirumah betapa hati sedih dan tersentil begitu dalam, terkhusus saat ponaan-ponaan imut menanya mana jajanan yang sering dibawa saat mudik. Padahal waktu itu ponaan-ponaan kritis, berlari-lari, memanggil dan memberi salim pada dia, tapi tak satupun mereka dapat kecuali pelukan hangat. Allahu Akbar… seketika itu jua, bola mata langsung dipenuhi genangan air mata bergelombang. Entah air mata apa namanya, mungkin ini nama air mata penyeselan dan air mata menyalahkan diri. Sejak peristiwa itu, berazam ketika mudik kekampung harus membawa jinjingan terutama membeli jajanan kesukaan  mereka dan Plus yang lain.

Tatkala usia semakin bertambah, semakin jauh kaki mengelilingi bumi Allah, bertambah kepahaman terhadap agama dan dunia. Semakin ku sadar dan paham bahwa sesungguhnya dibutuhkan adalah ridho dan doa engkau. Tanpa ridho dan doa engkau betapa susahnya ku menakluknya dunia. Tanpa ridho dan doa engkau sungguh rumit tak mendapat berkah ilmu dipelajari. Tanpa ridho dan doa engkau mana mungkin ku meraih surgaNya nanti. Tanpa ridho dan doa engkau tak mungkin sanggup bersemangat meraih mimpi yang terucap dalam doa ku. Tanpa ridho dan doa engkau tak mungkin tegar menghadapi warna-warni ujian yang membuat air mata deras menetes. Sepanjang waktu tetap butuh ridho dan doa mu karena masih banyak hal ingin dicapainya.

Oleh karena itu mak dan pak balut diri ku dengan doa mu disetiap waktu. Dengan itu semua akan mempermudahkan ku dalam menjalani kehidupan dalam rangka mengumpul pundi-pundi kebaikan dan pahala sebelum berjumpa dengan sang Rabbi yang maha cinta serta menghitungkan segala ucapan bahkan tindakan diperbuat. Allah terimakasih engkau masih panjang umur mereka sehingga ku masih mendapat balutan doa-doa mustajab mereka disetiap waktu. Kalian adalah harta begitu berharga bagi ia. Hingga kapanpun nama, senyum, nasehat, dan lemah lembut menambah energi tersendiri bagi ku untuk terus melangkah serta berangkat mengampai belum tercapai.

Semoga berjalan waktu, pergantian gelap menuju terang  penuh kilauan bisa terus memberi terbaik buat mereka dan tak berhenti mengabdi. Terutama doa terbaik buat mereka dikala dpertigaan malam. InsyaAllalh tiap doa, tilawah dan zikirnya selalu terselip nama  maka dan pak. Sebagaimana kata ustad berikan hal terbaik untuk orang tua. Berharap doa dilantunkan menambah point pahala bagi mak dan pak sebagai syarat menuju surgaNya karena memasuki surgaNya memerlukan banyak point-point kebaikan.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

 

Memotivasi Terkesan Sombong


“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS.Lukman:18)

 

keikhlasan testianipedia

#TestianiPedia

Sembilan lewat tiga puluh telah berada diruang dominan warna kecokletan. Itu adalah warna dinding pada umumnya di Indonesia. Kecuali dinding taman kanak-kanak atau playgroup yang dipenuhi warna terang mengalahkan warna-warni pelanggi. Semari mengisi absen melirik keruang penuh dengan kursi. Tampak dari luar kursi warna biru dibagian perempuan telah penuh sementara bagian laki-laki hanya satu baris terdepan saja terisi.

Padahal dari rumah sudah mengira telat dan sengaja tidak dhuha supaya bisa mengikuti kegiataan dari awal. Sesampai diruangan acara belum dilaksanakan. Harap dimaklumi orang Indonesia masih setia menggunakan jam karet dan entah kapan jam karet akan ditinggalkan. Andaikan tadi tahu acara molor dipastikan tak akan meninggal dhuha. Bagi ia dhuha adalah salah senjata meriam untuk mengetuk pintu langit. Apalagi ia punya banyak keinginan pada Allah. Oleh karena itu, banyak pula sunnah yang harus dilaksanakan agar keinginan itu segara dijibah dengan rahmah dan berkah.

Selangkah dua langkah terus maju sehingga sudah berada ditengah ruangan. Sesaat kemudian ada perempuan berkerudung panjang dengan postur tinggi dan berisi yang tampak dari jauh memanggil. Tak langsung ia menyambut dengan senyum karena takut salah orang. Terus melangkah memastikan siapa sesungguhnya yang senyum dan memanggil barusan. Heemmm…ternyata teman digroup dosen. Tanpa basa-basi menyapa dan cipa-cipiki. Baru sepuluh menit meletakkan jiwa diatas kursi, panitia sudah membagi minum gratis. Hanya minuman gratis dan tidak dilengkapi snack gratis “welee-weleee”.

Selanjutnya, pandangan ia tetap fokus pada baliho dengan ukuran sedang. Dibaliho ada wajah dikenal. Wajah dikenal itu, sebagai salah satu narasumber yang akan sharing tentang schorlarship baik didalam maupun diluar negeri. Bahkan schorlarship diperoleh juga berbeda-beda. Ada AAS, fullbring, LPDP dan satu lagi lupa hohoho…”harap maklum semakin penuh otak dipenuhi dengan kalimat tak penting”

Sampai jam10.00 wib tampaklah wajah petinggi kampus yang akan membuka acara sharing schorlarship. Sudah teramat sering mendengar nama dan wajah petinggi kampus tersebut di area kampus. Tatkala memberi kata sambutan sebelum melakukan peresmian pembukaan. Ada kalimat yang sangat mengelitik naluri ia. Mungkin tujuan sangat bagus yaitu memotivasi audiensi yang rata-rata mahasiswa tingkat akhir bagaimana bisa meraih schorlaship di dalam maupun luar Negeri. Tapi dikalimat berikutnya seakan-akan ada nuansa ingin sombong dengan nara sumber dan audiensi. Tiba-tiba terhenti menulis penggalan kata dibuku kerja. Setelah melihat wajah sang pejabat sesaat, cepat memalingkan wajah dengan menunduk kebawah dan semari bicara dengan diriku sendiri. Atau ia saja merasakan kalau yang sedang memberi motivasi, sedang menunjukkan dirinya punya kapasitas. Entahlah…!!!

Apalagi kalimat ini “saya, bangga dengan mantan mahasiswa saya telah berhasil kuliah di manchester university di UK. Dia sudah lebih hebat sekarang tapi hebatnya sedikit dari saya”. Dengan kata tapi itu, seolah-olah tak sepenuhnya memberi pujian dan sesungguhnya ingin mengatakan kalau kamu belum banyak hebat alias baru sedikit. Lebih terkesan hanya sebagai basa-basi untuk memuji. Bukan kali saja menemui orang ingin memotivasi tapi pada akhirnya terselip ingin menyombongkan diri. Ya bisa dikatagori sombong latent hohohoho….

Hati-hati setiap orang punya potensi untuk sombong latent. Sebagaimana kata ustad. Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin tinggi jabatan seseorang, semakin kaya seseorang, semakin ia dihargai makan semakin mudah untuk sombong. Bukan hanya itu, semakin tinggi pendidikan, semakin tinggi jabatan dan semakin kaya semakin susah untuk ikhlas. Jadi setiap kelebihan yang dimiliki manusia bisa menjadi sebab untuk sombong baik itu sombong tersurat maupun tersirat.

Meskipun diacara tersebut tercium aroma sombong latent. Nyatanya kembali semangat untuk melanjutkan pendidikan dan ada ilmu baru didapat dari sharing schorlaship terutama bagaimana penting mengupgrade CV. Sehingga apapun aktivitas dilakukan selama ini, berhubungan dengan masyarakat atau berkaitan dengan hajat orang banyak yang membawa manfaat, meskipun sekecil apapun harus dituangkan seperti pernah mengikuti conference, publication, job. Hasil tanggapan dari sharing scholarship bahwasanya lulus atau keterima beasiswa bukan sebatas faktor smart dan bahasa semata. Melainkan faktor CV, aktif pada organisasi dan kehebatan essai ditulis juga menjadi daya tarik bagi pihak panitia menyatakan lolos.

Lebih-lebih lagi, ia terpikirkan untuk  memulai mencintai kajian kearifan lokal. Bila Allah izinkan semoga penelitian berbasis kearifan lokal diterima dan berharap bisa melakukan research yang bisa membawa ia untuk mempresentasikan hasil kajian dikhalayak ramai. Allahuma Aamin.

Pesan terakhir buat pembaca setiap terkhusus buat penulis sendiri. Ikhlaslah memberi motivasi, jangan sampai ditengah-tengah  memberi motivasi terselip sombong, meskipun secara langsung tidak mengusung badan tapi secara latent tertangkap sedang melakukan kesombongan. Ingat Allah maha tahu setiap bisikan hati dan audiensi juga membaca dari gesture serta menganalis kata yang terucap.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Manusia Butuh Masalah


problem

“Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: “Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku.” Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui (QS.Az-Zumar: 49)

Terasa sekali keringat dikening, keringat bersembunyi dibalik kerudung pink dan tak menghirau deras keringat bercucuran karena sedang asyik menikmati nasi timbel komplit.  Sejak tiga hari yang lalu ingin sekali makan dikafe ini karena bisa duduk bersila sambil menulis. Akhirnya sabtu menjadi waktu yang tepat bagi ku untuk menikmati nasi timbel. Diiringi lagu crisye nan begitu sendu menusuk hati.

Setiap kekafe itu dipastikan memesan menu sama, tak pernah bosan dan secara tidak langsung menjadi makanan favorit ku. Sepertinya yang disekitar tempat ku duduk juga memesan menu yang sama dengan diriku. Namun, selalu ada hal sama dengan hari-hari sebelumnya di setiap menikmati menu yang ku pesan yaitu selalu dalam kesendirian…(Kasian ya^__^). Tapi tak merasa sunyi karena laptop, tumbukan buku dan menulis yang mengembirakan diri dalam petualangan hidup. Walaupun keringat hadir begitu deras, terus menyatap makanan dengan pikiran terus melayang-layang untuk mencari ide apa bisa ditulis dikafe tersebut. Rugi saja rasanya duduk dikafe nan nyaman itu hanya dimanfaatkan untuk makan saja.

Menu yang disantap dengan kunyahan pelan-pelan berharap bisa menjadi energi positif yang dikelola anatomi tubuh bagi dalam. Disaat ku menikmati satu mangkuk kecil nasi bakar, ikan nila bakar, sambal lado, lalapan, tempe dan tahu goreng serta sayur lode. Tiba-tiba diputarin lagu lawas dan terbawa suasana gembira. Jika tak salah ku mendengar kata-kata yang menyentuh dari lirik crisye diantaranya cobaan, menempuh perjalan, tenggelam, kabut, senja nan muram dan penawar. Sesekali kedengar juga lagu-lagu jawa dan secara pikiran langsung teringat dengan kota yogya. Kota membawa banyak kenangan, persaudaraan dan tawa. Setelah semua makanan yang dihidang depan ku ludes, langsung bergegas membuka leptop serta segera menulis kata yang memenuhi pikiran selama perjalanan dari ruko teman menuju kafe. Kata yang memenuhi pikiran dalam perjalanan dengan kecepatan motor 40Km/jam yaitu “MASALAH”.

Sebagaimana artikel yang pernah ditulis tahun yang lalu bahwa salah satu syarat menjadi orang besar dan sukses harus siap menghadapi masalah besar serta pandai-pandai membingkai masalah secara bijak. Lihat saja bagaimana sejarah toko bangsa, pahlawan, orang hebat dan berpengaruh di Negeri pernah mengalami masalah. Masalah umumnya mengantar mereka menjadi orang besar dan dekat dengan Allah. Apalagi sering mendengar semakin tinggi iman seseorang maka semakin dahsyat masalah akan menimpa.

Tiap orang pernah mengalami masalah karena tidak ada satupun manusia tak diberikan masalah oleh Allah, tiap orang mempunyai masalah berbeda, tiap insan melihat masalah dari berbagai perspektif, tiap orang memaknai masalah sesuai dengan tingkat keimanan, setiap pertukaran waktu akan ada masalah yang menghampiri, masalah menyatakan kita membutuh manusia lain, tiap masalah selalu tersembunyi atau membawa hikmah, setiap masalah datang akan bisa melihat bagaimana karakter seseorang, masalah adalah bagian dari pendewasaan diri, masalah cara Allah menguji keimanan seseorang, masalah membuat orang kuat, terkadang masalah menjadi momentum seseorang bangkit dari keterburukan menjadi hero. Bahkan ada yang beranggapan masalah secara berlebihan (besar) dan ada pula merasakan masalah dialami tak seberapa.

Sesungguhnya manusia membutuh masalah. Dengan adanya masalah manusia bisa intropeksi diri. Masalah membuat manusi rindu berlama-lamaan sujud dan berdoa padaNya. Masalah menandakan manusia makhluk yang lemah. Masalah mengatakan bahwa keberadaan Allah itu ada.  Masalah menandakan Allah masih ingat dengan kita. Masalah cara Allah menyelamat manusia dari kesombongan. Masalah membuat manusia bisa mengontrol diri. Masalah mengajak manusia berpikir lebih detail dan menimbulkan ide baru. Amati saja produk atau barang yang diciptakan, tak lain tak bukan dipengaruhi oleh masalah. Jadi untuk menghasil/menciptakan sebuah produk atau barang maka sering mengamati masalah orang lain dan minta masalah pada Tuhan agar bisa berpikir tajam sehingga menghasilkan sebuah produk baru. Itu alasan kenapa manusia membutuhkan masalah.

Beragam cara dilakukan manusia ketika mendapat dan berhadapan dengan masalah. Ada dilanda masalah dengan diam diri semari menyalahkan orang lain, menghadapi masalah dengan mengraung-raung sambil mengatakah Allah tidak adil, menghadapi masalah dengan lari dari keramaian lalu duduk diruang kesunyian, menghadapi masalah dengan marah-marah pada siapapun yang diketemui, menghadapi masalah dengan menceritakan segalah permasalahan kepada orang lain, menghadapi masalah dengan melakukan hal-hal negatif dan menghadapi masalah dengan berbanyak sujud padaNya lalu berdoa agar diberi kekuataan menghadapi setiap masalah. Bila mendapat masalah kita pilih mengadu padaNya agar diberi jalan keluar karena tidak ada tak diselesaikan oleh Allah, selain itu juga mendapat ketenangan dan insyaAllah termasuk hambaNya yang sabar menghadapi masalah serta mudah-mudahan termasuk golong-golongan yang bertakwa.

Cara terakhir diatas merupakan cara terbaik dipilih oleh manusia mengalami masalah. Percayalah masalah Allah berikan pada kita tidak pernah salah apalagi nyasar, dengan masalah kita bisa menakar sejauh mana tingkat kesabaran, masalah mengajari kita untuk berpikir positif, masalah membuat kita rajin beribadah padaNya, masalah bisa membuat kita mengenal siapa saja yang baik dengan diri kita, masalah merupakan bagian dari kematangan pikiran dan sikap. Lebih dahsyat lagi, masalah membuat diri seseorang tenang dan bijaksana.

Makanya orang-orang sudah keseringan menghadapi masalah selalu tenang menghadapinya karena begitu sadar bahwa masalah adalah cara meningkat level kehidupan lebih baik lagi. Untuk hadapi lah masalah dengan hati yang jernih dan berpikir positif. Sehingga apapun masalah melanda tak pernah mengerutu dan menyalahi orang lain. Tidak semua orang bisa bersikap seperti itu dan yang bisa menghadapi masalah dengan ketanangan nan penuh bijak adalah mereka-mereka yang sudah mempunyai kedekatan diri padaNya dan mereka yang selalu menceritakan masalahnya hanya pada Allah tak ada kecuali itu.

Terakhir selamat menikmati masalah-masalah kehidupan. hadapi masalah dengan senyum yang dihiasi kesabaran serta bermunajat padaNya. Rasakan kenikmatan setelah berhasil mengendalikan masalah dan temukan ilmu-ilmu baru dari masalah itu.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

%d bloggers like this: