Suka Duka masa-masa penelitian (Thesis)


Masa penyusunan tesis (penelitian) merupakan masa yang sangat menegangkan. bagaimana tidak tegang dan menakutkan!!! Masa penelitian (tesis) saya menghabiskan waktu (durasi) lebih kurang 1 tahun sejak mengcreate proposal, ujian hasi dan pendadaran. Menurut saya Ini termasuk  penelitian paling lama dan rata-rata teman juga menghabiskan waktu penelitian antara rangking tersebut. Sedangkan ketika Strata satu (S1) hanya 4 bulan penelitian selesai. namun tesis saya membutuhkan 1 tahun penelitian. hal ini disebabkan oleh beberapa factor mulai dari factor internal dan esternal. Dan mungkin juga dipengaruhi oleh metode penelitian yang digunakan, karena metode yang dipakai sangat mempengaruhi cepat atau lambatnya selesai penelitian. Tak kalah penting mempengaruhi cepatnya selesai tesis juga dipengaruhi oleh pembimbing.

Kemudian hal yang menakutkan masa-masa penelitian yaitu ketika ketemu dosen pembimbing mulai dech deg-degan mungkin lebih degdegan ketemu mertua kali ya hooooo…. Padahal sudah sering ketemu di ruang perkuliahan. tapi tetap kalau ketemu dosen pembimbing degdegan semakin menjadi, karena takut aja kalau dosen tidak menyetui tema penelitian atau ganti, takut  tidak mendapat referensi, terus bagaimana mempertahankan tulisan di depan pemimbing…”pokoknya rasa takut selalu menghantui selama tesis”.

Terkadang antara pemimbing dan mahasiswa memiliki pola pikiran berbeda dalam menyikapi tema dan solusi. Bahkan ada juga dosen pemimbing yang tidak pernah memberi saran ataupun coret-mencoret tesis, kalau sudah seperti ini mahasiswa jadi manut aja alias mengikuti maunya Dosen. Hal ini membuat hilang arah bahkan jadi bingung sendiri mahasiswa, kenapa? Jadi, tidak tahu content mana yang harus ditambah atau dikurangi. Nah yang lucunya lagi ketika tesis dicoret semua oleh dosen pemimbing tambah makin runyeemmm…^__^.  Tak kalah hebonya ketika tak pernah ketemu dosen pembimbing. hanya titip di loker besok diambil lagi loker yang sama.

Sedangkan sisi lain beberapa cobaan menghampiri, mulai permasalah terkecil hingga yang tak sanggup dibebani menurut Manusia. Nah ini dia hal yang seru dan gergetan masa-masa penelitian (tesis)

  1. Tidak bisa  ketemu dosen tanpa adanya konfirmasi terlebih dahulu padahal sudah tunggu berjam-jam demi untuk berkonsultasi. Hal ini banyak merisau dan mengeluh mahasiswa. Umumnya hampir terjadi pada siapapun pada masa bimbingan. Anehnya lagi adalah selalu menunda-nunda jam bimbingan mahasiswa malah ada yang lupa….”waleeehh”
  2. Ada salah satu teman saya harus mengetik ulang dari halam satu hingga halam 100. Gara-gara memory leptopnya rusak dan parahnya lagi file tesisnya tidak ada backup. Jadi, buat teman-teman sebaik mungkin mempunyai backup tesis, skripsi atau disertasi sebanyak mungkin. karena tidak tahu bahwa leptop akan bersahabat terus dengan kita. ada baik file tesis di simpan email kita masing-masing.
  3. Tiba-tiba sakit menyerang padahal merasa sehat. mungkin dampak stress dan pikiran yang menumpuk. hendaknya ketika masa penelitian rileks walaupun penelitian gagal terus dan tesis dirombak terus….^__^. ketika stress memacu menguasi tubuh maka rasionalitas agak susah untuk focus.
  4. Bahkan sebaliknya tiba-tiba dosen pemimbing yang terserang sakit atau dioperasi. apalagi dapat pembimbing sudah berumur biasanya sangat rentan terjadi seperti itu. karena hal ini memang terjadi pada masa-masa penelitian sehingga yang terjadi adalah tidak bisa bimbingan sampe waktu yang ditentukan oleh pemimbing kapan bisa ketemu. kalau seperti ini jasi stagnan.
  5. Tidak dapat referensi satupun walaupun sudah searching kemana-mana “Mulai dari jurnal, toko buku, pinjam teman atau media lainnya. nah ini jadi pusing banget maka hal ini juga menghambat untuk berkonsultasi dengan pemimbing.
  6. Pada masa seperti ini sangat membutuhkan keluarga dan teman untuk mendengarkan curahan hati. ada baiknya apa terasa dan dirasakan di luapkan agar tidak terjadi penyakit. sebab kita tahu orang yang sering menahan emosi gampang menimbulkan penyakit. Akan lebih elok luapan emosional kita curhatkan pada Pemilik segalanya.

Nah…

Yang terpenting walaupun cobaan silih berganti dan bertubi melanda jiwa-jiwa para peneliti. Jangan begitu stress menghadapi, hendaknya kita harus berpikir positif, dekat diri pada Allah, perbanyaknya melakukan hal-hal disunnah oleh dinul islam seperti sholat dhuha, zikir, qiyamulail dan sebagainya. Insyallah hal tersebut akan mempermudah jalan kita dalam penelitian. percaya atau tidak oleh teman-teman, disuatu tempat sebut saja perpustakaan waktu itu saya lagi mencari buku yang sangat penting untuk menambah argumentasi latar belakang penelitian saya. padahal sudah keliling-keliling dari rak yang satu sampe rak terakhir tak ketemu buku tersebut.

Entah dari mana tiba-tiba buku tersebut ada didepan saya duduk. kebetulan saat itu ada beberapa buku yang bertumpuk diatas meja perpustakaan dan apa yang membuat tangan saya untuk mengambil buku tersebut. kaget, ini kan buku saya cari dari tadi. Memang dibumi tidak ada kebetulan tapi yakinlah ini adalah pertolongan dari Allah. seperti dijanjikan oleh Allah siapa yang melaksanakan sholat dhuha maka akan saya penuh dan cukupi rezki dan kebutuhan merka. ini adalah salah satu keajaiban dhuha dalam kehidupan saya.

kemudian ada teman yang sangat rajin membantu kita baik berkaitan dengan birokrasi maupun bantu lainnya. sehingga dia dipermudah oleh Allah pada masa-masa penelitian. kenapa saya katakana dia dipermudahkan dimana kita sudah beberapa kali bimbingan belum juga diizin penelitian. sedangkan teman yang suka menolong ini baru 3 kali pertemuan langsung dipersilahkan penelitian. yang ajaibnya adalah sekali bimbingan hasil langsung bisa pendadaran. sungguh amazing banget, kalau dilihat dari content dan metode belum begitu fix (maksimal). Maka dari itu hendaklah selama penelitian atau dalam permasalahan apapun tidak hanya mementingkan diri sendiri, kalau ada teman butuh pertolongan tolong lah dengan seikhlas mungkin.

Sedangkan teman yang lain punya cerita yang berbeda pula, dimana ia diberi cobaan oleh Allah yaitu dosen pemimbing sakit dan otomatis tak bisa konsultasi. tapi apa daya ternyata bisa ujian akhir juni karena dosen pemimbing sebuh awal juni sedangkan tesisnya bisa dikatakan sudah finall sejak februari. sehinga apa yang dilakukan teman ini adalah memperbaiki tesis dan berkonsultasi pada dosen lain untuk meminta saran apa lagi harus di tambahkan. Subhanallah setelah mendapat cobaan tersebut apa  yang diraih oleh teman saya adalah lulus dengan nilai memuaskan (A) dan dipuji oleh dosen penguji dengan pernyataan seperti berikut “Tesis Anda Sudah Melebih Karekteristik Tesis Bisa Dikatakan Sudah Mendekati Penulisan Disertasi”.  Jika kita berandai-andai, seandainya dosen pemimbing tidak sakit mungkin teman saya tidak begitu serius mengoreksi tesis dan antusias minta saran kesana-keseni. ini adalah salah satu terkadang cobaan menghampiri kita memberi dan mempengaruhi serta keseriusan pada kita untuk semakin semangat menyelesaikan tesis.

Maka hendaklah kita positif thinking selalu dengan cobaan yang datang, menghampiri dan singah kehidupan merupakan bagian keberhasilan kita. yakinlah kalau kita tidak pernah mengalami cobaan maka tidak akan tahu bagaimana cara dan manisnya kebahagian tersebut. bahkan setiap orang pasti mengalami permasalahan dan cobaan seperti kita alami. Hanya yang berbedanya adalah komposi dan bentuk dari permasalahan yang kita hadapi. serta yang terpenting adalah bagaimana cara kita memfokuskan diri untuk mencari solusi dari permasalahan tersebut. Bukan lari dari permasalahan karena hal tersebut tidak menyelesaikan masalah malah menambah masalah. seperti paparan Ibrahmim elfiky seorang traniner internasional serta telah menerbit buku best seller skala internasional  berikut ini “Kalau bukan karena kepedihan, tidak akan ada ketenangan. kalau bukan karena penderitaan, kita tidak akan mengenal arti kebahagian. segala sesuatu memiliki tatanan dan kekuatan”

Disinilah saya menyadari bahwa begitu luar biasanya para pejuang  dalam dunia pendidikan. Antara harapan dan pengorbanan menjadi satu dalam logika. Begitu banyak pengorbanan harus dikorban mulai pengorbanan waktu, kesehatan, pikiran dan keikhlasan. Dari sini pula saya sangat menghargai orang-orang yang berproses, jangan meremehkan proses siapapun dalam mengapai impian. Jangan pernah kita hanya menilai dari hasil saja, akan lebih baik dan bijak kita menilai serta mengapresiasi orang dari proses. lewat proses tersebut akan terlihat kesungguhan dan niat seseorang.

Semoga cerita singkat ini dapat jadi ambil hikmah “ibroh” untuk teman dalam masa penelitian “skripsi, tesis dan disertasi” bisa menjalankan dengan ikhlas serta tawakal pada Allah. Karena antara suka dan duka selama penelitian (tesis) bercampur (mixed) dan berdampingan. Mungkin teman-teman juga pernah mengalami bahkan merasa bagaimana repot dan butuh focus sangat tinggi agar peneletian dapat diselesaikan dengan deadline.

Ingat kunci sangat sederhana yaitu dekatkan diri pada Allah, perbanyak melaksanakan Sunnah, tolong menolong dalam kebaikan, zikir, positif thinking dan serahkan hasilnya pada Allah bagaimana dan apapun hasil dari proses yang kita kerjakan terimalah dengan tersenyum. Jangan pernah menganggap diri sebagai manusi bodoh, membandingkan hasil kita peroleh dengan orang lain. Yakinkan diri ini adalah terbaik menurut Allah. Sebab Allah maha tahu dan selalu menciptakan ciptaanNya dengan keseimbangan “ada awal pasti ada akhir, ada sedih pasti akan bahagia”.

Insyallah jika sudah menjalankan itu semua dengan ikhlas, ingat pertolongan Allah semakin dekat, kebahagian akan menghampiri dan tetap semangat mencapai cita-cita. Amin

triangulasi=Triangulasion


Tujuan dari triangulasi ada dua.

Pertama, ketika dua atau metode yang digunakan, penelitian yang sama mampu mengatasi aspek yang berbeda dari pertanyaan penelitian yang sama, sehingga memperluas cakupan proyek. Menurut hittleman dan simon, satu prosedur yang digunakan oleh para peneliti kualitatif untuk mendukung interpretasi mereka adalah triangulasi, sebuah prosedur untuk cross-memvalidasi informasi. Triangulasi adalah mengumpulkan informasi dari beberapa sumber tentang peristiwa atau perilaku yang sama. Hal ini meningkatkan kualitas penelitian tiba pada kesimpulan yang jelas dengan menggunakan beberapa cara yang berbeda lebih cenderung menjadi benar dan diterima seperti itu.

Kedua, dengan menggunakan metode dari penelitian yang berbeda paradigma (positivis dan interpretivist) peneliti mampu untuk mengkompensasi kelemahan yang melekat dalam setiap pendekatan. Misalnya, paradigma kualitatif memungkinkan peneliti untuk memiliki pemahaman mendalam tentang perspektif dari mereka yang terlibat dalam peristiwa-peristiwa, tetapi juga … rentan terhadap kritik bahwa ia cenderung untuk membatasi ruang lingkup proses pengumpulan data, dan menghasilkan sebuah mikro – perspektif dan di tingkat kesimpulan reduksionis.

Dengan metode pengumpulan data triangulating terutama dengan menggunakan metode kuantitatif dalam hubungannya dengan metode kualitatif, peneliti dapat memanfaatkan kekuatan-kekuatan unik dari masing-masing sehingga memberikan baik tingkat makro dan mikro perspektif dalam satu proyek.

Contoh awal yang menarik triangulasi dalam penelitian ilmu informasi diberikan oleh dervin, dalam sebuah proyek yang dimanfaatkan baik metodologi kuantitatif dan kualitatif dalam mempelajari pencarian informasi. Sejak dia bekerja di awal 1980-an. triangulasi telah menjadi jauh lebih lumrah dalam penelitian perpustakaan dan informasi pada umumnya, dan peneliti tidak lagi akan terkejut dengan deskripsi seperti beberapa strategi sebagai berikut.


Beberapa metode pengumpulan data yang digunakan. Dilakukan wawancara pribadi dengan kepala departemen referensi. Operasi dua departemen referensi yang diamati oleh peneliti dan analisis dokumen kebijakan. Kuesioner terstruktur memungkinkan, tanggapan terbuka dibangun dan digunakan untuk wawancara.

Keterbatasan penelitian perpustakaan sebelumnya


Sayangnya, catatan mengenai penelitian perpustakaan dan informasi ilmu pengetahuan tidak seperti yang diharapkan. Sangat  mudah untuk menemukan kritik penelitian perpustakaan daripada pujian. menyatakan “sebagian besar proporsi penelitian kepustakawanan tidak seimbang dalam kualitas dan terbukti lemah secara metodologis …” Shaughnessy (1976) bahkan lebih kritis dalam berpendapat bahwa secara tradisional bagian bagian penelitian memuat lebih  dari apa yang tidak benar-benar layak disebut penelitian.  Cuadra (Converse, 1984, p.236) mengidentifikasi kekurangan dalam ilmu perpustakaan dan informasi penelitian sejauh menyangkut tujuan. Ia mencatat “kegagalan untuk mengajukan pertanyaan yang tepat dan membangun landasan teoritis yang tepat untuk riset atau aplikasi berikutnya”.

Martyn dan Lancaster (1981, p.193) menunjuk bahwa  banyak literatur awal ilmu perpustakaan terlalu banyak didasarkan pada pendapat, bukan bagaimana seharusnya sebuah penelitian dipertimbangkan. ” Shera (1964, hal.147) mencatat bahwa penelitian perpustakaan mempunyai ketergantungan yang berlebihan pada pengamatan lokal dan data yang terbatas.: Garrison (1980), sementara mengakui bahwa banyak kemajuan telah dibuat dalam penelitian perpustakaan umum di dekade sebelumnya, kemudian merinci beberapa kelemahan penelitian sebelumnya, seperti yang berikut:

  1. Peneliti belum menyebarluaskan hasil mereka secara memadai;
  2. Praktisi tidak menetapkan hasil penelitian yang telah dilaporkan
  3. Pustakawan terlalu puas dengan laporan  yang dibuat dari pada sebuah penelitian;
  4. anggota jurnal penelitian  terlalu terbatas;
  5. Disertasi jarang yang subyeknya menghubungan dengan penelitian sebelumnya atau berikutnya
  6. Dampak dari penelitian yang dilaporkan telah melemah karena minimnya kontrol bibliografi  dan ketersediaan eksemplar yang tidak memad

. Gatten (1991) penelitian ilmu perpustakaan dikritik karena gagal memanfaatkan literatur riset dan metode disiplin lain dan  terlalu sering menggunakan teknik analisis canggih dan kerangka teoretis terbatas.  Trahan (1993, p.73) menyatakan bahwa penelitian perpustakaan adalah pada tahap yang relatif primitif dalam perkembangannya jika dibandingkan dengan penelitian literatur disiplin lain  walaupun dapat dikatakan ada peningkatan kegiatan penelitian bidang kepustakawanan.

Singkatnya, meskipun ada beberapa kemajuan, tetapi kebutuhan akan penelitian yang berkaitan dengan kepustakawan banyak dibutuhkan. Perlu disadari bahwa keterbatasan penelitian sebelumnya bukan satu-satunya alasan untuk  melakukan penelitian yang lebih baik. Ada sejumlah pembenaran positif agar lebih banyak penelitian yang dilakukan sebagai penelitian dasar.

MASA DEPAN PENELITIAN PERPUSTAKAAN


Busha (1981, P.2) mencatat kelemahan penelitian yang berkaitan dengan perpustakaan setidaknya sebagian dapat dijelaskan oleh fakta “agar penelitian di bidang kepustakawanan masih relatif muda.  Konsepsi yang jelas tujuan, sasaran dan metodologi penelitian ilmu perpustakaan hanya sekarang mulai menjadi kokoh dirumuskan. Itu tidak muncul jelas, bahwa hal itu akan menjadi lebih dan lebih “perlu menggunakan metodologi lain khususnya yang disiplin sosiologi, psikologi, ekonomi, linguistik, sejarah dan untuk mempekerjakan lebih umum berlaku metodologi (Vikery, 1975, hal.158) untuk mempelajari banyak masalah yang dihadapi kepustakawanan saat ini.

Tetapi siapa yang akan memenuhi syarat untuk melakukan penelitian jenis-jenis yang dibutuhkan bagaimana mereka akan dilatih dan apakah praktisi akan diperlengkapi untuk membaca dan memanfaatkan penelitian mereka? Seperti yang dinyatakan Shera (Grotzinger, 1981, pp.45-46) Khusus bagian dari program studi untuk mahasiswa pascasarjana di kepustakawanan seharusnya menjadi memperoleh sebuah pengetahuan tentang prinsip-prinsip dan metode penelitian yang diterapkan pada penyelidikan masalah-masalah perpustakaan , bersama-sama dengan kemampuan untuk mengevaluasi hasil penelitian, terutama penelitian di bidang kepustakawanan .. “sebagai Muller (1967, p.1129) wrote: Mahasiswa harus belajar untuk menghargai kontribusi riset dan mendesak untuk melepaskan diri dari peneliti itu adalah sesuatu yang esoterik, jauh atau tidak praktis. Namun, sebagian besar mahasiswa melihat program LIS terutama berkaitan dengan penyediaan profesional, bukan akademis, pelatihan (Converse, 1984.p.238) dan terlalu sedikit praktisi pendidikan dalam penelitian proses penciptaan pengetahuan (Robbins, 1990, hal.127)

Program LIS tidak memiliki seluruh tanggung jawab untuk pelatihan peneliti kompeten, namun. IItu juga merupakan tanggung jawab asosiasi profesional dan dalam beberapa kasus, organisasi penelitian, untuk menyediakan kesempatan pendidikan lanjutan. Relevan kursus, seperti yang dalam analisis statistik, dapat diambil di departemen luar program daftar bila diinginkan atau diperlukan dan pada akhirnya tentu saja adalah tanggung jawab akan peneliti untuk mengambil keuntungan dari pendidikan berkelanjutan dan program pengembangan staf dan untuk melakukan dirinya kepada suatu program substansial studi diri.

Namun, jika perpustakaan dan pengusaha lain akan mengharapkan pustakawan untuk membekali diri mereka untuk melakukan penelitian, maka mereka harus siap untuk memberikan sesuai, insentif, dukungan dan penghargaan. Sebagai contoh, waktu dirilis, khusus cuti panjang daun dan dapat diatur untuk memungkinkan lebih banyak waktu untuk penelitian.  Dukungan administratif dapat disediakan melalui kenaikan gaji, di rumah pelatihan, dan dukungan keuangan dan administrasi untuk proyek-proyek penelitian.

Sebagai kesimpulan, pernyataan Goldhor dilakukan lebih dari dua dekade lalu, masih cincin benar: “Librarianship hari ini terutama di kebutuhan umum penelitian ilmiah dorong yang dirancang untuk mengungkap” (Goldhor, 1972, P.2) Dengan kata lain, jika kita untuk mewujudkan pertumbuhan profesional yang dibutuhkan oleh bidang perpustakaan dan ilmu informasi, perhatian kita harus semakin ditujukan untuk penelitian yang lebih mendasar dan kurang diterapkan “(shaughnessy, 1976, 52).

Untungnya, ada tanda-tanda yang menjanjikan. Asosiasi profesional terus membangun lebih banyak dan lebih banyak unit yang bersangkutan dengan penelitian. Pada tahun 1996 konferensi tahunan ALA, setidaknya selusin dua lusin program dan pertemuan komite secara langsung berhubungan dengan penelitian dan statistik. I Pada 1984, sebuah sampel acak dari pustakawan akademik diminta untuk menanggapi sebuah dokumen daftar 90 kemungkinan prioritas untuk Asosiasi perguruan tinggi dan penelitian perpustakaan (Lynch, 1985). Dua belas dari item-item yang berkaitan dengan penelitian. Sekitar 74 persen responden menganggap hal itu diinginkan untuk penelitian menjadi lebih kuat dipublikasikan dan dipromosikan.  Dalam editorial di tahun 1986 strategi Riset (Hogan & George, 1986, hal.58), para penulis menyatakan bahwa strain baru bermunculan pemikiran di bidang kepustakawanan bunga pada bagian berlatih pustakawan dalam melaksanakan penelitian yang serius.

McClure dan Bishop (1989) tanya 23 peneliti terkemuka dalam ilmu perpustakaan dan informasi tentang status penelitian di lapangan. Mereka menyimpulkan bahwa itu telah meningkat sedikit pada tahun 1980 dan menyatakan “dijaga Optimisme” tentang status masa depan penelitian dalam ilmu perpustakaan dan informasi. Setidaknya dua penelitian (Peritz, 1977; sekarang, 1985) menunjukkan bahwa jumlah artikel penelitian diterbitkan meningkat (pikir ada beberapa bukti bahwa proporsi artikel penelitian dalam jurnal-jurnal inti telah menurun sejak tahun 1975). A 1991 book edited by McClure and Hernon was dedicated to improvement of library and information science research. Sebuah buku yang disunting oleh 1991 McClure dan Hernon didedikasikan untuk peningkatan ilmu perpustakaan dan informasi riset. It Provided an overview of LIS research, considered its practical context, and discussed issues and concern related to research in library and information  science. Ini Asalkan LIS ikhtisar penelitian, dianggap konteks yang praktis, dan membahas isu-isu dan keprihatinan yang berkaitan dengan penelitian di perpustakaan dan ilmu informasi.

Laporan tahunan ALA perpustakaan dan pusat penelitian terus menunjukkan aktivitas yang cukup besar dalam penelitian arena. Eisenberg menulis pada tahun 1993 yang dapat kita bangga dalam penelitian yang telah dilakukan di daerah program media perpustakaan sekolah. Dalam tiga editorial, Hernon (1992a, 1992b) dan Hernon dan Schwartz (1993) berpendapat bahwa beberapa dakwaan perpustakaan penelitian ini didukung oleh beberapa referensi ke LIS sastra; LIS peneliti telah digambar di prosedur dikembangkan dalam disiplin lain dan LIS peneliti telah memberi kontribusi pada pengembangan metode inovatif. Panitia Perpustakaan nasional pertama Research Seminar, Terjadwal untuk November 1-2, 1996, menerima surat-surat proposal untuk 83 mewakili berbagai metodologi, termasuk analisis isi, historiografi, path analisis, survei, model, dan analisis meta. TTopik penelitian sama-sama beragam dan sering lintas disiplin.

Terdapat makin banyak bukti bahwa kualitas, jika tidak kuantitas, perpustakaan penelitian adalah memperbaiki, dan mudah-mudahan, ada peningkatan pengakuan “bahwa hasil penelitian dalam spektrum yang luas baik di luar upaya memperluas kepustakawanan akan, dalam skala besar, menentukan arah masa depan layanan perpustakaan dan sifat dari profesi itu sendiri “(American Library Association, 1970)

Dasar pemikiran DALAM PENELITIAN di bidang ILMU PERPUSTAKAAN


Pertumbuhan profesi

Salah satu tujuan utama dari penelitian dasar adalah untuk menciptakan pengetahuan baru. Atau, sebagaimana dinyatakan oleh Kunge Horst, Belajar untuk menguasai secara teoritis dan aplikasi praktis, aturan-aturan dasar penelitian menciptakan landasan terbaik untuk melanjutkan pertumbuhan dalam sebuah profesi. (Busha & Harter, 1980, p.6) bahkan lebih mendasar bahwa perlu pengujian lapangan untuk kemajuan profesi.

Di samping itu, kebutuhan untuk memajukan profesi melampaui ketergantungan pada data deskriptif dan menetapkan prinsip-prinsip dan teori-teori dimana  perpustakaan dan sistem informasi dan jasanya dapat didasarkan (Vickery, 1975, p.155)

Mereka prihatin tentang status profesi ilmu perpustakaan dan informasi (LIS) dan memberi komentar tentang perlunya lebih banyak dan lebih baik melakukan penelitian dasar.  Secara singkat penelitian  di bidang ilmu perpustakaan dan informasi  sangat penting untuk memecahkan masalah-masalah profesional, mengembangkannya untuk kemajuan perpustakaan.

MANAJEMEN

Sebagian besar pengetahuan diciptakan sebagai hasil penelitian dasar yang cenderung memiliki aplikasi praktis untuk perbaikan praktek-praktek yang terjadi di perpustakaan  (Busha dan Harter, 1980).  Swisher (1986, p.176) berpendapat bahwa tidak ada lagi kegiatan yang penting daripada memperoleh informasi baru yang mungkin sekarang atau suatu saat nanti tujuan membantu meningkatkan pengambilan keputusan profesional kami. Dengan mengasumsikan tanggung jawab penelitian praktis mungkin adalah peran paling penting pustakawan dapat menerima. Penerapan temuan penelitian harus menghasilkan “peningkatan pengambilan keputusan, lebih berpengetahuan wawasan ke dalam masalah-masalah perpustakaan kekayaan, lebih baik dan lebih bertanggung jawab layanan dan program dan masih pematangan LIS sebagai suatu disiplin / profesi (Hernon & Schwartz, 1995)

Meskipun sebagian besar penelitian untuk pengambilan keputusan mengambil bentuk penelitian terapan itu biasanya mengacu pada prinsip-prinsip penelitian dasar. McClure (1988, p.12) mengamati bahwa “mengambil penelitian terapan teori dan konsep-konsep dari penelitian dasar dan metode formal penyelidikan, menyelidiki, fenomena dunia nyata. Dengan kata lain pemahaman yang solid tentang proses penelitian dasar harus lebih baik memungkinkan seseorang untuk melakukan penelitian terapan suara. Sebagai Goldhor (1972, pp.1-2) menunjukkan, Begitu seseorang telah belajar metode ini [penelitian ilmiah] dia dapat memahami dan menggunakan salah satu metode yang kurang ketat, tetapi belajar yang terakhir tidak akan mempersiapkan satu benar-benar untuk menggunakan mantan.

Bacaan LAPORAN PENELITIAN

Manfaat lain yang masuk akal memiliki penguasaan ilmu dasar metode penelitian adalah bahwa ia harus mengizinkan orang untuk mengerti dan mengevaluasi secara kritis laporan penelitian orang lain. Para pembaca yang memahami proses penelitian pertanyaan akan lebih banyak tentang sastra secara umum dan bekerja dengan benar mengidentifikasi keterbatasan literatur. Beberapa pustakawan khususnya pustakawan khusus, diharapkan untuk mengevaluasi atau layar laporan penelitian (yaitu penelitian yang berfungsi sebagai perantara) untuk mereka klien. Sayangnya seperti Sullivan (1978, p.511) telah puas, tidak hanya pustakawan yang praktisi cenderung terlalu sibuk dan tidak terampil untuk melakukan riset mereka sendiri, tetapi yang lebih serius, mereka juga baik tidak berpengetahuan atau tidak mau menerima atau tidak mampu menilai kritis penelitian orang lain di bidang kepustakawanan. “Sampai mayoritas praktisi lapangan dapat memahami dan menerapkan hasil penelitian lain, profesi cenderung tidak menyadari banyak manfaat dari usaha-usaha riset.  Banyak penulis, termasuk Busha dan Harter (1980) dan peternak (1982) berpendapat untuk kebutuhan untuk mengevaluasi dan menerapkan penelitian yang dipublikasikan.

SERVICE UNTUK PENELITI

Namun keuntungan lain untuk memiliki pengetahuan dasar tentang metode penelitian paling tidak bagi orang-orang pustakawan yang melayani para peneliti, adalah pemahaman yang lebih besar dari kebutuhan para peneliti yang disediakan oleh kesadaran. Hanya ketika pustakawan mengetahui proses dasar yang memanfaatkan seorang peneliti, ia dapat sepenuhnya mengantisipasi dan memenuhi kebutuhan penelitian. Sebuah Melalui dan berlanjut landasan pribadi dalam pengalaman pembelajaran dan penelitian dalam pengaturan akademik menyiapkan kita untuk bergabung dengan mahasiswa dan fakultas dalam tindakan kreatif yang dapat penelitian bibliografis.  Dalam Tambahan, status pustakawan kemungkinan untuk mengambil manfaat dari pengetahuan tentang teknik dan para peneliti tersebut untuk dapat membicarakannya secara cerdas dengan klien nya.  Grover dan hale (1988) menyatakan bahwa pustakawan harus mengasumsikan peran proaktif dalam penelitian fakultas dan dipandang sebagai pemain kunci dalam proses.

PRIBADI MANFAAT:

Mungkin yang paling penting di antara manfaat yang dapat diharapkan untuk mewujudkan dari suatu studi tentang metode penelitian adalah kemampuan untuk melakukan penelitian.Bagi banyak pustakawan, terutama dalam pengaturan akademis, kegiatan penelitian tidak hanya diinginkan tetapi suatu keharusan. Sejumlah lembaga akademik mengharapkan pustakawan profesional mereka untuk memenuhi persyaratan yang sama untuk promosi dan jabatannya sebagai melakukan Fakultas pengajaran biasa dan ini biasanya meliputi penelitian dan penerbitan. Jika ini pustakawan dan lain-lain, adalah untuk melakukan jenis metode penelitian yang ketat sangatlah penting.

Kesadaran akan metode dan desain penelitian juga harus membuktikan membantu untuk memilih menyiapkan proposal penelitian dalam rangka untuk mendapatkan dukungan finansial bagi proposal riset mereka dalam rangka untuk mendapatkan dukungan finansial bagi kegiatan penelitian mereka. Sebagai tambahan, telah menunjukkan bahwa kajian penelitian metode dapat meningkatkan kemampuan seseorang untuk berpikir kritis dan analitis dan bahwa perpustakaan keterlibatan dalam penelitian staf dapat meningkatkan semangat kerja dan meningkatkan status perpustakaan dalam masyarakat.

%d bloggers like this: