ketika perasaan itu hadir “buruan nikah atau bunuh saja perasaan”


Keindahan malam dan sayup-sayup lantunan surah Ar-Ruum memberi motivasi untuk mengurai, melukis, merangkai, menyatu kata menjadi kalimat tentang perasaan itu hadir. Kita pasti pernah merasakan cinta atau pesona dengan makhluk Allah, terkadang perasaan itu hadir membuat kita bingung, pusing, galau, gelisah, dan bertanya pada diri sendiri.

“Antara nikah atau bunuh perasaan”

Nah ketika perasaan itu hadir apa tindak lanjutnya? Bagaimana sikap kita? Seperti apa respon kita? apakah kita harus membunuh perasaan tersebut? Apakah perasaan tersebut membuat kita tak semangat? Apakah perasaan tersebut menjadi pribadi galau atau gelisah? seperti bahasa D’Masiv “Cinta ini membunuhku”J

Sedangkan cinta adalah fitra yang berlaku atas makhlukNya dan cinta pesan agung Allah pada manusia. DitulisNya ketika mencipta makhluk-makhlukNya di atas Arsy . Seperti pemilik cinta jelas dalam surah Ar-Ruum: 21

“……….dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir”.

Senada dengan ungkap Pak Romisastriowahono dalam blog pribadinya hendaknya ketika perasaan itu hadir ubah definisi dan paradigma perasaan tersebut serta bangkitlah, lanjutkan perdjoeangan

Selanjutnya ungkapan familier pak Romisastrio wahono dalam buku beliau (dapat apa sich dari Universitas)Janganlah kalian mengejar cinta. Jadilah legenda yang penuh dengan prestasi dan manfaat untuk orang lain, maka cinta akan silih berganti mengejar kalian. Dan ketika masa itu datang, pilihlah takdir cintamu, kelola cintamu, atur kadarnya, arahkan posisinya, dan kontrol kekuatan cinta sesuai dengan tempatnya”

 

Jadi perasaan itu tidak perlu kita matikan, tidak perlu kita bunuhkan, tidak perlu kita musnahkan, tidak perlu kita kejar-kejarkan, buru, dan cinta itu perlu kita kelola dalam wadah yang baik dan kesucian nilai.

Namun tidaklah mudah untuk menjaganya dan mengelola perasaan itu seperti membalik telapak tangan apalagi mengelola perasaan pada masa sekarang karena begitu ribuan godaan, rayuan, dan bisikan syetan maupun nafsu untuk menangkapi, merespon atau meletak perasaan di tempat nan salah sehingga salah mengekspresikan perasaan kita.

InsyaAllah banyak cara menuju roma hanya dibutuhkan azzam, tekat, niat, keinginan, dan kesebaran untuk menjaga hati menjadi hati yang perawan. Mari kita alih perasaan kita dan mengelola perasaan dengan berbanyak zikir, mengaji, bermanfaat untuk orang lain dan menyibukkan menjadi pribadi berilmu.

Ketika telah berazzam dan bersungguh-sungguh menjaga perasaan tersebut hanya mencintai Allah maka akan berlaku pula pertolongan Allah untuk memudahkan setiap urusan kita dalam menjaga dan menemu perasaan yang halal.

Jadikan itu sebagai pondasi memotivasi kita untuk senantiasa mengelola cinta menuju arah yang lebih baik dan tauti selalu hati kita dengan Allah Azza wajal’la

 

Mari kita lantunkan doa pernah dilafazkan Sayyid Qutb dalam denyut perasaannyaYa Allah Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa pada taat pada Mu….maka kokohkanlah. Ya Allah ikatkanlah,kekalkanlah cintanya

Semoga kita termasuk hamba Ilah yang mampu menjaga, mengelola, dan menata perasaan hingga waktu Allah pertemukan kita dengan hamba Allah yang pantas untuk kita miliki perasaannya dan mari kita komitmen bangun perasaan kita hingga perasaan kekal hingga surga.

BestRegard Inspirasi BeraniSukses

Postingan Terbaru Lain-nya :

Moga Tidak Lelah Bersyukur


Bismillah…

“Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur”|QS. Al A’raf:10|

Moga tiap waktu dan pergantian waktu tidak lelah bersyukur/selalu bersyukur dengan mengucapkan Alhamdulilah yang dikokohkan melalui ibadah serta berzikir. Itu adalah bentuk ucapan tertinggi terima kasih dan ucapan syukur manusia kepadaNya. Maha suci Allah, pagi ini Allah masih memberi nikmat berupa mata masih bisa menatap mentari pagi nan cerah melalui sinar pagi Allah hantarkan kehangatan dan vitamin. Cahaya itu jua menerangkan bumi sehingga terlihat keindahan bumi nan eksotik. Sehingga tidak membutuh listrik untuk menerangi langkah-langkah kaki menuju tempat harus dikunjungi.  Lalu kemanapun mata tertuju terlihat pesona alam yang menenangkan jiwa. Tertampak senyum pesona dari kolega dan keluarga. Senyum yang melahirkan ketenang jiwa. Bila jiwa tenang maka dunia terasa lapang selanjutnya ketenangan membuat jiwa menjadi bahagia.

Allahu Akbar….masih bisa bernafas dengan lega tanpa harus menggunakan alat bantu. Masih berjalan dengan tegap bahkan mondar mandir yang menghasilkan keringat sedangkan ada yang ingin keringatan tapi tak memperoleh keringat. Namun harus melalui incubator atau harus mengkonsumi sejenis obat agar bisa menghasilkan setetes keringat.  Masih bisa makan&minum yang sehat serta bergizi. Mungkin ada sebagian orang Allah ambil sedikit kenikmatan. Sehingga harus mengkonsumsi obat terlebih dahulu, baru bisa menikmati makanan. Masih bisa menuju tempat kerja dengan berdandan cantik dan gagah. Sementara ada sebagian yang masih bertarung dengan sakit, sehingga senyum pun susah.

Sungguhlah benar apa yang dijelaskan dalam alquran, manusia tidak akan mampu menghitungkan/menuliskan nikmat yang diberikan Allah pada manusia. Meskipun lautan menjadi tinta. Jadi masih kah kita tidak mau bersyukur. Jika kita sudah bersyukur moga tak pernah lelah untuk bersyukur karena dengan syukur dunia telah kita miliki. Dengan syukur jugalah menjauhi manusia dari sifat tamak dan rakus. Bisa jadi orang-orang memiliki sifat tamak dan rakus karena tidak mau mensyukuri apa yang telah dimiliki! Allahu’Alam. Selanjutnya syukur adalah bagian mengakui bahwa kita telah mendapat jatah rezki dariNya.

Rabbi…ku bersyukur setiap proses kehidupan dan ketetapan Engkau tetapkan. Meskipun dibalik rasa syukur masih ada belum terselesaikan dan terjawab. Namun waktu akan menjawab semua yang belum terselesai. ketika telah terjawab semua, InsyaAllah rasa syukur semakin memuncak dan semakin tak pernah lelah untuk berkata syukur wa Allahamdulillah Allahu Akbar

Menabur Cinta Dan Kebaikan Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

 

Jalan Rabbi Tetap Dirindukan


Bismillah….

Sehari setelah putaran kedua PILKADA DKI, diruang dosen penuh dengan diskusi dunia politik.  Bukan saja diruang dosen bahkan dunia sosial media dipenuhi pembicaraan atau tagar pilkada. Hingga saat ini masih dibahas aroma pilkada misalnya tagar move on atau gagal move on hihihihi^__^. Semua dosen yang ada dimeja petak ingin ikut berbicara dan ingin ikut mendengar. Seolah-olah sudah menjadi pengamatan politik. Tak jauh berbeda dengan analisis yang dipaparkan oleh pengamat politik dan konsultan politik, memenangkan nomor tiga. Dari jauh atau sekitar 10 langkah dari meja diskus mendengar secara sayup-sayup karena semari membimbing mahasiswa konsultasi final skripsinya. Setelah selesai langsung beranjak kemeja bundar yang berwarna biru. Secara, juga tak ingin tertinggal dari kehangatan diskusi. Semoga saja melalui diskusi mendapat hikmah |ciiiileeeeee gaya sangat hohoho|. Di meja bundar ada sekitar 7 Dosen begtu serius dan fokus membahas hasil putaran kedua. Bahkan semakin hangat. Dimeja petak atau bundar itu sering terjadi diskusi hangat dengan berbagai tema dan sudut pandang. Tak jarang pula dari meja petak itu terilham dan terinspirasi untuk melakukan sesuatu…|Heemmmm belagu huhuuuuu|

Namun dari diskusi sekitar satu jam lebih itu, ada point menarik dan ending dari diskusi sesunggahnya sudah tertuang dalam quote singkat dan terpublish di instragram Anim, sebelum terjadi diskusi. Awal mula membahas Pilkada putaran kedua tapi ujung-ujung membahas tentang toko nasional yang moderat atau aliran libral yang kembali kepada jalan kebenaran yaitu jalan islam sesuai Alquran&hadist. Jalan menuntunkan untuk menjalankan sunnah-sunnahNya. Bahkan sudah banyak contoh bagaimana heroiknya mereka yang menantang jalan Allah kembali mengakui kebenaranNya. Awalnya begitu nyinyir dan begitu antusias menabur isme-isme. Namun akhirnya tetap sadar bahwa isme yang dibanggakan selama ini hanya eutopia.

Pada hakikatnya perjalanan adalah salah satu cara untuk mentadaburi dan mencari makna hidup. Dari makna hidup akan bersua konsep “dari mana dan hendak kemana”. Dalam perjalanan bermacam diketemui dan dialami. Ada kala perjalan menanjak, menurun, berkelok dan lurus. Beragam perjalanan tersebut, membutuh rem dan gas.  Rem digunakan untuk menghentikan hal-hal tidak baik atau berunsur kehajatan serta kemaksiat. Jika tidak direm bisa bermuara pada keburukan dan kehinaan. Sementara gas digunakan untuk terus melaju melakukan kebaikan dan meraih kebenaran. bila bersua dengan kebenaran dan kebaikan maka gas sekuat mungkin. Agar bisa bersua dengan nama hidayah yang berbuah pahala bernilai keberkahaan. Kedua hal itu harus dimiliki seorang petualang untuk berjalan dan berjalan. Namun sejauh apapun perjalanan dilalui dan apapun namanya perjalan dijalankan. Tetap manusia itu dan pada dasarnya rindu dengan jalan ilahi. sebagaimana contoh nyata dan fakta disekitar Anim atau melalui bacaan. Bahwasanya sejauh-jauhnya perjalan dilalui tetap jalan Rabbi dirindukan. Kenapa!Kenapa!Kenapa!

Karena, jalan ilahiah itu umpama rindu dengan kampung, karena sejauh kita mengeliling berbagai kota tetap desa tempat dilahirkan dirindukan. Kemudian jalan iliah adalah jalan membawa kedamaian, keberkahaan dan jalan menjanjikan keselamatan dunia ataupun akhirat. Sebagaimana dijelaskan dalam buku Al-Hikam bahwasanya ruh/batin manusia hanya bisa diberi nutrisi dengan kedekatan dengan Allah. Tidak bisa dipenuhi dengan harta, jabatan, apalagi dengan kekuasaan. Hal itu hanya bisa memenuhi kebutuhan fisik semata. Padahal fisik tanpa ruh hanyalah bangkai tanpa bernilai. Dengan adanya ruh dalam diri manusia menjadi manusia paripurna. Makanya ruh itu dari Allah maka akan kembali kepadaNya jua. Jadi itu lah alasan kenapa kita harus kembali pada jalan ditetapkan Allah demi memenuhi nutrisi ruh. Sebab ruh tanpa nutrisi dunia terasa sempit, hamba dan gelisah. Dan bentuk syukur serta sadar bahwa perjalan sesungguhnya jalan menujuNya.  Bagi kita belum kembali pada jalanNya, ayo bergegas dan berlari kembali pada jalan penuh tuntutan. Mumpung masih ada kesempatan untuk kembali pada jalan kebenaran.

Menabur Cinta Dan Kebaikan Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Ada Masanya Kita Benar-Benar Rindu DenganNya


Bismillah…

Sekuat-kuatnya kita, sesombong-sesombongnya kita, setinggi-tinggi jabatan kita, sebesar-besarnya pengaruh, seterkena-kenalnya dan sekaya-kayanya kita. Ada masa dan kondisi membuat kita rindu dengan Allah dan rindu mengarahkan wajah padaNya. Rindu berlamaan denganNya melalui zikir dan doa. Tatkala rindu itu lah tanda sangat membutuhkan Allah dan ingin meluapkan apa yang dirasakan. Bahkan sedangkan membutuhkan solusi atau membutuhkan jawaban atas segala persoalan sedang dihadapi.

Rindu padaNya juga menandakan kita makhluk yang lemah, makhluk rendah, makhluk tak berdaya, makhluk membutuh petunjuk dan makhluk yang diatur oleh Allah. Rindu jua mempertegaskan dan wujud pengakuan kebesaranNya karena segala terjadi dibumi ini , semua atas pengaturanNya yang begitu rapi dan penuh takjub.

Betapa bahagianya orang-orang dipilih Allah selalu rindu denganNya. Karena kerinduan itu menandakan teringat dan terpikir. Pada dasarnya Rindu padaNya juga menegaskan bahwa kita masih punya iman, masih mengakui kebesaran Allah dan masih membutuhkanNya.  Namun ada pertanyaan besar? Terutama mereka yang tidak mengakui adanya Tuhan |Atheis|. Seperti salah satu penanya di ceramah DR.Zakir Naik yang akhirnya berujung pada atheis. Setelah memperdalami berbagai agama. Tatkala mereka mendapat musibah, ujian, dan dilanda sunyi? Kemana kah mereka lari dan mengadu? Bersyukurlah kita masih punya Allah karena setiap apa dialami, ada tempat mangadu dan mencurahkan permasalahan hidup karena itu jalan yang tepat bahkan benar yang dipilih. Sungguh itu menandakan kita sedang berada dijalan yang lurus.

Mari kita Tanya dengan diri sendiri, kapan dan apa yang membuat rindu denganNya??? Apakah setiap jam kita rindu padaNya? Atau kita rindu padaNya saat mengalami kesulitan belaka? Sungguh ku cemburu pada mereka yang setiap waktu rindu pada Allah. karena tidak selamanya orang rindu pada Allah mengadukan segala permasalahan, namun banyak juga mereka rindu Allah karena wujud syukur secara utuh serta kokoh. Akan tetapi, kerinduan kita padaNya umumnya tatkala kita diberi ujian, mengalami kesulitan, kesusahan dan saat dilanda sunyi. Jika memang ujian, kesulitan, kesusahan dan sunyi membuat kita selalu rindu padaNya. Bersyukurlah karena masih ada sebagian orang tatkala mengalami ujian, kesulitan, sunyi dan duka. Bukannya berlari-lari mendatangkan Allah. Tetapi sebaliknya malah lari pada hal yang salah. Semoga kerinduan kita padaNya menjadi pintu hidayah dan momentum manis untuk terus dekat padaNya.

Menabur Cinta Dan Kebaikan Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

 

Jangan Tertipu Kehidupan Dunia


Hari ini, Anim memutuskan makan di kafe banyak digemari generasi millineal. Teramat sering melihat photo kafe ini diruang social media.  Wajar generasi millineal tertarik dan betah berada dikafe ini, karena setiap sudut kafe terdesain dengan kekinian. Hal kekinian merupakan hal sangat disukai dan dipuja-puja oleh generasi millineal. Meskipun tidak sesuai dengan konsep kearifan lokal. Siapapun berada dikafe ini tentu akan akan terpesona dan terlena keindahan dari konsep yang diusung. Kedatangan Anim dikafe ini, bukan terprovokasi oleh photo-photo millineal di ruang sosial media yang bertaburan, melainkan sudah lama berniatkan kesini namun momentum belum tepat dan tidak alasan kenapa harus berada dikafe ini.

Sampai dikafe bernuansa westten klasik, sekitar jam tiga lewat 15 waktu Indonesia bagian barat. Selama perjalanan menuju kafe, pikiran Anim terbang entah kemana-mana. Sesekali terpikir dengan bundo kandung dikampung, kemudian muncul pula dengan cita-cita besar masih berusah untuk diwujudkan. Kendatipun pikiran jauh kemana, tapi masih fokus melihat jalan yang dipadati oleh kendaraan.  Kehadiran Anim dikafe ini tak lain tak bukan untuk memenuhi janji pada dirinya, telah menyelesaikan proposal penelitian dengan nilai sangat pretesius. Mengarap proposal penelitian ketika jiwa tergoncang begitu dahsyat oleh perasaan dan saat harus bertarung dengan rasa sendiri dalam mencari solusi demi ketenangan batin.

Setelah Anim menghabiskan menu dipesan dan Satu jam kemudian…

Tiba-tiba ada tamu Kafe berombongan dan membuat mata Anim tertuju pada mereka. Sejak turun dari mobil hingga duduk ditempat yang telah mereka pesan, tak berhenti mengalih pandangan.  Bagaimana tidak Anim menoleh pandangan pada mereka, karena kehadiran mereka sangat boombastis. Apalagi yang melekat atau dibawa mereka semua membuat mata perempuan lapar mata secara serba indah dan branding. Tas lagi trands, sepatu dengan highhell begitu tipis, warna baju nan cerah, dan dihiasi kacamata. Syukurnya tak pakai celena ketat tapi kompak pakai rok levis.  Wanita mana tak suka dengan bawaan ibu-ibu couple tersebut.

Sepertinya bukan Anim saja yang melirik mereka. Akan tetapi meja nomor enam dan meja nomor satu ikut melirik. Kedua meja tersebut berjarak tiga meja dari Anim duduk. Semari menyentuh tab Anim, diam-diam menyimak pembicaraan mereka yang serba duniawi, yang tak jauh dari dunia wanita dan terdengar juga sesekali mereka membicarakan anak-anak mereka sekolah favorit.  Pembicaraan hangat mereka ditemani dengan makanan bertumpukan dimeja. Sepertinya rombongan ibu copule itu sengaja pesan makanan dengan porsi banyak. Satu orang ibu memesan 1 hingga 3 jenis makanan. Namun tak bisa terlihat jelas menu apa yang dipesan oleh ibu-ibu couple. Saat menu telah terhidang ada beberapa ibu-ibu couple minta diphotokan dengan latar menu makanan yang telah dipesan. Bahkan sampe tiga kali ketawa mereka pecah dan membuat sebagian tamu yang lain melirik pada mereka. Ntah apa yang mereka ketawakan.

Tiba-tiba hati kecil mengeluarkan pertanyaan. Beginikah ibu-ibu masa kini!!! Dan ibu-ibu hidup diperkotaan. Jujur dan sungguh Anim belum bisa memahami apalagi mengerti tingkah para rombongan ibu-ibu berbaju couple tersebut. Entahlaahhhh….mungkin dunia Anim dan Ibu-ibu couple tersebut terlalu berbeda jauh ibarat kota dengan desa. Ibarat samudra dengan sungai. Ibarat pesawat dengan bejak. Sehingga membuat Anim geleng kepala berulang-ulang.

Seusai Anim memberi pertanyaan pada diri sendiri dan belum terjawab pertanyaan sendiri. Tercenggang dan menarif nafas “uuppssss” secara pelan-pelan.

Melihat ibu-ibu rombongan tersebut berphoto gruoppi  |photo bareng| tak kalah dengan anak-anak remaja atau para gadis kekinian. Suasana kafe semakin menjadi-jadi saling lirik-melirik. Walaupun rombonga ibu-ibu diamati oleh tamu yang lain. Mereka tak hirau dan malah cuek saja dengan terus tertawa dan seolah-olah kafe ini sudah dibooking mereka semua. Terkejut saja mengamati tingkah seorang ibu. Ibu yang menjadi madrash dan tauladan bagi generasi millineal.  Tapi diruang public mempertontonkan sikap seperti anak gadis dan generasi millienal. Tidak hanya itu, ada salah satu ibu dari rombongan ibu-ibu couple tersebut, cetus minta di”tag”kan. Berarti photo mereka sudah dipublish disosial media…. MasyaAllah…Anim mengerinyik dahi sesaat dan sambil meminjamkan mata. Tak tahu mau bilang apa lagi!!! Dunia emang telah berubah dan berbeda.

Betapa bersahabat dan update nya para ibu-ibu couple dengan jejaring. Sesunggunya perilaku begini jika ditinjau tingkat generasi dalam perspektif infomrasi adalah efek dari teknologi. Hampir semua para generasi silent sudah mengikuti perilaku generasi digital native, dimanapun berada dan apapun kegiataan sepertinya wajib dipublish kesosial media. Emang benar kata teman, sangat susah mencari orang tak mau mempulish kegiataan atau photo disosial media. Mereka-mereka masih mempertahankan prinsip untuk tidak mempublish photo atau memanjang photo diruang sosial media adalah orang istimewa.  Seketika itu juga, teringat dengan mahasiswa Anim, karena gaya photo dan tingkah para ibu-ibu couple tersebut tak jauh beda dengan mahasiswa…”lagi-lagi Anim geleng kepala pelan-pelan dan terus menunduk kepala”. Ya Allah, jauhkan kami dan siapapun ingin berbaiki diri dari bersikap seperti itu, bukan kah kami adalah sebagai calon ibu dan tauladan bagi generasi Millineal.

Sehingga Anim kembali bertanya dengan diri sendiri. Siapa mereka dan apa profesi meraka? Begitu pedenya dan tak menghirau dengan lirikan mata tamu kafe yang lain. Mungkin mereka ini adalah komunitas arisan, rombongan pengajian, istri para pejabat atau meraka adalah kaum sosialita KW….|Anim berspekulasi dengan diri Sendiri|

Sebetulnya bukan kali ini saja, Anim menyumpai para ibu-ibu modern bergelayat begitu dan ini untuk kesian kali berjumpa. Apalagi Anim sudah hidup didua kota besar. Hanya saja dengan orang yang berbeda-beda dan lokasi yang berlainan. Namun kesamaan tetap saja mengedepankan keindahan dunia. Selama satu jam kurang,  Anim menyuri pembicaraan mereka dan tak ada satupun keluar kalimat atau pembicaraan bernuansa keagamaan. Semua pembahasan seputar tas branding, pakaian serba lux, dan pembicaraan seputara harta maupun jabatan. Seketika mulut Anin langsung berujar apakah ini lah dunia…. Penuh dengan permainan dan senda gurau???

Oh Tuhan, kenapa hari ini Engkau bersuakan dengan ibu-ibu modern ini!!! Hikmah apa hendak Engkau berikan pada Anim. Atau ada maksud yang lain Rabbi. Sesungguhnya ini adalah fenomena sosial. Bila Anim melihat ini dari sudut teori sosial adalah hal lumrah. Jika Anim mengamati dari sudut agama, etika dan budaya. Ini sungguh tak biasa. Setidaknya pertemuan para-para ibu-ibu couple mengingat Anim tentang dunia penuh dengan sendau gurau dan membuat manusia terlena atas keindahan-keindahan yang semu sehingga lupa kehidupan sesungguhnya. Sebagai Engkau jelaskan dalam Surah Ankabut ayat 64 “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui”.

Sungguh benar Rabbi, apa yang Engkau jelaskan dalam Al-quran terjadi pada kehidupan manusia. Seperti Anim jumpai hari ini tentang dunia penuh permainan, sendau gurau dan penuh tipuan belaka. Hari ini, Anim paham bahwasanya tidak hanya ayat-ayat dalam Alquran saja harus ditaburi. Melainkan perjalanan kehidupan disekitar kita, begitu banyak mengandung pelajaran yang mengantar manusia menjadi bijak dan berpikir. Bahkan meyakini setiap perjumpaan dan pertemuan dengan siapapun selalu terkandung hikmah bagi mereka yang berpikir serta mau mengambil hikmah dari setiap perjalanan hidup.

Menabur Cinta Dan Kebaikan Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

Hal Terjadi Dengan Manusia Sudah Dijelaskan Dalam Alquran


 

TestianiQoutes64Alquran ini tidak ada keraguan dan merupakan ayat yang nyata. Sesungguhnya Alquran itu adalah kitab yang mulia. Alquran adalah bacaan yang sangat mulia. Alquran adalah pentunjuk bagi orang-orang bertakwa. Alquran penerang bagi seluruh manusia. Alquran adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum meyakini. Sesungguhnya Alquran diturunkan pada malam kemulian. Janganlah ragu menerima alquran. Jika ada manusia tetap dalam keraguan tentang alquran, Allah tantang manusia buat satu surah yang semisal alquran. Jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yangg serupa Alquran, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yg serupa dengan yang lain, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.

Alquran membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. Dan apabila dibaca alquran, maka dengarlah baik-baik, dan perhatikan dengan tenang agar mendapat rahmat. Ketika sekumpul jin mendengar Alquran, mereka berkata sesungguhnya kami telah mendengar Alquran yang menakjubkan. Alquran adalah pentunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Alquran itu cahaya, yang ditunjuki kepada hamba-hambaNya.

 

Sesungguhnya dalam alquran itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Alquran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat. Sesungguhnya alquran petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar. Alquran petunjuk dan pembeda antara hak dan bathil.

 

Alquran menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang beriman.alquran membawa kebenaran. Sebenarnya alquran itu adalah ayat-ayat yangg nyata didalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Alquran kecuali orang-orang zalim. Dalam Alquran bermacam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkari dan saling membantah. Sesungguhnya alquran itu peringatan.sesungguhnya alquran amat banyak mengandung hikmah dan benar-benar tinggi nilainya

 

Menabur Cinta Dan Kebaikan Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

 

Temaram Senja Menyentuh Relung Jiwa


Teringat dimasa kecil dan dikampung bilamana senja telah datang terlihat kelalawar berbaris dari timur menuju barat. Selalu takjub melihat barisan kelalawar menuju barat dengan kekompakkannya. Namun nuansa begitu, tidak pernah disuakan lagi. Rindu dengan suasana senja masa kecil.  Apalagi ditengah kota begini dipastikan tak akan berjumpa  seperti itu.

Senja dikota hanya menjumpai orang-orang sibuk mengejar kenikmatan dunia yang tiada akhirnya dan terkadang azan magrib pun sering tak terdengar ditengah kota. Itu lah salah satu ciri-ciri kota. Jujur lebih menyukai senja dikampung halaman, disana bisa melihat kebesaran Allah dari langit senja penuh dengan ketakjuban dan melalui langit senja pula sering berpikiran tentang masa depan.

Hati kecil sangat mendorong untuk duduk didepan rumah semari menikmati senja. Sesaat kemudian sudah berada diatas teras dengan porselin putih-putih berbentuk kotak,  berdiri tegak menghadap kearah tenggelamnya matahari, sementara dihadapan ku ada tiga batang pohon pinang cukup tinggi, diluar pagar lalu lalang motor melewati, sedangkan langit-langit senja telah dihiasi warna kuning keemasan, warna langit sudah mulai berbeda dengan warna langit disiang hari dan ini bertanda pergantian waktu akan terjadi.

Akan tetapi, belum juga tanda-tanda penggeras suara yang mengeluarkan murottal dan azan dari mushalla. Semestinya jam segini sudah selayaknya terdengar suara ngaji. Kendatipun belum terdengar tetap menunggu, sekalian menatap keindahan langit senja dan senja menjelma menjadi irama pembuka pintu hati untuk terus bertasbih kepada sang maha kuasa hingga cahaya pagi. Sebagai insan memiliki jiwa romansa dan melankolis begitu terasa bahwa senja ini adalah seni menyodorkan ketenangan serta memunculkan gagasan.

Mulai terbuai dengan langit dan aura senja yang temeram. Seolah-olah hati kecil ditarik untuk menikmati senja dengan meminjamkan mata, merasakan ada sesuatu menyentuh jiwa, teringgap pula rasa sunyi, dan ada pula rasa berbeda hadir dalam relung-relung empusan nafas, tak tahu apalah makna dari rasa tersebut. Bahkan menyusup dalam tulang sum-sum. Semakin dipejam mata, semakin terasa aura senja membawa jiwa pada tempat yang berbeda untuk menghilangkan kegundahan. Tak jarang pula tersenyum memandang senja karena beranggapan bahwa sesorang yang masih dirahasiakan Allah  juga sedang terpaku menatap syahdunya senja.

Menikmati senja terkadang sebagai alternative menghilangkan penat dunia sering menyesakkan raga. Bahkan dibawah langit senja berbicara dengan Allah secara berbisik-bisik, agar setiap harapan-harapan terangkai dalam curahan bait-bait doa diperkenaankan dengan berkaah dan muhhabah.

Manakala sedang menghanyutkan seluruh raga terdengar suara azan membalut dunia. Walaupun suara tak begitu jelas terdengar, tiba-tiba lantunan syahdu menyeruak relung jiwa. Allahu Akbar…betapa maha besar Engkau Rabbi. Betapa indah suara kemenangan ini sehingga seketika mendadak membelah dan melilit hati, ini mengambarkan betapa dahsyatnya energi azan sedang beradu dengan suara hembusan angin. Saat itu juga, tanpa terasa teringat dengan suadara laki-laki “brothers” semasa remajanya sudah rajin mengumandang azan dimesjid kampung.

Bibir pelan-pelan mulai mengikuti suara azan dikumandang oleh mua’azzim. Ya Tuhan ku, jadikan hamba mu selalu mendengar panggilan Mu. Akui lantunan azan mampu mengikis kesombongan dan menghadirkan kesyahduan bagi para pencari Tuhan. Tidak jarang suara azan mampu menghantarkan hidayah bagi orang-orang mencintai kebenaran. Sejujurnya hidayah mudah diperoleh bilamana sungguh-sungguh membuka hati mencari kebenaran. Lusa dan seterusnya tetap betah menunggu keindahan senja dari Engkau Rabbi. Entah kenapa menaruh perhatian lebih dengan senja yang dihiasi lafaz-lafaz azan.

Menabur Cinta Dengan Kata:   “Taburkan Sejuta Kebaikan Selagi Masih Ada Kesempatan Tak Peduli Penilaian Yang Penting Itu Kebenaran Yang Memiliki Landasan Untuk Kebaikkan

%d bloggers like this: